Loading...

PENGELOLAAN TANAMAN SAYURAN ORGANIK

 PENGELOLAAN TANAMAN SAYURAN ORGANIK
PENDAHULUAN Sayuran merupakan komoditas pangan yang berperan penting terutama sebagai sumber vitamin dan mineral. Sayuran memiliki keragaman yang sangat besar baik dari jenis tanaman dan produk yang dikonsumsi. Potensi sumberdaya lahan pertanian yang menyebar mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi serta banyaknya jenis sayuran yang ada di Indonesia memungkinkan untuk usaha budidaya sayuran secara luas. Permintaan terhadap produk sayuran untuk pasar domestik maupun ekspor menunjukan adanya peningkatan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perubahan pola makan untuk mengurangi konsumsi beras. Diantara tanaman bahan pangan, sayuran memiliki kemampuan produktivitas tertinggi, seperti sawi-sawian yang dapat mencapai 60 ton/ha dan dapat dipanen dalam waktu 20 -30 hari setelah tanam. Pengembangan usaha agribisnis sayuran senantiasa diarahkan untuk berorientasi pada potensi pasar yang ada. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis terhadap kebutuhan untuk konsumsi, industri, ekspor dan lain-lain yang selanjutnya dikaitkan dengan analisis produksi untuk dijabarkab dalam bentuk kuota luas areal penanaman pada daerah-daerah sentra produksi. Kebutuhan sayuran di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama ini masih dominan didatangkan dari luar daerah, hal ini menyebabkan harga menjadi lebih mahal dan ketersediaannya tidak menentu. Dengan kondisi tanah di Bangka Belitung yang cenderung bersifat masam dan miskin bahan organik, mengharuskan petani dalam berbudidayakan tanaman sayuran harus menambahkan bahan organic. Hal ini adalah untuk mencukupi kebutuhan unsur hara tanaman dan juga untuk memperbaiki sifat atau struktur tanah. Seiring dengan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, menyebabkan pola kunsumsi terhadap bahan makanan sudah mengarah ke jenis makanan sehat yang berasal dari pertanian organic, tak terkecuali jenis sayuran. Selama ini produk sayuran dikembangkan dengan pertanian konvensional yang menggunakan bahan kimia buatan pabrik berupa pupuk, pestisida sintetis, perangsang tumbuh, antibiotika dan lain-lain. Pertanian konvensional cepat meningkatkan hasil, tetapi disisi lain akan terjadi pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan akibat residu dari bahan kimia tersebut. PENGERTIAN PERTANIAN ORGANIK Menurut pakar pertanian Barat menyebutkan bahwa system pertanian organik merupakan “hukum pengembalian (low of return) yang berarti suatu system yang berusaha untuk mengembalikan semua jenis bahan organic ke dalam tanah, baik dalam bentuk residu dan limbah pertanaman maupun ternak yang selanjutnya bertujuan member makanan pada tanaman. Strategi pertanian organik adalah memindahkan hara secepatnya dari sisi tanaman, kompos, dan pupuk kandang menjadi biomassa tanah yang selanjutnya setelah mengalami proses mineralisasi akan menjadi hara dalam larutan tanah. Hal ini berbeda dengan pertanian konvensional yang memberikan unsur hara secara cepat dan lansung dalam bentuk larutan sehingga diserap dengan takaran dan waktu yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Prinsip pertanian organik yaitu ramah lingkungan, tidak mencemarkan, dan tidak merusak lingkungan hidup. Meskipun siatem pertanian organik dengan segala aspeknya jelas memberikan keuntungan banyak kepada pembangunan pertanian rakyat dan penjagaan lingkungan hidup, termasuk konservasi sumber daya lahan, namun penerapannya tidak mudah dan akan menghadapi banyak kendala. Faktor-faktor kebijakan umum dan sosio-politik sangat menentukan arah pengembangan system pertanian sebagai unsur pengembangan ekonomi. Berkembangnya suatu sistem dalam hal ini sistem budidaya, tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan apabila dibandingkan dengan sistem yang lain. Demikian pula sistem pertanian organic mempunyai kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan sistem pertanian non-organik. Kelebihan pertanian organik antara lain sebagai berikut: Tidak menggunakan pupuk maupun pestisida kimia sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, serta produknya tidak mengandung racun. Tanaman organik mempunyai rasa yang lebih manis dibandingkan dengan tanaman non organik. Sementara itu, pertanian organik juga mempunyai kekurangan,yaitu; Kebutuhan bahan pendukung (pupuk organik, pestisida hayati0 dan tenaga kerja lebih banyak, terutama untuk pengendalian hama dan penyakit. Umumnya pengendalian hama penyakit dilakukan secara manual. Penampilan fisik tanaman organik kurang bagus (daun berlubang) bila dibandingkan dengan tanaman non organik. PUPUK ORGANIK Pupuk organik merupakan sumber nutrisi tanaman utama dalam pelaksanaan pertanian organik, di mana keberadaannya akan mempengaruhi terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pupuk organik adalah jenis pupuk yang sumbernya bahannya berasal dari kotoran hewan, bahan tanaman dan limbah, misalnya : pupuk kandang (ternak besar dan kecil), hijauan tanaman rerumputan, semak, perdu dan pohon, limbah pertanaman (jerami padi, batabg jagung, sekam padi) dan limbah agroindustri. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organic mempunyai struktur yang baik dan tanah yang kecukupan bahan organic mempunyai kemampuan mengikat air lebih besar daripada tanah yang kandungan bahan organiknya rendah. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro N, P, K rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah yang sangat diperlukan pertumbuhan tanaman. Karakteristik Umum Pupuk Organik karakter umum yang dimiliki pupuk organik adalah sebagai berikut. Kandungan hara rendah, kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung pada jenis bahan dasarnya. Ketersediaan unsur hara lambat, hara yang berasal dari bahan organic diperlukan untuk kegiatan mikrobia tanah SUMBER BAHAN ORGANIK Sumber pupuk organik berasal dari ternak dan tanaman seprti sapi, kerbau, kambing, ayam, kelelawar, jerami padi, batang jagung, seresah/ranting daun, dll. Pupuk organik (pupuk kandang) merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik disbanding bahan pembenah lainnya. Pada umumnya nilai pupuk yang dikandung pupuk organic terutama unsur makro nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K) rendah, tetapi pupuk organic juga mengandung unsur mikro esensial yang lain. Sebagai bahan pembenah tanah, pupuk organic membantu dalam mencegah terjadinya erosi dan mengurangi terjadinya retakan tanah. Secara umum sumber bahan organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik adalah sebagai berikut. 1. Pertanian : Limbah dan residu : Jerami dan sekam padi, gulma, daun, batang dan tongkol jagung, semua bagian vegetative tanama, batang pisang, sabut kelapa. limbah pakan ternak, tepung tulang, cairan proses biogas 2. Industri Limbah padat dan cair : Serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, kelapa sawit, pemotongan hewan, Alcohol, kertas, kelapa sawit (POME) 3.Limbah Rumah Tangga Sampah : Tinja, Air kencing, sampah dapur, sampah kota, sampah pemukiman KELOMPOK SAYURAN Secara garis besar Direktorat Jenderal Hortikultura , Departemen Pertanian membagi jenis Sayuran menjadi tiga kelompok besar, yaitu: 1. Kelompok Sayuran Daun Dan Tunas Sayuran daun dan tunas adalah kelompok sayuran yang dipanen hasilnya sebagai bahan pangan sayuran dalam bentuk bagian daun muda dan tunas tanaman. Yang termasuk kelompok sayuran daun antara lain: bayam, kubis-kubisan, seledri, daun bawang, daun singkong, katuk, kemangi, daun melinjo, daun kacang panjang. Sayuran tunas mencakup sayuran yang dikonsumsi adalah batang muda seprti kangkung, bayam, asparagus, rebung. 2. Kelompok Sayuran Buah dan Biji Sayuran buah dan biji dapat berupa buah muda, buah matang dan biji kering. Yang termasuk eklompok sayuran buah antara lain adalah: tomat, kacang panjang, buncis, mentimun, waluh, labu, terung, okra, kapri, cabe, melinjo, jagung muda. 3. Kelompok Sayuran Umbi dan Akar Kelompok sayuran umbi dan akar mencakup semua jenis sayuran yang panenya berada dlam tanah sebagian atau seluruhnya, atau merupakan bagian pangkal batang. Yang termasuk dlam kelompok ini adalah wortel, lobak, bit, kentang, bawang dan lain. KESESUAIAN JENIS TANAMAN Pada kondisi pH yang berbeda, ketersediaan unsur hara pun berbeda. Pada tanah asam, unsur besi, tembaga, mangan dan aluminium banyak tersedia, tetapi ketersediaannya bisa menjadi racun bagi tanaman. Beberapa jenis sayuran yang sesuai dengan kondisi derajat keasaman (pH) tanah yaitu: a. Reaksi tanah : pH 6,0 – 6,8 Jenis sayuran : Bayam, bawang merah, kapri, kara, kubis bunga, selada, seledri, wortel, bit, asparagus b. Reaksi tanah : pH 5,5 – 6,0 Jenis sayuran : Buncis, kubis kepala, kubis tunas, mentimun, cabai, radis, labu, jagung, ubi jalar, tomat c. Reaksi tanah : pH 4,8 – 5, Jenis sayuran : kentang Reaksi tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman pada umumnya sektar pH 6,5. Jasad renik dalam tanah hidup subur pada pH tanah netral sampai sedikit masam. Pada kondisi tanah yang masam perlu dinetralkan dengan pemberian kapur pertanian (dolomite). PESTISIDA ORGANIK Bertanam secara organik tentu menggunakan pestisida yang bersifat organik pula. Pestisida organik yaitu senyawa alami yang berasal dari tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Penggunaan pestisida organik bersifat ramah lingkungan karena aman bagi ekosistem. Dalam penggunaan pestisida organik harus disesuaikan bahan dengan hama dan penyakit yang akan dikendalikan. Adapun fungsi dari pestisida organik adalah sebagai: 1) Penghambat nafsu makan /anti feedent, 2) Penolak /repellent, 3) Penarik/ antractant, 4) Penghambat perkembangan, 5) Menurunkan keperidian, 5) Pengaruh lansung sebagai racun, 6) pencegah peletakan telur. Cara pembuatan pestisida organik perlu diperhatikan kondisi bahan yang akan dipakai, yaitu berupa bahan segar atau bahan kering. Beberapa pestisida organik yang bisa digunakan untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman sebagai berikut: 1. Jenis bahan : Sirsak Cara pembuatan : Biji ditumbuk dan dibuat tepung, lalu dicampur dengan air dan disaring Cara Penggunaan : Disemprotkan ke seluruh bagian tanaman pada pagi atau sore hari Hama sasaran : Aphid, semut, hama lainnya 2. Jenis Bahan : Tembakau Cara pembuatan : Rendam batang dan tulang daun dalam air selama 7 hari atau didihkan sebentar. Setelah dingin, disaring Cara Penggunaan : Disemprotkan ke seluruh bagian tanaman pada pagi atau sore hari Hama sasaran : Berbagai jenis serangga 3. Jenis bahan : Daun Nimba Cara Pembuatan : Biji 2 genggam ditumbuk, campur dengan air 1 liter, lalu aduk, diamkan satu malam dan saring, Rebus 1 kg daun segar dalam 5 liter air, diamkan semlam, lalu saring Cara Penggunaan : Disemprotkan ke seluruh bagian tanaman Hama sasaran : Berbagai laba-laba, nematode, jenis serangga 4. Jenis bahan : Urine sapi Cara pembuatan : Campurkan urine sapi dengan rempah-rempah yang telah ditumbuk, diamkan selama 2 minggu, lalu saring Cara Penggunaan : Semprotkan ke seluruh bagian tanaman dengan dosis 1 l urin dalam 10 liter air Hama Saaran : thrip, aphid penyakit keriting pada cabai POLA TANAM Dalam budidaya sayuran secara organik bisa diterapkan beberpa pola tanam, hal ini disesuaikan dengan kondisi lahan dan tujuan penanaman. Ada dua pola tanam yang biasa dipakai petani, yakni monokultur dan polikultur. 1. Monokultur Pola tanam monokultur merupakan cara penanaman dengan satu jenis tanaman dalam satu hamparan areal. Pola tanam ini banyak dilakukan petani yang memiliki lahan khusus dengan pada perawatan yang sungguh-sungguh untuk orientasi komersil. Keuntungan pola tanama monokultur adalah memudahkan perawatan tanaman , karena jarak tanam, jadual pemupukan, penyemprotan dan panen sudah jelas. Jenis sayuran yang biasa ditanam dengan pola monokultur adalah bawang merah, bawang putih, cabe. 2. Polikultur Pola tanam ini merupakan cara penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama. Dalam pola tanam polikultur mempunyai beberapa istilah sebagai berikut: Tumpang gilir (multiple cropping); menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama selama satu tahun untuk memperoleh lebih dari satu hasil panen. Tanaman Pendamping (companion planting); menanam lebih dari satu tanaman dalam satu bedeng sebagai pendamping jenis tanaman lainnya. Tujuannya untuk saling melengkapi kebutuhan fisik dan unsur hara. Tanaman campuran (mixed cropping); menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dan dalam waktu yang sama. Tumpang sari (intercropping dan interplanting); menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu lahan dan dalam waktu yang sama dengan barisan-barisan teratur. Penanaman lorong (alley cropping); menanam tanaman berumur pendek diantara larikan tanaman yang tumbuh cepat dan tinggi serta berumur panjang (tahunan). Pergilirian tanaman (rotasi tanaman); menanam jenis-jenis tanaman dari family yang berbeda sacara bergantian(bergilir). Tujuannya untuk memutusa siklus hidup hama dan penyakit. Sumber : disarikan dari berbagai sumber Penulis : Sugito, SP