Loading...

Inovasi Green Ekonomi Sirkular Keripik Kentang Antar PPL Achmad Nasir Ginanjar Juara Teknologi Hortikultura Jawa Barat 2025

Inovasi Green Ekonomi Sirkular Keripik Kentang Antar PPL Achmad Nasir Ginanjar Juara Teknologi Hortikultura Jawa Barat 2025

Inovasi pertanian berbasis keberlanjutan kembali mengharumkan nama Kabupaten Garut. Achmad Nasir Ginanjar, SST., MP, penyuluh pertanian asal Jawa Barat, berhasil meraih juara Lomba Inovasi Teknologi Hortikultura tingkat Provinsi Jawa Barat melalui gagasan bertajuk “Inovasi Green Economy Circular dalam Hilirisasi Keripik Kentang.” Pengumuman dan penyerahan penghargaan dilaksanakan pada 7 Desember 2025 di GOR Arcamanik, Kota Bandung.

Inovasi ini tidak berdiri pada satu alat tunggal, melainkan sebuah sistem hilirisasi terintegrasi yang memanfaatkan rangkaian alat dan mesin pertanian hasil pengembangan Achmad Nasir. Rangkaian tersebut meliputi mesin kupas kentang, mesin fermentor untuk perbanyakan bakteri dan jamur, mesin iris kentang, kompor berbahan bakar minyak jelantah, serta spinner peniris minyak.

Alur kerjanya dirancang efisien dan sirkular. Kentang segar terlebih dahulu diproses menggunakan mesin kupas, yang mampu mengupas 5 kilogram kentang hanya dalam waktu dua menit. Limbah air cucian kentang kemudian dialirkan ke mesin fermentor, untuk memperbanyak agen hayati Beauveria bassiana, jamur entomopatogen yang berfungsi sebagai insektisida alami pengendali hama ulat pada tanaman kentang.

Kentang bersih selanjutnya masuk ke mesin iris, dengan kecepatan dua menit per kilogram dan hasil irisan yang seragam. Proses penggorengan dilakukan menggunakan kompor berbahan bakar minyak jelantah, di mana satu liter minyak jelantah mampu digunakan hingga tiga jam dengan api besar. Setelah digoreng, keripik kentang ditiriskan menggunakan spinner, dan minyak sisa hasil penirisan kembali dimanfaatkan sebagai bahan bakar kompor.

Melalui pendekatan green economy circular, inovasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi UMKM hortikultura, tetapi juga menekan limbah, mengurangi ketergantungan energi fosil, dan memperkuat nilai tambah di tingkat petani.