Loading...

Alih Fungsi Lahan Singkong ke Jagung di Lampung: Strategi Bertahan Hidup Petani

Alih Fungsi Lahan Singkong ke Jagung di Lampung: Strategi Bertahan Hidup Petani

Alih Fungsi Lahan Singkong ke Jagung di Lampung: Strategi Bertahan Hidup Petani

 

Di tengah ketidakpastian harga dan pasar singkong, para petani di sejumlah wilayah Lampung mulai mengambil langkah baru untuk bertahan hidup: mengganti tanaman utama mereka dengan jagung. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Bagi sebagian besar petani, singkong tidak lagi menjanjikan keuntungan seperti beberapa tahun sebelumnya. Ketergantungan terhadap pasar ekspor dan fluktuasi harga membuat pendapatan petani menjadi tidak stabil. Akibatnya, jagung kini menjadi pilihan yang dinilai lebih prospektif dan menguntungkan.

 

Harga Singkong yang Tak Stabil Memaksa Petani Beralih

Selama bertahun-tahun, singkong menjadi komoditas utama di Lampung. Tanaman ini cocok untuk lahan kering dan dianggap sebagai salah satu sumber penghasilan penting di daerah tersebut. Namun dalam beberapa tahun terakhir, harga singkong mengalami penurunan tajam. Petani pun mengeluhkan kondisi ini karena hasil panen yang melimpah tidak diimbangi dengan harga jual yang layak. Para Petani sering merugi akibat harga jual singkong yang anjlok saat musim panen tiba. Hal ini mendorong mereka untuk mencoba beralih menanam jagung sebagai alternatif.

 

Jagung Memberikan Harapan Baru

Jagung dinilai memiliki pasar yang lebih pasti dibandingkan singkong. Permintaannya terus meningkat, terutama sebagai bahan utama pakan ternak. Selain itu, pemerintah turut mendorong peningkatan produksi jagung melalui berbagai program bantuan seperti penyediaan benih unggul, subsidi pupuk, hingga pembangunan infrastruktur pertanian seperti gudang pengering dan penyimpanan.

Menurut data Dinas Pertanian Provinsi Lampung, pada tahun 2024, luas tanam jagung di provinsi ini mengalami peningkatan yang signifikan. Produksi jagung pun diperkirakan naik lebih dari 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah daerah menyebut bahwa jagung menjadi salah satu komoditas strategis yang mendukung ketahanan pangan dan pakan nasional. Lampung sendiri ditargetkan menjadi salah satu lumbung jagung utama di Indonesia. Ketersediaan pasar lokal untuk jagung, terutama dari industri pakan ternak, menjadi keunggulan tersendiri yang membuat penyerapan hasil panen jagung relatif lebih terjamin.

 

Tantangan dalam Proses Peralihan

Meski menjanjikan, proses alih fungsi lahan dari singkong ke jagung tidak berjalan tanpa hambatan. Petani menghadapi tantangan baru, terutama dalam hal teknik budidaya. Tanaman jagung membutuhkan perhatian lebih besar dibandingkan singkong, mulai dari pemupukan, pengendalian hama, hingga penanganan pasca panen. Di sisi lain, biaya produksi jagung yang menggunakan benih hibrida juga relatif lebih tinggi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi petani kecil yang memiliki keterbatasan modal.

 

Tantangan juga muncul dari aspek lingkungan. Jika peralihan lahan dilakukan secara masif tanpa perencanaan, hal ini dapat menimbulkan degradasi tanah dan mengancam keberlanjutan pertanian jangka panjang. Kesuburan tanah bisa menurun jika tidak dibarengi dengan rotasi tanaman atau teknik konservasi yang memadai.

 

Diperlukan Dukungan Nyata Pemerintah

Agar alih fungsi ini berhasil dan berkelanjutan, dukungan dari pemerintah menjadi hal yang sangat penting. Petani membutuhkan pendampingan dalam hal teknis, pelatihan budidaya, serta akses terhadap sarana produksi yang terjangkau. Jaminan harga dan skema perlindungan terhadap risiko pasar juga sangat diperlukan.

DPRD Provinsi Lampung telah memberikan rekomendasi kepada petani singkong agar mempertimbangkan peralihan ke komoditas lain seperti jagung atau padi darat. Rekomendasi ini diberikan sebagai respons terhadap keluhan petani mengenai menurunnya keuntungan dari singkong serta kurangnya kepastian pasar, seharusnya pemerintah hadir mendampingi petani dalam masa transisi ini, mulai dari proses tanam hingga pemasaran hasil panen.

 

Menatap Masa Depan Pertanian Lampung

Perubahan pola tanam dari singkong ke jagung menunjukkan bagaimana petani di Lampung beradaptasi terhadap dinamika ekonomi dan perubahan kebijakan. Ini bukan sekadar pergantian komoditas, tetapi juga strategi bertahan hidup di tengah ketidakpastian.

Apabila dikelola dengan baik, alih fungsi lahan ini dapat menjadi peluang besar bagi peningkatan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan daerah. Namun tanpa pendampingan dan kebijakan yang berpihak, perubahan ini justru dapat menimbulkan permasalahan baru, baik secara ekonomi maupun ekologis.

Pertanian membutuhkan keberlanjutan. Oleh karena itu, setiap perubahan perlu direncanakan secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan aspek teknis, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Alih fungsi lahan di Lampung adalah sebuah proses yang menjanjikan, asalkan dilakukan dengan hati-hati dan melibatkan semua pihak terkait guna mendukung swasembada pangan Nasional. 

Andreas Suryanto S.P, BPP Kotabumi Selatan Lampung Utara/Sumber : Badan Litbang Pertanian