Loading...

AGENSIA HAYATI

AGENSIA HAYATI
Kondisi pertanian dewasa ini semakin memprihatinkan. Tanah semakin rusak akibat pemupukan kimiawi/sintetis yang tidak berimbang.Penggunaan pestisida sintetis yang berlebihan menyebabkan kerusakan ekosistem. Tentu dibalik kondisi ini masih ada semangat untuk kembali kepada pertanian yang sehat dan alami. Salah satunya adalah gencarnya penggunaan pestisida nabati dan agen hayati dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pengendalian hayati akhir-akhir ini juga banyak mendapat perhatian dunia dan seringkali dibicarakan di dalam seminar atau kongres, serta ditulis dalam naskah jurnal atau pustaka khususnya yang berkaitan dengan penyakit tanaman.Pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan agens pengendali hayati muncul karena kekhawatiran masyarakat dunia akibat penggunaan pestisida kimia sintetis. Adanya kekhawatiran tersebut membuat pengendalian hayati menjadi salah satu pilihan cara mengendalikan patogen tanaman yang harus dipertimbangkan. Penggunaan agen hayati diyakini memiliki kelebihan karena sesuai dengan prinsip keseimbangan ekosistem, memanfaatkan musuh alami dari hama dan penyakit pengganggu tanaman pertanian. Agen hayati memiliki kelebihan : 1. Selektif, artinya mikroba dalam agen hayati tidak akan menyerang organisme yang bermanfaat bagi tumbuhan karena agen hayati hanya akan menyerang hama penyakit sasaran. 2. Sudah tersedia di alam. Sebenarnya secara alami agen hayati sudah tersedia di alam, namun karena penggunaan pestisida yang tidak sesuai menyebabkan keseimbangan ekosistem mulai goyah dan populasinya terganggu. 3. Mampu mencari sasaran sendiri, karena agen hayati adalah makhluk hidup yang bersifat patogen bagi organisme pengganggu, maka agen hayati dapat secara alami menemukan hama dan penyakit sasarannya. 4. Tidak ada efek samping. 5. Relatif murah. 6. Tidak menimbulkan resistensi organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sasaran. Kekurangan agen hayati : 1. Bekerja secara lambat. Kondisi ini seringkali membuat petani tidak sabar menunggu hasilnya dan menganggap agen hayati tidak manjur. Akhirnya petani kembali beralih ke pestisida kimiawi. 2. Sulit diprediksi hasilnya. Perkembangabiakkan agen hayati setelah diaplikasikan sangat tergantung dengan ekosistem. Pada saat pengaplikasian, jika kondisinya mendukung, maka pertumbuhan agen hayati akan maksimal. 3. Lebih optimal jika digunakan untuk preventif (pencegahan), karena membutuhkan waktu untuk pertumbuhannya. Kurang cocok digunakan untuk kuratif (penyembuhan penyakit), apalagi saat terjadi ledakan hama karena bekerja secara mandiri. 4. Pada jenis hayati tertentu sulit dikembangkan secara massal. Oleh : Mujiyono, SP BPP Kecamatan Trangkil Kab. Pati Sumber : http://agensia-hayati.blogspot.co.id/2014/07/sekilas-tentang-agens-hayati.html