Loading...

5 PRINSIP TEPAT PEMUPUKAN PADA TANAMAN PADI

5 PRINSIP TEPAT PEMUPUKAN PADA TANAMAN PADI

Strategi pemupukan padi yang paling efisien dan efektif, dikenal sebagai Lima Tepat (5T). Tujuan utamanya adalah memastikan tanaman mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan pada saat yang tepat, dalam jumlah yang tepat, sehingga hasil panen optimal dan biaya pupuk termanfaatkan dengan baik.

 1. Tepat Jenis (Jenis Pupuk yang dibutuhkan)

Prinsip ini berfokus pada pemberian unsur hara yang spesifik sesuai kebutuhan tanaman padi dan kondisi tanah.

  • Kebutuhan Utama: Padi membutuhkan unsur hara makro primer:
    • Nitrogen (N): Penting untuk pertumbuhan anakan, daun, dan pembentukan klorofil (warna hijau). Sumber utamanya adalah Urea atau ZA.
    • Fosfor (P): Penting untuk perkembangan akar, perakaran yang kuat, dan pembentukan malai. Sumber utamanya adalah SP-36 atau NPK majemuk.
    • Kalium (K): Penting untuk ketahanan terhadap penyakit, pengisian bulir, dan kualitas gabah. Sumber utamanya adalah KCl atau NPK majemuk.
  • Penting: Selain pupuk tunggal, penggunaan pupuk majemuk (misalnya NPK) dapat menyederhanakan pemupukan karena mengandung N, P, dan K sekaligus.
  • Pertimbangkan juga pemberian pupuk organik (kompos, pupuk kandang) untuk memperbaiki kesuburan fisik tanah.

 2. Tepat Dosis (Jumlah Pupuk yang dibutuhkan)

Dosis adalah jumlah pupuk yang harus diberikan per hektar (atau per luasan tertentu). Dosis harus disesuaikan agar tidak terjadi kekurangan (defisiensi) atau kelebihan (keracunan/kerugian).

  • Rekomendasi Dosis: Dosis optimal didapat dari hasil uji tanah (misalnya menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah/PUTS) atau mengikuti rekomendasi spesifik dari dinas pertanian setempat berdasarkan varietas padi dan kelas kesuburan lahan.
  • Hindari Pemborosan: Pemberian dosis berlebihan hanya akan meningkatkan biaya produksi, mencemari lingkungan, dan justru membuat tanaman rentan roboh atau terserang hama/penyakit. Dosis kurang akan menyebabkan pertumbuhan terhambat.

 3. Tepat Waktu (Fase Kritis Pemberian Pupuk)

Waktu pemupukan sangat menentukan karena padi membutuhkan nutrisi berbeda pada setiap fase pertumbuhannya. Pemupukan dibagi menjadi pemupukan dasar dan susulan.

 

Fase Pertumbuhan

Waktu Pemberian

Tujuan Utama

Dasar

0–7 Hari Setelah Tanam (HST)

Untuk mendorong pembentukan akar dan awal pertumbuhan vegetatif.

Susulan I

21–30 HST

Penting: Masa puncak pembentukan anakan. Pupuk N paling krusial.

Susulan II

40–45 HST

Penting: Masa pembentukan primordia (calon malai). Memastikan malai terbentuk sempurna.

·         Catatan: Hindari pemupukan N terlalu larut (di atas 60 HST) karena bisa menunda panen dan meningkatkan risiko serangan hama.

 4. Tepat Cara (Teknik Aplikasi Pupuk)

Cara pemberian pupuk harus efisien agar pupuk mudah diserap akar dan tidak hilang karena pencucian atau penguapan.

  • Ditabur Merata: Sebagian besar pupuk (terutama Urea, NPK) ditabur secara merata di lahan sawah. Pastikan kondisi air macak-macak (sedikit air) atau sawah dalam kondisi kering selama 1–2 hari setelah pupuk ditabur untuk mengurangi penguapan.
  • Ditutup/Dibenamkan: Untuk pupuk dasar P dan K, idealnya dibenamkan agar dekat dengan akar dan tidak tercuci.
  • Penggunaan Brizet/Pupuk Blok: Pupuk padat yang dibenamkan di antara tanaman untuk mengurangi kehilangan N akibat penguapan dan pencucian.

 5. Tepat Lokasi (Penempatan Pupuk)

Pupuk harus diletakkan di zona perakaran aktif agar dapat segera diserap tanaman.

  • Area Dekat Perakaran: Penempatan pupuk sebaiknya di area sawah, bukan di pematang atau saluran air, untuk menghindari kehilangan dan pemborosan.
  • Jajar Legowo: Jika menggunakan sistem Jajar Legowo, pupuk ditaburkan pada barisan tanaman atau di tengah barisan (lorong) tempat akar padi bisa menjangkaunya.

 Kesimpulan

Menerapkan 5 Prinsip Tepat secara konsisten akan menghasilkan:

  1. Efisiensi Biaya: Pupuk tidak terbuang percuma, sehingga biaya produksi lebih rendah.
  2. Produktivitas Maksimal: Tanaman tumbuh sehat, anakan optimal, pengisian bulir penuh, dan ketahanan terhadap cekaman meningkat.
  3. Pertanian Berkelanjutan: Mengurangi dampak negatif pupuk berlebihan terhadap lingkungan.