Belimbing manis (Averrhoa carambola) merupakan buah tropis yang sampai saat ini hanya ditanam di pekarangan atau halaman rumah sebagai peneduh atau hiasan halaman rumah. Bentuk pohon yang tidak begitu besar dengan tajuk yang rindang memang sangat cocok ditanam di lahan pekarangan atau halaman rumah. Buah yang dihasilkannya hanya untuk konsumsi keluarga atau untuk oleh-oleh para kerabat atau saudara. Belimbing manis jika dimakan rasanya segar dan merupakan bahan pangan yang cukup banyak menganding gizi seperti karbohidrat, mineral dan vitamin yang penting untuk kesehatan tubuh manusia. Konon, dalam 100 g buah yang dapat dimakan mengandung karbohidrat (7,70 g)., mineral seperti kalsium (8,00 mg), forsfor (22,00 mg) dan zat besi (0,80 g). Sedang kandungan vitaminnya adalah vitamin C (33,00 mg), vitamin A (18,00 RE), vitamin B1 (0,03 mg), vitamin B2 (0,02 mg) dan vitamin B3 (0,40 mg). Selain dimanfaatkan sebagai bahan pangan, belimbing manis juga ada dapat dimanfaatkan untuk pengobatan (terapi), misalnya untuk menurunkan tekanan darah tinggi, memperlancar pencernakan makanan, menurunkan kadar kolesterol dan demam. Ada pula yang memanfaatkan untuk menyembuhkan sakit tenggorokan, obat batuk, sariawan dan cacar air. Bagi yang sedang membudidayakan belimbing manis itu, kadang ada yang merasa dibuat kesal dan kecewa dengan adanya serangan penyakit. Soalnya, buah belimbing yang sekian lama ditunggu-tuggu tidak seperti apa yang diharapkan akibat adanya serangan penyakit tersebut. Memang ada yang sudah berupaya mengendalikan penyakit tersebut, namun mungkin ada yang kurang berhasil. Sehubungan dengan hal tersebut, penulis ingin mencoba memberikan infromasi tentang beberapa jenis penyakit yang suka menyerang belimbing manis dan upaya pengendaliannya. Dengan tulisan ini mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan dalam mengendalikan penyakit tersebut. Jenis Penyakit dan Upaya Pengendaliannya Beberapa jenis penyakit yang suka menyerang belimbing manis diantaranya penyakit jamur upas, bercak daun cercospora dan lapuk akar. 1. Jamur Upas Penyakit yang disebabkan oleh cendawan/jamur Upasia salmonicolor, Corticium salmonicolor atau Pellicularia salmonicolor kadang ada pula yang menyebutnya sebagai penyakit batang berkerak merah. Penyakit kesukannya menyerang batang atau cabang yang kulitnya berwarna coklat dan belum membentuk lapisan gabus tebal. Sebagai tanda bahwa tanaman diserang jamur upas diantaranya, batang , dahan dan ranting yang diserang mula-mula pada kulitnya tampak adanya benang-benang mengkilap menyrupai sarang laba-laba. Selanjutnya, terbentuk bercak-bercak putih pada permukaan kulit yang akhirnya akan menjalar ke dalam kulit, kemudian pada stadium lanjut timbul kerak berwarna merah jambu (orange). Jika serangannya sudah berat mengakibatkan batang mengering dan lapuk. Dapat juga mengakbiatkan batang, dahan atau ranting membusuk dan cendawan membentuk bercak-bercak merah bata. Apabila penyakit sudah melingkari batang, maka tanaman akan mati. Upaya untuk mengendalikannya dengan menjaga kebersihan tanaman, misal dahan dan ranting yang terserang dipotong dan dikumpulkan lalu dimusnahkan/dibakar. Segala rerumputan dan semak belukar yang ada di sekirar tanaman dibersihkan. Selain itu, usahakan tajuk pohon tidak terlalu rindang. Caranya, bagian-bagian dalam dari tajuk dipangkas sehingga pohon tidak terlalu rimbun. Dengan kondisi pohon seperti ini maka cahaya matahari dapat masuk ke dalam pohon sehingga kelembabannya berkurang yang akhirnya cendawan tidak mudah berkembangbiak. Jika akan menggunakan fungisida, cabang atau bagian tanaman yang sakit disemprot atau diolesi dengan fungisida Bubur Bordeaux 1% (campuran sulfat tembaga atau terusi 1 kg, kapur tohor 1,25 kg dan 100 liter air) atau dengan Calixin 5%. Bisa juga dengan Dithane M 45 atau Benlate dengan konsentrasi 1-2 g/lt. Selain itu dapat juga disemprot Cupravit OB 21 atau Calixin 750 EC yang penggunaannya sesuai aturan yang tertera pada label kemasan fungisida tersebut. 2. Bercak Daun Cercospora Penyebabnya adalah cendawan Cercospora averrhoae yang suka menyerang daun, tangkai daun dan batang muda. Penyakit ini menyebabkan terjadinya bercak-bercak klorotik pada daun dengan tepi daun berwarna coklat tua atau ungu. Serangan yang hebat menyebabkan daun menjadi kuning yang akhirnya rontok, bahkan tanaman dapat gundul. Untuk mengendalikannya antara lain jaga kebun selalu dalam keadaan bersih. Misal potong bagian tanaman yang terserang, dikumpulkan dan dimusnahkan/dibakar supaya tidak menjadi sumber penyebaran penyakit. Segala rerumputan atau semak belukar yang ada di sekitar tanaman dibabat, dikumpulkan lalu dibakar. Cara lainnya, tanaman dirawat dengan baik, misalnya dipupuk, disiram, dipangkas secara teratur dan disiang/didangir sehingga tanaman tumbuh kuat sehingga cendawan sulit menginfeksi tanaman. Bisa juga disemprot fungisida Difolatan 4 F dengan konsentrasi 1 cc/lt, Deravol 60 WP), Rubigan 120 EC, Topsin M 70 WP atau Topsin 500 F yang penggunaannya sesuai aturan yang tertera pada label kemasan fugnisida trsebut. Jika kurang paham bisa ditanyakan kepada petugas pertanian atau penyuluh pertanian setempat. 3. Lapuk Akar Sesuai namanya, bagian tanaman diserang penyakit yang disebabkan oleh cendawan Corticium salmonicolor adalah akarnya. Cendawan akan menginfeksi melalui perakaran yang luka sehingga akar dapat lapuk. Dengan lapuknya perakaran tersebut, maka mula-muda daun-daun paling ujung menguning, pertumbuhan tunas tidak sehat, cabang-cabang mengering dan tidak terjadi pertumbuhan baru. Jika akarnya sudah terserang parah, tanaman menjadi layu, kering, daun-daunnya rontok yang akhirnya tanaman mati. Bila tanaman dibongkar akan tampak perakarannya telah melapuk. Untuk mengendalikannya, tanaman yang belum sakit parah, buka semua akar yang dekat permukaan tanah dan kulit batang yang dekat tanah. Setelah tiu, akar-akar yang sakit dipotong dan bekas potongannya diolesi obat penutup luka, misalnya dengan karbolinium paraffin atau ter. Sedang yang sudah sakit parah, tanaman dibongkar, akar-akarnya digali dan diambil sampai bersih, dikumpulkan lalu dibakar. Cara lainnya, tanah disterilisasi dengan fungisida berbahan aktif mankozeb, misalnya Dithane M 45 ataupun berbahan aktif propineb, misalnya Antracol 70 WP yang dilarutkan dalam air, kemudian disiramkan di seputar batang. Cara menggunakannya, baca pada label kemasan fungisida tersebut . Disarikan oleh: Lasarus, Pusluhtan Sumber : 1.Standar Prosedur Operasional (SOP) Belimbing. Direktorat Tanaman Buah. Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Departemen Pertanian, Jakarta, 2004. 2. Ir.Bambang Cahyono. Cara Sukses Berkebun Belimbing Manis. Pustaka Mina, Jakarta, 2000.. 3 Drs. H. Hendro Sunarjono. Berkebun Belimbing Manis. Penebar Swadaya, Depok-Jawa Barat, 2007.