Agribisnis Kakao Indonesia masih menghadapi berbagai masalah, antara lain masih rendahnya produktivitas yang disebabkan (1) Sebagian tanaman sudah tua, dan atau rusak berat, (2) Adanya serangan hama penggerek buah kakao (PBK) dan penyakit Vaskuler Streak Dieback (VSD) yang telah merusak sebagian besar tanaman kakao, (3) Belum menggunakan klon/varietas unggul dan (4) Kurang intensifnya pemeliharaan yang dilakukan oleh para pekebun. Untuk itu perlu diupayakan pelaksanaan langkah-langkah yang tepat ditingkat lapangan. Salah Satu upaya untuk mengatasi rendahnya produktivitas usahatani kakao dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani, yaitu melalui kegiatan peremajaan. Peremajaan tanaman kakao adalah kegiatan penggantian tanaman yang sudah tidak produktif/sudah tua dengan tanaman baru dengan menerapkan inovasi teknologi. Peremajaan Peremajaan tanaman kakao dilakukan pada kebun dalam kondisi tanaman sudah tua yang berumur lebih dari 25 tahun dan sudah tidak produktif atau rusak berat; jumlah tegakan/populasi kurang dari 300 pohon per hektar atau 50% dari jumlah standar tanaman; produktifitasnya rendah atau kurang dari 500 kg per hektar per tahun; tanaman terserang OPT utaman seperti hama PBK, penyakit VSD, Helopeltis sp., dan Busuk buah. Peremajaan dilakukan pada kebun yang memenuhi persyaratan kesesuaian meliputi curah hujan dan kemiringan lereng. Peremajaan dilakukan dengan melaksanakan penebangan tanaman kakao secara bertahap dan menyiapkan lahan dan menanam benih kakao yang berasal dari varietas unggul. Kesiapan Pelaksanaan Teknis Sebelum melaksanakan peremajaan kakao, perlu dipersiapkan bahan tanaman kakao unggul. Bahan tanaman dapat diperoleh dengan cara diperbanyak dengan metode setek (sambung pucuk/temple tunas/sambung samping), dan metode yang lebih mutakhir yaitu teknik SomaticEembryogenesis (SE) yaitu proses perbanyakan cara kultur jaringan tanaman. Metode SE dikembangkan dan dikaji oleh Puslit Kopi dan Kakao Indonesia dan hasilnya terbukti cukup baik bersifat normal dapat berbuah seperti lazimnya pada tanaman normal lainnya sehingga dianggap layak untuk diterapkan secara masal. Bahan tanaman kakao hasil perbanyakan SE memiliki produktivitas lebih tinggi daripada tanaman yang diperbanyak dengan setek. Ciri tanaman kakao asal perbanyakan SE adalah terbentuknya akar tunggang. Pada perbanyakan dengan teknik SE akan digunakan klon-klon kakao unggul seperti ICCRI.03, ICCRI.04, Scab, Sul 1 dan Sul 2. Klon-klon tersebut memiliki daya hasil tinggi (diatas 2 ton /ha) dan toleran terhadap penyakit Vaskuler Streak Dieback (VSD). Bahan tanaman kakao unggul yang digunakan untuk peremajaan harus bersertifikat dan berlabel, siap tanam dan memenuhi kriteria standar mutu bibit kakao SE dan telah direkomendasi oleh Puslit atau dinas provinsi setempat yang membidangi perkebunan. Peralatan yang digunakan dalam peremajaan tanaman kakao berupa cangkul, sabit, handsprayer, chainsaw, traktor dan lain-lain. Sarana produksi yang perlu dipersiapkan berupa pupuk. Pupuk yang digunakan adalah pupuk majemuk dalam bentuk butiran atau tablet. Untuk pengendalian hama dan penyakit kakao diutamakan dengan system PHT. Sedangkan pemakaian pestisida sebagai alternative terakhir. Penggunaan pestisida, fungisida dan herbisida harus yang efektif, terdaftar, dan mendapat ijin dari Menteri Pertanian dengan dosis sesuai anjuran. Dalam memilih jenis pestisida yang digunakan dianjurkan agar mempertimbangkan jenis pestisida yang sudah banyak digunakan oleh petani kakao setempat dan telah terbukti efektif. Dalam pelaksanaan peremajaan kebun kakao diperlukan peningkatan keterampilan teknis pelaksananya (petani/pekebun) melalui pendidikan, pelatihan, penyuluhan dan pendampingan. Yang perlu diperhatikan di dalam pelaksanaan peremajaan tanaman kakao yang perlu diperhatikan adalah: 1. Kesesuaian lahan yang memenuhi persyaratan teknis. 2. Ketersediaan bahan tanaman kakao unggul yang telah direkomendasikan oleh Pusat Penelitian (sesuai anjuran). 3. Ketersediaan peralatan dan sarana produksi untuk pembukaan lahan dan pemeliharaan tanaman sesuai standar teknis. Ir. Yuyun S Masduki Sumber : 1. Anonimus 1995, Petunjuk Teknis Budidaya Kakao Rakyat, Departemen Pertanian. 2. Anonimus 2005, Pedoman Umum Peningkatan Produktivitas Usahatani Kakao, Ditjen Bina Produksi. 3. Internet, Http://www.iccri.net/index.php11nop2009, diupdate 19 April 2010.