Loading...

HAMA DAN PENYAKIT UTAMA TANAMAN PADI

HAMA DAN PENYAKIT UTAMA TANAMAN PADI

HAMA DAN PENYAKIT UTAMA TANAMAN PADI

Disusun Oleh : Mohamad Sarip Hidayat

 

HAMA UTAMA (INSEKTA & RODENSIA)

1. Penggerek Batang Padi (PBP)

Terdapat beberapa jenis: Penggerek Batang Kuning (Scirpophaga incertulas), Putih (S. innotata), dan Merah Jambu (Sesamia inferens).

  • Gejala Serangan:
    • Fase Vegetatif (Sundep): Larva masuk ke dalam batang dan memakan jaringan internal. Pucuk tanaman layu, mengering, dan mudah dicabut.
    • Fase Generatif (Beluk): Malai muncul dalam kondisi putih hampa karena saluran nutrisi diputus oleh larva di pangkal batang. Malai berdiri tegak dan tidak berisi.
  • Pengendalian:
    • Kultur Teknis: Pengaturan waktu tanam berdasarkan fluktuasi populasi ngengat di lampu perangkap; penggenangan sawah setelah panen untuk mematikan larva di dalam singgang.
    • Hayati: Konservasi musuh alami seperti tawon parasitoid telur (Trichogramma sp.).
    • Kimiawi: Penggunaan insektisida sistemik granular (butiran) berbahan aktif Karbofuran atau Fipronil pada zona perakaran.

2. Wereng Batang Coklat (WBC) - Nilaparvata lugens

Hama paling berbahaya karena kemampuannya meledak secara populasi dan menjadi vektor virus.

  • Gejala Serangan:
    • Menghisap cairan sel pada pelepah daun. Tanaman menguning, kemudian mengering dengan cepat dalam satu hamparan melingkar yang disebut Hopperburn.
    • Menularkan virus Kerdil Hampa dan Kerdil Rumput yang tidak ada obatnya.
  • Pengendalian:
    • Kultur Teknis: Penggunaan varietas tahan (Inpari 13, Inpari 31, dsb.); sistem Jajar Legowo untuk menciptakan sirkulasi udara (wereng menyukai kondisi lembap dan rimbun).
    • Hayati: Melindungi predator alami seperti laba-laba, kepik Microvelia, dan kumbang Paederus.
    • Kimiawi: Insektisida berbahan aktif Pymetrozine, Dinotefuran, atau Imidakloprid. Hindari penggunaan pyrethroid karena dapat menyebabkan resurgensi (populasi meledak kembali).

3. Tikus Sawah (Rattus argentiventer)

  • Gejala Serangan:
    • Mampu merusak tanaman dari persemaian hingga panen. Kerusakan seringkali lebih besar daripada jumlah yang dimakan (perilaku mengasah gigi). Batang dipotong miring pada pangkalnya.
  • Pengendalian:
    • Fisik: Gropyokan massal pada awal musim tanam; pemasangan Linear Trap Barrier System (LTBS) di pinggir lahan.
    • Sanitasi: Membersihkan pematang dari semak-semak dan memperkecil ukuran pematang agar tidak menjadi sarang.
    • Kimiawi: Rodentisida akut atau antikoagulan (umpan beracun) yang diletakkan di dekat lubang aktif.

4. Walang Sangit (Leptocorisa oratorius)

  • Gejala Serangan:
    • Menyerang saat padi fase masak susu. Bulir yang dihisap menjadi hampa atau berbercak hitam dan rapuh saat digiling. Menimbulkan bau menyengat di sawah.
  • Pengendalian:
    • Mekanis: Penangkapan dengan jaring atau umpan bau (bangkai binatang atau terasi).
    • Kimiawi: Aplikasi insektisida kontak (seperti bahan aktif BPMC atau MIPC) pada pagi hari (06.00-09.00) saat hama aktif di atas tanaman.

BAGIAN II: PENYAKIT UTAMA (JAMUR, BAKTERI, & VIRUS)

1. Penyakit Blas (Pyricularia oryzae)

  • Gejala Serangan:
    • Blas Daun: Bercak berbentuk belah ketupat, pusat berwarna abu-abu, tepi coklat kemerahan.
    • Blas Leher (Neck Blast): Pangkal leher malai membusuk, berwarna coklat, dan patah. Malai menjadi hampa mirip serangan beluk, namun ada bercak busuk di leher malai.
  • Pengendalian:
    • Nutrisi: Hindari pemupukan Nitrogen (Urea) berlebih karena dinding sel tanaman menjadi tipis dan mudah ditembus jamur. Gunakan Kalium yang cukup.
    • Kimiawi: Perlakuan benih (seed treatment) dengan fungisida sistemik; penyemprotan fungisida berbahan aktif Trisiklazol, Difenokonazol, atau Azoksistrobin pada fase bunting dan keluar malai.

2. Hawar Daun Bakteri (HDB/Kresek) - Xanthomonas oryzae

  • Gejala Serangan:
    • Dimulai dari bercak keabu-abuan di pinggir daun, kemudian meluas membentuk hawar (kering) berwarna kuning pucat hingga putih. Pada serangan parah di bibit muda, seluruh tanaman layu dan mati (fase Kresek).
  • Pengendalian:
    • Kultur Teknis: Pengairan berselang (tidak digenangi terus menerus); hindari perobekan ujung bibit saat tanam karena luka menjadi pintu masuk bakteri.
    • Kimiawi/Hayati: Aplikasi bakterisida (bahan aktif Tembaga Hidroksida) atau agens hayati Paenibacillus polymyxa.

3. Penyakit Tungro (Virus)

  • Gejala Serangan:
    • Tanaman sangat kerdil; daun berwarna kuning oranye mulai dari pucuk; jumlah anakan berkurang drastis; malai kecil dan tidak keluar sempurna.
  • Pengendalian:
    • Karena disebabkan oleh virus, maka yang dikendalikan adalah vektornya, yaitu Wereng Hijau.
    • Eradikasi: Mencabut paksa tanaman yang sakit agar tidak menular ke tanaman sehat sekitarnya.
    • Waktu Tanam: Penanaman serempak dalam satu hamparan untuk memutus siklus hidup vektor.

4. Busuk Pelepah (Sarocladium oryzae)

  • Gejala Serangan:
    • Terjadi pada pelepah daun paling atas yang membungkus malai. Muncul bercak coklat keabu-abuan dengan pusat putih. Akibatnya, malai tidak keluar sempurna (tercekik) dan bulir berubah warna.
  • Pengendalian:
    • Atur jarak tanam agar tidak terlalu rapat.
    • Aplikasi fungisida berbahan aktif Karbendazim atau Tebukonazol.

RINGKASAN STRATEGI PENGENDALIAN TERPADU (PHT)

  1. Varietas

Gunakan benih bersertifikat yang tahan terhadap hama/penyakit endemik di lokasi tersebut.

  1. Pemupukan Berimbang

Prinsip 5T (Tepat Jenis, Dosis, Waktu, Cara, dan Sasaran). Nitrogen tinggi meningkatkan kerentanan terhadap serangan.

  1. Pengamatan Rutin

Minimal satu kali seminggu untuk mendeteksi serangan sebelum mencapai Ambang Ekonomi (AE).

 

  1. Pestisida sebagai Alternatif Terakhir

Gunakan hanya jika populasi OPT telah melewati ambang batas yang merugikan secara ekonomi.