Loading...

ADA APA DENGAN SAPI BALI KU .. MENGAPA KURUS DAN BULUNYA KASAR

ADA APA DENGAN SAPI BALI KU .. MENGAPA KURUS DAN BULUNYA KASAR
Dinamakan Sapi Bali karena memang penyebaran populasi bangsa sapi ini terdapat di pulau bali. Sapi bali (Bos sondaicus) adalah salah satu bangsa sapi asli dan murni Indonesia, yang merupakan keturunan asli banteng (Bibos banteng) dan telah mengalami proses domestikasi yang terjadi sebelum 3.500 SM, sapi bali asli mempunyai bentuk dan karakteristik sama dengan banteng. Secara fisik, sapi bali mudah dikenali karena mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Warna bulunya pada badannya akan berubah sesuai usia dan jenis kelaminnya, sehingga termasuk hewan dimoprhism-sex. Pada saat masih “pedet”, bulu badannya berwarna sawo matang sampai kemerahan, setelah dewasa sapi bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi bali betina. Warna bulu sapi bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin sejak umur 1,5 tahun dan menjadi hitam mulus pada umur 3 tahun. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata kembali apabila sapi bali jantan itu dikebiri, yang disebabkan pengaruh hormon testosterone. Kaki di bawah persendian telapak kaki depan dan persendian telapak kaki belakang berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Warna bulu putih juga dijumpai pada bibir atas/bawah, ujung ekor dan tepi daun telinga. Kadang-kadang bulu putih terdapat di antara bulu yang coklat (merupakan bintik-bintik putih) yang merupakan kekecualian atau penyimpangan yang ditemukan sekitar kurang daripada 1%. Bulu sapi bali dapat dikatakan bagus (halus) pendek-pendek dan mengkilap. Ukuran badan berukuran sedang dan bentuk badan memanjang. Badan padat dengan dada yang dalam. Tidak berpunuk dan seolah-olah tidak bergelambir Kakinya ramping, agak pendek menyerupai kaki kerbau. Pada tengah-tengah (median) punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam Tanduk pada sapi jantan tumbuh agak ke bagian luar kepala, sebaliknya untuk jenis sapi betina tumbuh ke bagian dalam. Secara fisual sapi bali yang sehat akan memperlihatkan warna bulu terlihat cerah, agak mengkilap, dan halus. Mata terlihat putih susu dan memiliki pupul yang jernih, Sedangkan sekitar kelopak mata tidak berair, pada feses tidak encer. Sedangkan kondisi badan terlihat berisi dan padat. Jika secara fisual sapi bali memperlihatkan tanda-tanda bulu kasar atau jigrak, sapi kurus, di tambah mata berair, feses cenderung encer dan disekitar anus terlihat kotor bekas feses ini bisa di indikasikan sapi cacingan. Menurut (Chairunnisa, 2008) Gejala cacingan tergantung dari jenis cacing yang menyerang ternak. Pada umumnya, ternak menunjukkan gejala kurus, bulu kusam dan berdiri, diare atau bahkan sembelit, nafsu makan ternak berkurang, telinga sapi tampak terkulai, dan bagian anus ternak terlihat kotor akibat diare bahkan tidak jarang pada kasus yang parah, dapat ditemukan cacing pada feses ternak. Namun, pada kasus cacingan yang masih awal gejala sulit diamati . Apa yang menjadi penyebab sapi cacingan....? Penyakit cacingan umumnya disebabkan oleh kesalahan dalam pola pemberian pakan, faktor-faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan dan curah hujan. Kebersihan kandang yang tak terjaga juga menjadi pemicu terjadinya penyakit ini. Pedet cenderung lebih mudah terkena cacingan meskipun penyakit cacingan dapat menyerang semua umur. Metode pemeliharaan secara tradisional cenderung lebih beresiko terserang penyakit cacingan dibandingkan dengan pemeliharaan yang lebih modern Bagaimana pencegahannya....? Cara paling sederhana untuk mencegah penyakit cacingan adalah menghindari faktor penyebab terjadinya penyakit. Kebersihan kandang harus selalu terjaga. Hindari kandang yang lembab dan becek agar tidak menjadi sumber pertumbuhan cacing. pengembalaan ternak terlalu pagi sebaiknya di hindari karena larva cacing biasanya banyak ditemukan dipermukaan rumput yang masih basah. Agar dapat memutus siklus hidup cacing, sebaiknya ternak digembalakan secara bergilir yang artinya ternak tidak digembalakan secara terus menerus. Kualitas pakan yang baik juga mampu menurunkan resiko terjadinya penyakit ini. Selain itu, pastikan ternak mendapat program pemberian obat cacing mulai dari pedet hingga dewasa yang diulang 3-4 bulan sekali untuk membasmi siklus hidup cacing tersebut. Sumber : umbarprov.go.id/home/news/9563-karakteristik-sapi-bali chairunnisa, 2018 mencegah sapi mengalami cacingan ; https://ternak-sehat.fkh.ugm.ac.id/2018/12/04/mencegah-sapi-mengalami-cacingan/#:~:text=Gejala%20cacingan&text=Pada%20umumnya%2C%20ternak%20menunjukkan%20gejala,ditemukan%20cacing%20pada%20feses%20ternak