Loading...

SL TEMATIK PANEN DAN PASCAPANEN PADI

SL TEMATIK PANEN DAN PASCAPANEN PADI

Pendahuluan

Padi merupakan komoditas pangan utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Permintaan beras terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, namun peningkatan produksi belum mampu mengimbanginya secara optimal. Salah satu penyebab utama adalah tingginya kehilangan hasil panen dan rendahnya mutu gabah serta beras akibat penanganan panen dan pascapanen yang belum tepat.

Panen dan pascapanen merupakan rangkaian kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari sistem produksi padi. Kesalahan pada salah satu tahap dapat menyebabkan kerugian kuantitas dan kualitas hasil secara signifikan.

Pengertian Panen dan Pascapanen

Panen adalah kegiatan pemungutan hasil tanaman padi di lapangan, yang meliputi pemotongan batang, pengumpulan, dan penyimpanan sementara. Sementara itu, pascapanen adalah serangkaian kegiatan setelah panen hingga diperoleh produk setengah jadi atau siap konsumsi, seperti gabah kering giling dan beras.

Penanganan pascapanen bertujuan agar hasil pertanian aman dikonsumsi, memiliki mutu baik, serta bernilai ekonomi tinggi.

Kriteria dan Cara Panen Padi

Penentuan waktu panen yang tepat sangat penting. Panen dilakukan ketika 90–95% gabah telah berwarna kuning keemasan, dengan kadar air sekitar 22–23% pada musim kemarau dan 24–26% pada musim hujan. Panen yang terlalu dini atau terlambat akan meningkatkan kehilangan hasil dan menurunkan mutu beras.

Panen dapat dilakukan secara manual menggunakan ani-ani atau sabit, maupun secara mekanis menggunakan reaper. Panen mekanis lebih efisien karena membutuhkan tenaga kerja lebih sedikit dan mampu menekan susut hasil hingga di bawah 2%.

Tahapan Pascapanen Padi

Kegiatan pascapanen meliputi:

  1. Pengumpulan dan pengangkutan – dilakukan segera untuk mencegah pemanasan dan kerusakan gabah.

  2. Perontokan – dapat dilakukan secara manual atau mekanis. Perontokan mekanis terbukti lebih efisien dan menghasilkan kehilangan lebih rendah.

  3. Pengeringan – bertujuan menurunkan kadar air gabah agar aman digiling dan disimpan. Pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran atau mesin pengering.

  4. Penggilingan – dilakukan pada gabah dengan kadar air sekitar 14% untuk menghasilkan beras bermutu.

  5. Penyimpanan – beras harus disimpan dalam kondisi kering, bersih, berventilasi baik, serta bebas hama.

Dampak Penanganan Pascapanen

Penanganan panen dan pascapanen yang kurang tepat menyebabkan kehilangan hasil hingga 20,5%. Selain itu, mutu beras menjadi rendah akibat kerusakan fisik, kimiawi, dan biologis. Sebaliknya, penerapan teknologi panen dan pascapanen yang tepat mampu meningkatkan mutu, daya saing produk, serta pendapatan petani.

Penutup

Panen dan pascapanen padi sawah memegang peranan strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Upaya perbaikan teknik panen dan pascapanen harus terus dilakukan melalui penerapan teknologi, peningkatan keterampilan petani, serta dukungan sarana dan prasarana. Dengan penanganan yang baik, kehilangan hasil dapat ditekan, mutu beras meningkat, dan kesejahteraan petani dapat terwujud.