Tidak ada alasan surplus beras tidak diraih di Sulawesi selatan khususnya di kabupaten Pinrang sebab komponen teknologi yang disiapkan peneliti dibawah ke Musyawarah Tudang Sipulung. Tradisi tudang sipulung di Pinrang digelar menjelang musim tanam setiap tahun. Yang pelaksanaannya berjenjang dari tingkat kabupaten hingga provinsi dihadiri oleh peneliti, penyuluh pertanian, petugas pengendali hama dan penyakit tanaman, pejabat pemerintah, anggota legislative, tokoh agama, tokoh adat, pallontara, dll. Mereka duduk bersama untuk menentukan paket teknologi apa yang tepat digunakan sesuai kondisi setempat, pengaturan jadwal tutup buka pintu air terkait jadwal tanam di masing-masing wilayah hingga bahasan prediksi OPT dan penanggulanggannya. Semua kesepakatan dari hasil tudang sipulung itu dikawal peneliti dan penyuluh pertanian di tingkat lapangan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulsel yang punya teknologi terus melakukan kajian dan pendampingan inovasi teknologi kepada petani. Sebagai lembaga dibawah Litbang Pertanian Kementerian Pertanian yang ada di daerah maka BPTP menjalin hubungan kerjasama dan koordinasi dengan pemerintah provinsi, kabupaten dan kota serta intansi terkait di wilayah kerjanya. Dalam peranannya untuk meraih surplus 10 juta ton beras maka BPTP Sulsel melaksanakan beberapa program antara lain uji adaftasi varietas padi unggul dan pendampingan Sekolah Lapang PTT padi dan Pengelolaan Tanaman Terpadu Spesifik Lokasi (PTTSL) di beberapa kabupaten termasuk Pinrang. Kepala BPTP Sulsel Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si ketika hadir di musyawarah tudang sipulung kelompoktani di kabupaten Pinrang, Senin (2/04) mengatakan untuk meningkatkan produktivitas padi maka ada beberapa komponen teknologi yang harus diterapkan oleh petani. Selain memilih varietas unggul yang spesifik lokasi juga petani perlu memperbaiki cara tanam yaitu dengan teknologi jajar legowo 2:1. "Begitu pentingnya merubah kebiasaan petani untuk beralih dari cara tanam konvensional ke cara tanam legowo 2:1 maka di Papua dibuatkan perda sehingga petani yang melanggar dikenakan sanksi," kata mantan kepala BPTP Papua ini. Menurut Dr. Ir. Fadjry Djufri, M.Si, faktor lokasi dan perbedaan musim juga berpengaruh terhadap capaian surplus 10 juta ton beras, karena antara satu wilayah kecamatan memiliki status hara tanah yang berbeda sehingga diperlukan rekomendasi pemupukan yang spesifik lokasi. Karena itu BPTP melakukan pengujian status hara tanah sawah dan memberi bantuan alat PUTS kepada BPP model. Demikian juga antara musim hujan dengan musim kemarau perlu ada penyesuaian varietas padi seperti varietas inpari 1-6 direkomendasikan untuk lahan sawah yang tergenang dan untuk daerah yang kesulitan air atau pada musim kemarau direkomendasikan varietas padi inpago 4-6. Demikian juga daerah sawah yang beririgasi teknis dianjurkan menanam inpari 10 yang relative tahan kekeringan. Karena itu agar produktivitas padi meningkat maka perlu ada pergiliran varietas dari varietas lama ke varietas baru seperti ciliwung dan ciherang perlu diganti dengan varietas inpari 4 dan inpari 7 yang rasa nasinya tidak beda dengan ciliwung. Yang menjadi persoalan penyuluhan selama ini para penyuluh sulit meyakinkan keunggulan dari varietas baru tersebut kepada petani, karena petani pun sudah turun-temurun menggunakan varietas tertentu seperti di kabupaten Pinrang petani lebih senang menanam varietas ciliwung dibanding varietas unggul baru yang belum ia kenal. "Disinilah peran peneliti dan penyuluh untuk melakukan pendampingan kepada petani agar mau mencoba inovasi teknologi," kata Fadjry Djufry. Peran peneliti BPTP melakukan pendampingan teknologi dengan berkoordinasi dan membimbing penyuluh yang ada di Bakorluh. Di tingkat kabupaten BPTP menempatkan peneliti 3-4 orang secara bergilir melakukan posko di beberapa kabupaten sentra produksi beras Sulsel. Para peneliti tersebut kerjasama dengan para penyuluh lapangan mendampingi petani dalam menerapkan teknologi yang direkomendir oleh badan litbang pertanian setelah melalui pengujian spesifik lokasi. Di kabupaten Pinrang kata Fadjry para peneliti disiapkan ruang khusus oleh Bupati sehingga mudah koordinasi dengan instansi teknis terkait. Dari hasil uji adaftasi yang dilakukan selama 3 tahun di beberapa kabupaten maka BPTP merekomendasikan varietas tertentu di masing-masing daerah yang telah diuji seperti Pinrang cocok untuk varietas inpari 7, 8 dan inpari 13. Pada musim tanam Oktober-Maret 2011-2012 penggunaan varietas anjuran yang dikombinasi dengan teknologi pengelolaan hara spesifik lokasi dan tekonologi perangkap tikus system rintangan mampu meningkatkan produktivitas 7-10 ton hasil ubinan/ha. Bila dibanding pada musim tanam sebelumnya ada tambahan produksi sekitar 2-3,5 ton/ha. " Uji adaftasi varietas yang dikawal peneliti dan penyuluh di Pinrang mampu meningkatkan produktivitas antara 7-10 ton ubinan bahkan ada yang lebih dari 10 ton/ha," kata kepala BPTP Sulsel. Ditambahkan Fadjry untuk memperkuat peranannya dalam meraih surplus 10 juta ton beras maka tahun ini BPTP Sulsel ada tugas tambahan untuk memproduksi benih sumber yang saat ini telah tersedia calon benih sebanyak 90 ton dari berbagai varietas.(Abdul Salam Atjo, Penyuluh di BP4K Pinrang)