Loading...

"Pemberantasan Hama Tikus " pada kegiatan BPP MODEL Kec.Samalantan Kab.Bengkayang

 "Pemberantasan  Hama Tikus " pada kegiatan BPP MODEL Kec.Samalantan Kab.Bengkayang
Tikus adalah musuh petani,dari tahun ketahun yang selalu menjadi permasalahan dalam bercocok tanam adalah serangan hama tikus. Sekitar ± 25% dari hasil petani hilang disebabkan oleh serangana tikus.jika hal ini tidak dikendalikan maka petani akan mengalami kerugian dan tentu akan berakibatpada penurunan produksi hasil panen. Apabila hasil dalam 1 gantang = 500 Kg, berarti kehilangan hasil (Loosses) nya adalah 125 Kg.Dan jika perKg padi di hargakan Rp 2.500 rupiah maka kerugian yang dihadapi oleh petani dalam satu gantang adalah 125 Kg x Rp.2500 =Rp.312.500. dan jika dalam satu luasan hektar petani menanam padi di gunakan dengan gantang maka padi yang dibutuhkan adalah 6 gantang ( 600 Kg) . berarti kerugian petani dalam satu hektar adalah 600 x Rp 312.500 = Rp 187.500.000. Mari kita renungkan dan pikirkan bersama berapa banyak petani yang akan kehilangan hasil panen oleh ulah serangan hama Tikus yang ada di kabupaten Bengkayang ini. Berikut adalah beberapa cara untuk dapat mengendalikan serangan hama Tikus. Sifat - sifat Tikus dan siklus kehidupannya: Sebagai Binatang Pengerat. Kemampuan berjalan dari lubang sarang ke tempat mencari bahan makanan mencapai± 2000 meter Bila makanan tidak tersedia,populasi tikus akan berpindah ketempat yang terdekat dengan sumber air , berdiam dipohon - pohon dan semak belukar. Pada keadaan lingkungan ynag tidak sesuai tikus dapat berpindah secara ekplosit (dalam jumlah besar) dan dapat menyerang tanaman dalam waktu singkat. Tikus merupakan binatang yang social karena jika ada sumber makanan ia akan memberitahukan kepada sesama tikus lainnya. Dalam pengembaraannya tikus menggunakan satu jalan yang diirintis dan akan merintis jalan lain jika jalan yang awal diganggu. Tikus memiliki indera penciuman yang sangat peka. Aktifitas tikus terjadi pada saat malam hari pukul 19.00 -20.00 dan pada dini hari pukul 04.00 - 05.00 Perkembangbiakannya sangat cepat dan dari sepasang tikus dewasa akan menghasilkan anak ± 2.048 ekor dalam setahun. Cara Pengendalian hama tikus scara terpadu (PHT) : Kultur Teknis : menanam secara serempak, pergiliran tanaman dengan tananaman yang kurang mengandung karbohidrat. Biologis : Melestarikan musuh alami tikus yaitu pemeliharaan buurng hantu dan menggunakan anjing dan kucing saat mengolah tanah. Mekanik : Menggunakan berbagai pernagkap dengan kombinasi pemagaran dan perangkap.atau dengan cara grobyokan dll. Secara fisik : Menggenangi areal atau lakukan pembakaran areal. Kimiawi : yaitu menggunakan program peracunan dan fumigasi (jos tikus) Sesuai petunjuk PHT pengendalian hama tikus harus berdasarkan pengamatan,evaluasi dari musim terencana,berkelanjutan,terprogram,terorganisir, serta melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan kelompok massa. Pada aflikasi teknik pengendalian harus dipadukan secara serasi. Maka sesuai kegiatan dilahan usaha tani, upaya pengendalian adlaah sebagai berikut: Saat Pratanam : Membersihkan gulma yang ada dipematang,saluran irigasi,membongkar semua liang tikus , grobyokandan pengemposan asap,belerang serta dengan program lanjutan yaitu penggunaan racun akut (cepat proses) bila serangan diambang rawan atau serangan berat. Saat tanam Bertanam secara serempak dalam satu hamparan dengan selisih waktu 1 - 2 minggu pada lahan ynag benar - benar bersih dan siap tanam. Setelah Tanam Pengendalian dengan pestisida sesuai denganambang ekonomis dan hasil pemantauan yang cermat. Ambang ekonomis adalah ketepatan tentang mengambil keputusan kapan dibuuthkan menggunakan npestisida harus digunakan. Contoh : Intensitas serangan 5% diakhir musim lalu pengendalian sejak awal musim berikutnya,5 5 diakhir musin lalu dan kerusakan awal musim belum dapat ditaksir.pemantauan dilanjutkan 5% tercapai diawal musim.Peracunan dengan rodentisida kronis(anti koogulant)harus segera dilakukan. Pada daerah serangan kronis perlu dilakukan peracunan yang berkesinambungan dengan anti koogulant dilanjutkan dengan pengemposan dan pemasangan perangkap. Kerusakan pada pase bunting: Peracunan tidak akan efektif sebab tikus akan lebih suka pada tamanan padi ,yang berarti bila kerusakan tidak diketahui sejak dini maka serangan tikus sulit untuk diatasi pada musim tersebut. 4. Program Peracunan dengan racun akut. Program ini kurang dianjurkan ( dilakukan jika terdesak) Pengumpanan awal selama 5 hari tampa menggunakan racun(beras Ubi,kelapa ynag dicampur dengan 1-2 % minyak kelapa) Jumlah wadah umpan 10 - 20 / m2 diletakkan dipematang sawah sekitar 1 meter dari jarakantar wadah. Setelah 5 hari racun ditambah. Wadah harus terlindung dari hujan dan agar tidak terganggu/tergeser pada saat peletakan umpan jangan menginjak jalan tikus, benamkan bekas wadah dalam tanah setelah pelaksanaan peracunan. 5. Program Peracunan dengan racun Kronis (anti Koogulant) Prinsip kerjanya sama dengan peracunan akut,hanya jumlah wadah 5 - 10 / 1000 m2 tiap wadah diisi dengan 6 sendok umpanberacun dan tampa pengumpanan pendahuluan. Setelah 3 hari tambah lagi umpannya Wadah umpan diperiksa 2 kali seminggu disepanjang musim, ganti umpan yang using ,basah, dan menjamur. Memasuki masa primordia bunga ,tikus lebih sennag dengan tanaman padi. Oleh karena itu ubahlah umpan yang disenangi . karena itu hentikan peracunan dan teruskan dengan cara lain yaitu sanitasi lingkungan. (BPP-KP Kab.Bengkayang Sudrajad Ichsan- Mutiara)