meningkatnya populasi penduduk di seluruh dunia selalu diiringi oleh peningkatan kebutuhan akan pangan. sementara lahan produsi pangan cenderung stagnan atau justru bahkan berkurang. kenyataan ini membuat kita semua terlebih para ahli berfikir keras melalukan berbagai inovasi untuk memdapatkan cara baru atau teknologi baru dalam peningkatan produksi pangan. sistem jajar legowo atau sering disebut jarwo adalah salah satu inovasi teknologi baru dalam bidang pertanian khususnya dalam hal sistem tanam. teknologi sistem tanam konvensional adalah sistem tegel yang telah dilakukan petani selama puluhan tahun. dalam sisitem tanam tegel sering kita perhatikan bahwa keadaan tanaman pinggir dan tengah kondisinya berbeda. bagian pinggir terlihat lebih subur dengan malai yang lebat sementara di bagian tengah tampak lebih kurus dengan malai tidak begitu lebat. dalam kondisi ekstrim, sering nampak jelas terlihat tanaman bagian tengah lebih rendah dengan malai lebih pendek dan sedikit. disinilah kurang lebih sebagai dasar pemikiran jajar legowo diberlakukan. apa itu jajar legowo? jajar legowo berasal dari dua kata yaitu jajar dan legowo. jajar berarti tanaman disusun/ditanam berjajar. legowo berarti lego(jawa) , lapang, luang dan dowo(jawa)/ memanjang. jadi jajar legowo berati menanam padi dengan barisan berjajar 2,3, atau 4 dengan jarak tanam tertentu sehingga ada ruang kosong atau dengan menghilangkan satu barisan memanjang. tujuan terpenting dalam sistem jarwo adalah sedapat mungkin memperbanyak tanaman-tanaman pinggir. semua barisan rumpun berada pada bagian pinggir memberi hasil lebih tinggi (efek tanaman pinggir). pada awalnya peningkatan jumlah populasi /rumpun juga menjadi tujuan sistem jajar legowo dengan asumsi semakin tinggi populasi (legowo isi) hasil produksi semakin meningkat. tapi pada kenyatannya setelah dilakukan beberapa kali ujicoba di kampung goras jaya baik berupa demplot, kaji terap, dem farm maupun sekolah lapang sistem tanam jajar legowo, hal tersebut tidak terbukti signifikan di lapangan. bibit dapat ditanam dengan sistem jajar legowo disesuaikan dengan kondisi lapangan dengan jarak tanam sesuai dengan kesuburan dan ketersediaan air. semakin subur lahan maka jarak tanam bisa semakin lebar. demikian juga dengan indikasi peningkatan hasil. dalam beberapaklai ujicoba tersebut peningkatan hasil belum terlihat signifikan. namun demikian dapat dipastikan dalam beberapa kali uji coba baik jajar legowo 2:1, 3:1, maupun 4:1 tidak menurunkan hasil. sesuatu yang semula sangat dikuatirlkan petani sebab kehilangan rumpun tanam per satuan luas (legowo kosong). dalam perkembangannya sistem jajar legowo tetap diminati oleh sebagian petani. hal positif yang menjadi alasan petani untuk terus menerapkan sistem ini adalah kemudahan dalam perawatan. adanya ruang kosong memudahkan petani dalam pemupukan, pengendalian hama, dan pengaturan air. dalam pemupukan, petani membuktikan bahwa jajar legowo dapat meningkatkan efisiensi dalam penyerapan pupuk/unsur hara, serta dapat menekan tingkat kehilangan pupuk. sedangkan dalam hal pengendalian hama mejadi lebih mudah terutama dalam penyemprotan. namun perkembngan jajar legowo di kampung goras jaya dan juga di kampung lainnya di kecamatan yang berbeda berjalan relatif lambat. hal ini disebablan oleh beberapa kendala antara lain: jumlah benih yang dibutuhkan leboih banyak untuk jarak tanam tertentu, upah buruh tanam ;lebih mahal, dan hasil yang tetap sama. beberapa musim terakhir, petani lebih memilih untuk menerapkan jajar legowo 2:1 dibanding dengan lainnya. selain karena menggunakan rice transplanter (indo jarwo transplanter) juga karena telah merasakan keungtungan berupa peningkatan hasil dan kemudahan perawatan. kami yakin pada akhirnya jarwo akan diminati oleh petani dengan beberapa modifikasi dan inovasi di lapangan. (penulis: tasmin, thl tbpp kampung goras jaya kecamatan bekri lampung tengah).