Loading...

Alat Tanam Jagung : Solusi Mudah dan Praktis Bertanam Jagung Hibrida

Alat Tanam Jagung : Solusi Mudah dan Praktis Bertanam Jagung Hibrida
Akhir tahun 2019, menjadi tantangan besar bagi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kabupaten Sumenep. Bagaimana tidak,, beberapa bantuan benih jagung hibrida turun menjelang musim penghujan dalam jumlah yang lumayan banyak. Artinya, kami perlu menyiapkan fikiran dan tenaga untuk melakukan pendampingan kepada kelompok tani/petani. Salah satu kendala yang sering ditemukan dilapangan adalah petani melakukan penanaman jagung hibrida dengan cara diteter. Hal ini berdasarkan pada kebiasaan petani ketika membudidayakan jagung local. Salah satu keluhan petani dalam membudidayakan jagung hibrida dengan system barisan menggunakan jarak tanam tertentu adalah meningkatnya kebutuhan tenaga, waktu dan tentunya berkorelasi dengan pengeluaran. Alat tanam jagung (Corn Seed Planter) merupakan solusi dari permasalahan tersebut. Cara kerja cukup sederhana yaitu dengan didorong tanpa menggunakan tenaga mesin. Jarak tanam dan jumlah biji per lubang pun bisa diatur sesuai dengan rekomendasi. Seperti halnya yang dilakukan oleh Bapak Matharis, Ketua Poktan Nyek Konyek Gunung, Desa Longos, Kecamatan Gapura. Biasanya beliau menanam jagung hibrida dengan cara diteter, namun kali ini berbeda yaitu menggunakan alat tanam jagung. Jarak tanam yang direkomendasikan adalah 70 cm x 20 cm atau menggunakan system jajar legowo 80 cm x 40 cm x 20cm dengan arah barisan Timur-Barat. Jumlah biji per lubang pada kondisi normal direkomendasikan yaitu 1 biji/lubang, namun karena datangnya hujan belum terlalu intensif maka alat disetel untuk mampu mengeluarkan 2 biji/lubang. Lahan yang ditanamipun tidak dibajak, melainkan menggunakan sisten TOT (Tanpa Olah Tanah) mengingat lokasi tanam belum banyak tumbuh rumput dan tekstur tanahnya yang berpasir. Dengan menggunakan alat tanam jagung, petanipun hanya membutuhkan minimal 2 tenaga kerja yaitu untuk mengoperasikan alat tanam dan memindahkan tali. Berdasarkan pengalaman, luasan lahan 0.2 Ha (tegalan) mampu diselesaikan dalam 2 jam. Mudah, praktis dan hemat. Namun, tak ada gading yang tak retak,,alat inipun memiliki kelemahan. Alat tanam jagung efektif digunakan pada tanah yang mengandung sedikit lempung (tanah berpasir). Penggunaan alat tanam jagung pada tanah yang berlempung seperti tanah sawah membuat tanah lengket pada alat sehingga menghambat kerja alat bahkan bisa mengakibatkan kerusakan pada alat. Selain itu, lubang tanam juga tidak terlalu dalam atau bahkan ujung besi tidak bisa menembus permukaan tanah. Oleh karena itu, perlu dicek terlebih dahulu tekstur dan kondisi tanah yang akan ditanami, lebih-lebih jika merupakan lahan sawah. Kelemahan berikutnya adalah alat tanam jagung tidak bisa digunakan pada tanah yang berbatu dan bergelombong (tidak rata). Pembajakan tanah dengan system pembajakan rotary disarankan agar permukaan tanah rata dan gembur sehingga alat tanam bisa digunakan dengan mudah. Sedangkan untuk tanah berbatu direkomendasikan menggunakan penanaman dengan cara ditugal. Melalui diseminasi teknologi budidaya jagung hibrida ini diharapkan mampu memotivasi petani dan mengubah persepsi petani sehingga mau mengikuti petunjuk teknis yang direkomendasikan. Pendampingan akan terus dilakukan dalam tahapan demi tahapan budidaya jagung hibrida, agar diperoleh hasil maksimal, baik dalam hal perubahan PKM (Pengetahuan, Keterampilan dan Minat) petani maupun hasil produksi. Ditulis Oleh DELLY HOS KAPILA, SP BPP GAPURA