Loading...

Hama dan Penyakit Jagung

Hama dan Penyakit Jagung

Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas strategis, sumber karbohidrat, pakan ternak, dan bahan baku industri. Produksi jagung rentan terhadap gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) berupa serangan hama serangga dan penyakit patogen (fungi, bakteri, virus, oomycetes). Kerugian dapat terjadi pada segala tahap pertumbuhan dari bibit, vegetatif, generatif sampai panen sehingga diperlukan strategi pengendalian terpadu yang tepat, ekonomis, ramah lingkungan, dan aplikatif bagi penyuluh dan petani di lapang. Informasi teknis berikut menitikberatkan pada tindakan yang dapat langsung diterapkan oleh petani dan penyuluh.

Pendekatan yang digunakan, tinjauan literatur mutakhir, serta rangkuman praktik lapang (monitoring, tindakan kultural, mekanik, hayati, dan kimia secara terintegrasi). Semua rekomendasi disusun agar dapat diadaptasi pada skala usaha kecil menengah dan sistem penyuluhan lapang.

Tujuan

1.          Menyajikan gambaran jenis hama dan penyakit yang paling merugikan pada jagung.

2.          Menyusun panduan pengendalian terapan berdasarkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu.

3.         Memberikan saran operasional untuk pemantauan, ambang tindakan, dan pilihan taktik pengendalian yang aman serta efisien.

4.          Menyediakan rujukan pustaka (2020–2025) bagi penyuluh, peneliti, dan pembuat kebijakan.

Hama serangga utama:

·   Penggerek batang / penggerek tongkol (stem borers, e.g., Chilo spp., Busseola spp.), merusak batang/tongkol, dapat mematahkan tanaman.

·    Ulat grayak / ulat daun (Spodoptera spp.), terutama Spodoptera frugiperda (Fall Armyworm/FAW), menyerang daun, dapat menyebabkan defoliaasi berat; menjadi isu invasif sejak beberapa tahun terakhir di Indonesia.

·            Walangsangit, wereng dan pengisap lain (bergantung daerah), dapat menurunkan vigor tanaman.

·            Hama tikus (lokal) dan hama pascapanen (penyimpanan) relevan untuk kerugian total produksi.

Penyakit utama:

·   Bulai (downy mildew/Peronosclerospora spp./Peronosclerospora maydis) menyerang plants, dapat menyebabkan kehilangan tongkol.

·            Karat daun (rust, termasuk southern corn rust / Puccinia polysora)  serangan epidemik dapat menurunkan fotosintesis dan hasil secara substansial. Kasus southern corn rust bersifat merusak dan semakin diperhatikan karena perubahan iklim.

·          Hawar daun, bercak daun, busuk tongkol dan busuk batang (karena fungi seperti Colletotrichum, Fusarium, dll.) memerlukan manajemen sanitasi dan varietas tahan.

Pengendalian

Prinsip umum: utamakan tindakan kultural dan biologis; gunakan insektisida/fungisida secara selektif dan hanya bila ambang tindakan tercapai; lindungi musuh alami; catat dan dokumentasikan hasil intervensi.

1.          Pemantauan dan Identifikasi langkah pertama yang wajib

·         Lakukan pengamatan lapang teratur mulai 10–14 hari setelah tanam, ulang setiap 3–7 hari (fase awal sangat penting). Pola jalan memeriksa X/zig-zag pada petak produksi. Catat jenis gejala, stadium larva, dan intensitas.

·      Gunakan perangkap feromon atau perangkap lem (sticky traps) untuk penggerek/serangga dewasa jika tersedia; gunakan data untuk penjadwalan tindakan.

2.          Ambang Tindakan

·       Ambang tindakan bervariasi menurut sumber. Rentang yang sering direkomendasikan pengendalian dipertimbangkan jika 20–40% tanaman terinfestasi pada tahap whorl/vegetatif, atau 3 larva/plant pada beberapa pedoman, beberapa studi menetapkan ambang ekonomi yang lebih rendah (sekitar 10–12%) untuk varietas pendek/tinggi nilai ekonomis. Oleh karena itu gunakan ambang lokal yang disepakati, dan pilih nilai konservatif bila risiko tinggi.

·        Untuk penggerek batang, apabila terdapat gejala lubang masuk/larva banyak pada >10–15% tanaman muda, aktifkan tindakan pengendalian terpadu (kombinasi kultural + hayati/kimia bila perlu).

3.          Pengendalian Kultural (prioritas dan mudah diterapkan)

·         Tanam serentak (area/cluster) untuk memutus siklus hama dan mengurangi sumber infestasi lokal.

·    Pergiliran tanaman (rotasi) dengan palawija/tanaman non inang untuk mengurangi tekanan hama spesifik batang/akar.

·   Pengolahan tanah, pembalikan dan penguburan sisa tanaman (deep plowing) untuk mengurangi populasi pupae/larva pada sisa tanaman; pembersihan gulma yang menjadi inang alternatif.

·       Pemilihan varietas tahan/toleran: gunakan varietas yang direkomendasikan Balit/BBPT (mis. varietas yang dilaporkan tahan terhadap bulai/karat/hawar). Penggunaan varietas tahan mengurangi kebutuhan aplikasi kimia.

·         Pengaturan jarak tanam dan kepadatan agar mendapat ventilasi baik (mengurangi kelembaban mikro yang mendukung penyakit jamur).

4.          Pengendalian Mekanik dan Fisik (untuk lahan kecil/petani kecil)

·         Pemetikan/rubbing telur atau larva kecil pada kasus infestasi awal (efektif untuk FAW bila larva masih berkelompok).

·         Perangkap buatan, perangkap feromon untuk penggerek dewasa, lampu perangkap pada skala kecil.

5.          Pengendalian Hayati (biologis) upaya berkelanjutan dan ramah lingkungan

·      Musuh alami, pelihara parasitoid (mis. Cotesia spp., Trichogramma spp.) dan predator generalis, hindari aplikasi insektisida broad-spectrum yang membunuh musuh alami.

·         Entomopatogen, penggunaan Bacillus thuringiensis (Bt) topikal, Baculovirus (NPV) spesifik (saat ada) dan jamur entomopatogen (e.g., Metarhizium, Beauveria) untuk sasaran larva. Produk-produk ini cocok untuk program IPM dan aman bagi lingkungan.

·  Botanik/biopestisida, neem (azadirachtin), ekstrak tanaman lain dapat digunakan sebagai suplemen/penundaan perkembangan larva pada program skala kecil.

6.          Pengendalian Kimia

Prinsip, gunakan bahan yang berkhasiat, selektif bila mungkin, rotasi kelompok bahan aktif untuk mencegah resistensi, dan patuhi label (dosis, interval, PPE). Pelatihan aplikasi (kalibrasi alat semprot) wajib.

Rekomendasi praktis bahan kimia (pilihan umum berdasarkan efikasi dan keamanan relatif)

·      Spinosad / Spinetoram (keluarga spinosyns) efektif terhadap larva pengisap/ulat dan memiliki profil relatif selektif terhadap banyak musuh alami; sering direkomendasikan pada dosis label.

·   Chlorantraniliprole (keluarga diamide) efikasi baik terhadap FAW dan penggerek batang, namun waspadai potensi perkembangan resistensi sehingga wajib rotasi.

·        Emamectin benzoate, indoxacarb, novaluron disebutkan efektif di beberapa studi lapang, pilih sesuai rekomendasi lokal.

·        Fungisida untuk karat/hawar/penyakit daun: strobilurin dan triazol (atau formulasi campuran) dapat dipertimbangkan pada fase awal gejala/epifitotik; prioritas pada varietas rentan dan kondisi cuaca lembap. Lakukan aplikasi berdasarkan pemantauan dan rekomendasi lokal.

7.          Manajemen Resistensi

·         Rotasi kelompok bahan aktif (mode of action berbeda) setiap musim atau aplikasi berurutan untuk mengurangi risiko resistensi.

·         Integrasikan taktik non-kimia untuk menurunkan frekuensi aplikasi kimia.

8.          Penanganan Pascapanen dan Sanitasi

·   Pengelolaan residu tanaman (pembakaran tidak direkomendasikan; lebih baik pemotongan dan penguburan/difermentasi bila perlu) untuk mengurangi sumber inokulum/hama.

·         Penyimpanan umbi/panen harus kering, bersih, dan terlindung dari tikus/serangga penyimpang.

Saran

1.       Bangun kelompok pengamatan (monitoring group) antarpetani di satu desa: tanam serentak dan saling bertukar data serangan. Hal ini efisien untuk memutus siklus OPT.

2.     Pelatihan identifikasi cepat, berikan panduan lapangan (foto larva/stadium) dan gunakan aplikasi sederhana untuk lapor cepat.

3.          Katalog varietas lokal, prioritaskan varietas yang dilaporkan tahan terhadap penyakit utama (mengurangi ketergantungan pada fungisida).

4.          Pencatatan intervensi, tiap tindakan (tanggal, bahan, dosis, hasil) harus dicatat untuk evaluasi efektivitas dan pengelolaan resistensi.

5.         Kampanye penggunaan Pupuk Berimbang: tanaman sehat lebih toleran terhadap serangan; namun hindari pemberian nitrogen berlebih yang memicu defoliaasi dan memperparah serangan serangga/penyakit.

 

Rekomendasi

1.    Perkuat sistem monitor-peringatan dini untuk mendeteksi gelombang invasif dan mengkoordinasikan respons antar-wilayah.

2.      Dukungan riset varietas tahan dan manajemen penyakit (penelitian adaptasi varietas tahan karat, bulai, hawar di sentra produksi).

3.      Program pelatihan dan distribusi biopestisida teruji untuk skala kecil; sertifikasi produk dan uji lapang untuk memastikan kualitas.

4.   Panduan nasional IPM jagung yang mengintegrasikan ambang tindakan lokal, daftar bahan yang direkomendasikan, dan protokol rotasi bahan aktif untuk mencegah resistensi.

Pengendalian hama dan penyakit jagung yang efektif memerlukan kombinasi tindakan terstruktur: monitoring yang baik, tindakan kultural preventif, pemanfaatan musuh alami dan biopestisida, serta penggunaan bahan kimia yang selektif dan bertanggung jawab bila ambang ekonomi tercapai. Peran penyuluh dalam transfer teknologi, pelatihan aplikasi, dan koordinasi antar-petani sangat menentukan keberhasilan program IPM di lapang. Implementasi rekomendasi di atas hendaknya disesuaikan kondisi agroekologi lokal, varietas yang digunakan, dan sumber daya komunitas tani.

 Dari berbagai sumber