Di lahan pasang surut Sumatera Selatan banyak dijumpai beras batik. Beras batik adalah beras yang mempunyai mutu serta harga jual rendah. Sebagai gambaran, beras mutu ini mempunyai butir patah yang tinggi, persentase beras kepala hanya sekitar 25%, sedangkan butir kuningnya sangat tinggi dapat mencapai lebih 50%, dengan harga jual hanya Rp.1800/kg. Penyebab utamanya yaitu penanganan panen dan pasca panen padi yang buruk, proses panen dan pengeringan yang mengalami penundaan karena kurangnya tenaga kerja dan fasilitas yang dimiliki oleh petani. Kondisi tersebut diperburuk lagi dengan curah hujan yang masih tinggi pada saat panen dan terkadang bersamaan dengan pasang besar. Untuk mengatasi masalah tersebut telah diintroduksi alat pengering padi yang sering kita sebut box dryer atau oleh petani dikenal dengan sebutan oven yang dalam hal ini berbahan bakar sekam. Alat pengering gabah berbahan bakar sekam ini pertama kali diujicobakan di lahan pasang surut Desa Upang Kecamatan Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan. Proyek Sistem Usaha Pertanian (SUP) Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan Badan Litbang Pertanian pada tahun 19982000 telah melakukan demontrasi dan pelatihan bagi operator alat dan pemilik RMU yang memiliki box dryer. Setelah pelaksanaan demo tersebut, banyak petani/pengusaha penggilingan padi (RMU) yang mulai mengoperasikan alat yang selama ini idle, dan bahkan para pemilik RMU yang belum memiliki alat berlomba-lomba membuat box dryer bahan bakar minyak (BBM) dengan berbagai modifikasi secara lokal spesifik dengan bimbingan para peneliti dan penyuluh, di antaranya peneliti pasca panen (Sutrisno) dari Balitpa dan peneliti BPTP Sumsel. Pada tahun 2004 penggunaan box dryer BBM oleh para petani/pemilik RMU telah berkembang pesat, terutama di Delta Telang dan Delta Saleh. Kendala investasi alat yang harganya mahal dan tidak terjangkau karena menggunakan bahan plat besi untuk bak pengering, diatasi dengan pembuatan bak pengering bahan dari tembok yang harganya lebih murah. Rancang bangun tungku sekam model ABC kapasitas 3 ton dilakukan pada tahun 2003 di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi). Kapasitas tungku sekam dirancang sebesar 3 ton, hal ini disesuaikan dengan kapasitas box dryer BBM bantuan pemerintah yang sudah tersebar di petani di berbagai daerah. Tungku ini akan difungsikan sebagai suplemen untuk menggantikan fungsi burner BBM pada box dryer sebagai sumber panas pengeringan. Dengan demikian box dryer BBM akan berubah menjadi box dryer BBS (bahan bakar sekam), dengan hanya menyisipkan tungku sekam ke dalam sistem alat pengering box dryer yang ada. Sejak tahun 2004-2008, sebanyak 70 unit box dryer telah dikembangkan secara swadaya, bahkan 1 unit pengering yang dimodifikasi oleh Bengkel Santoso di Plaju, Palembang sudah digunakan di Nias Selatan, Sumut. Kelebihan box dryer BBS kapasitas 3 ton antara lain: 1) Waktu pengeringan rata-rata 10 jam, lebih cepat dibandingkan dengan penjemuran yang lamanya 1-2 hari, 2) Rendemen pengeringan rata-rata meningkat 2,5%, 3) Rendemen beras giling rata-rata meningkat 2,5%, 4) persentase beras kepala rata-rata meningkat 17%, 5) Biaya pengeringan rata-rata sebesar Rp.25/ kg GKP berarti lebih rendah dibandingkan dengan biaya penjemuran (Rp.50/kg GKP), dan (6) Harga jual beras rata-rata meningkat sebesar Rp.300/kg. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, akibat terjadinya peningkatan rendemen dan mutu beras giling serta penurunan biaya pengeringan, pendapatan petani dapat ditingkatkan sebesar ± Rp 1.500.000,-/ha (1 ha = 6 ton GKP). Sumber : Budi Raharjo, BPTP Sumatra Selatan