Loading...

SL TEMATIK JARWO

SL TEMATIK JARWO

Meningkatkan Hasil Panen Padi melalui Sistem Tanam Jajar Legowo

Pendahuluan

Apa itu Jajar Legowo?

Istilah Jajar Legowo berasal dari bahasa Jawa, yaitu kata lego yang berarti luas dan dowo yang berarti memanjang. Sistem tanam ini dilakukan dengan cara menyisakan satu barisan kosong di antara beberapa barisan tanaman padi. Kombinasi antara barisan tanaman dan barisan kosong ini disebut sebagai satu unit legowo. Tujuan utama dari sistem ini adalah memberikan ruang tumbuh yang lebih luas sehingga tanaman padi dapat memperoleh cahaya matahari, udara, dan unsur hara secara optimal.

Sistem Jajar Legowo memiliki beberapa tipe, antara lain Legowo 2:1, 3:1, dan 4:1, yang menunjukkan jumlah barisan tanaman sebelum diselingi satu barisan kosong. Pemilihan tipe disesuaikan dengan tujuan budidaya, baik untuk peningkatan produksi gabah maupun untuk menghasilkan benih bermutu.

Manfaat Sistem Tanam Jajar Legowo

Penerapan sistem Jajar Legowo memberikan berbagai manfaat bagi petani. Salah satu manfaat utama adalah meningkatnya populasi tanaman padi hingga 20–30% dibandingkan sistem tanam konvensional. Dengan meningkatnya populasi tanaman, potensi produksi gabah juga menjadi lebih tinggi.

Selain itu, sistem ini mempermudah kegiatan pemeliharaan seperti penyiangan, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit karena adanya lorong kosong di antara barisan tanaman. Pemupukan menjadi lebih efisien karena dapat difokuskan langsung pada barisan tanaman, sehingga penggunaan pupuk dapat dihemat.

Manfaat lainnya adalah peningkatan mutu gabah. Semua tanaman memperoleh efek pinggir, yaitu kondisi di mana tanaman mendapatkan paparan sinar matahari yang lebih maksimal. Kondisi ini meningkatkan proses fotosintesis sehingga menghasilkan gabah yang lebih bernas dan berkualitas. Lingkungan lahan yang lebih terbuka juga membantu mengurangi kelembapan, sehingga menekan perkembangan hama dan penyakit serta mengurangi gangguan tikus.

Persiapan Lahan dan Penanaman

Keberhasilan sistem Jajar Legowo sangat ditentukan oleh persiapan lahan dan teknik penanaman yang tepat. Lahan sawah perlu dibajak dan digaru hingga tanah menjadi gembur dan rata, kemudian diberi pupuk kandang untuk meningkatkan kesuburan tanah. Pengaturan air harus diperhatikan agar unsur hara tidak hanyut.

Garis tanam dibuat menggunakan alat bantu dari kayu atau tali agar barisan tanaman lurus dan rapi. Bibit padi dipindahkan ke lahan pada umur 10–15 hari setelah semai, saat bibit masih memiliki cadangan nutrisi yang cukup untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Penanaman dilakukan pada kondisi air sawah macak-macak, dengan kedalaman tanam dangkal sekitar 2–3 cm dan jumlah bibit satu hingga dua batang per lubang.

Perawatan Tanaman

Perawatan tanaman pada sistem Jajar Legowo menjadi lebih efektif berkat adanya barisan kosong. Pemupukan dilakukan dengan cara ditabur dari lorong kosong ke arah kiri dan kanan barisan tanaman sehingga satu kali jalan dapat mencakup dua barisan sekaligus. Metode ini menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Pengelolaan air juga lebih mudah karena aliran air dapat diatur dengan baik melalui lorong-lorong tersebut.

Perbandingan dengan Sistem Tanam Tegel

Dibandingkan dengan sistem tanam tegel, Jajar Legowo memang membutuhkan benih dan tenaga kerja yang sedikit lebih banyak pada tahap awal. Namun, peningkatan kualitas dan kuantitas gabah yang dihasilkan mampu menutupi kekurangan tersebut. Pemeliharaan tanaman menjadi lebih mudah dan hasil panen yang diperoleh umumnya lebih tinggi dan berkualitas.

Kesimpulan

Sistem tanam padi Jajar Legowo merupakan inovasi budidaya yang efektif untuk meningkatkan produksi dan mutu gabah. Dengan populasi tanaman yang lebih tinggi, paparan sinar matahari yang optimal, serta pemeliharaan yang lebih efisien, sistem ini mampu meningkatkan pendapatan petani dan mendukung pertanian padi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penerapan sistem Jajar Legowo sangat dianjurkan sebagai solusi untuk mewujudkan panen padi yang lebih berlimpah dan berkualitas di Indonesia.