Loading...

Analisis Usaha Tani Padi sawah

Analisis Usaha Tani Padi sawah

ANALISA USAHA FINANSIAL PADI SAWAH

Analisis finansial usaha adalah proses perhitungan tentang besarnya seluruh biaya (pengeluaran) yang diperlukan dalam suatu proses produksi, penerimaan dan pendapatan yang akan dan atau diperoleh dari produksi yang dapat dihasilkan dari usaha  tersebut.

Dengan demikian analisis finansial usaha mempunyai tujuan sebagai berikut :

1.      Untuk mengetahui besarnya jumlah modal yang dibutuhkan untuk kegiatan usaha agribisnis dalam skala tertentu.

2.      Untuk mengetahui besar (proyeksi) keuntungan yang akan diperoleh.

3.      Untuk memperhitungkan resiko atau hambatan yang dihadapi dalam proses produksi, sehingga dapat dilakukan antisipasi untuk menghindari kerugian

4.      Untuk melakukan kegiatan efisiensi biaya usaha dalam rangka meningkatkan pendapatan (keuntungan).

5.      Menetapkan rencana usaha dari segi lokasi usaha, skala atau volume usaha, jumlah kebutuhan modal dan sarana usaha, teknologi dan segi pemasaran.

6.      Menetapkan strategi pengelolaan usaha yang berorientasi kepada keuntungan dengan memperhitungkan resiko atau hambatan yang dihadapi dalam proses produksi, sehingga dapat dilakukan antisipasi untuk menghindari kerugian.

Untuk dapat melakukan analisis finansial usaha agribisnis diperlukan kondisi atau prasyarat, sebagai berikut :

1.      penguasaan teknologi yang akan digunakan dalan proses produksi

2.      tersedianya informasi dan data dari hasil pencatatan kegiatan usaha, dan

3.      penguasaan informasi dan data pasar barang atau jasa yang dihasilkan.

Analisis finansial usaha dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

1.   Menetapkan rencana atau skala produksi;

Yang dimaksudkan dengan rencana produksi dalam hal ini adalah skala (volume) usaha dan jenis usaha yang akan dikerjakan.  Hal ini penting untuk dasar dalam perhitungan finansial lebih lanjut, semakin besar skala (volume) usaha akan semakin besar pula kebutuhan modal dan biaya usaha serta semakin komplek pengelolaan usaha dan resiko kecenderungan semakin besar.  Oleh karena itu penetapan rencana skala usaha dibutuhkan banyak pertimbangan baik secara teknis maupun ekonomis.

2.   Menghitung biaya (cost) usaha;

Biaya usaha adalah seluruh pengeluaran dana (korbanan ekonomis) yang diperhitungkan untuk keperluan usaha.  Oleh karena itu dalam analisis finansial dalam rangka kelayakan usaha, biaya usaha haruslah dihitung seluruhnya, baik yang riel (cash/kontan) maupun yang tidak dikeluarkan petani,

a.   Investasi Harta Tetap

Yaitu seluruh biaya yang digunakan untuk investasi harta tetap. Harta tetap adalah sarana prasarana usaha yang mempunyai jangka usia ekonomi atau usia pemakaian yang panjang atau berumur tahunan.  Misalnya : biaya pembangunan Gudang, biaya peralatan, biaya sarana penunjang (seperti: sumur, drainase, Traktor, dll). Di dalam analisis (perhitungan) biaya, investasi harta tetap dihitung nilai atau  biaya penyusutan.

b.   Biaya Operasional Usaha

Yaitu seluruh biaya yang digunakan untuk pelaksanaan proses produksi suatu usaha. Biaya operasional usaha dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :

b.1.     Biaya Usaha atau Biaya Tetap (Fixed Cost/FC)

Yaitu seluruh biaya yang harus dikeluarkan dalam proses produksi untuk menghasilkan suatu produk yang besarnya tetap (konstan), tidak dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan. Dengan demikian biaya usaha dapat diartikan sebagai Biaya Tetap (Fixed Cost).

Misalnya : biaya sewa tanah, biaya penyusutan investasi (alat).

b.2.    Biaya Pokok Produksi (Variable Cost/VC)

Yaitu seluruh biaya yang harus dikeluarkan dalam proses produksi untuk menghasilkan suatu produk yang besarnya tidak tetap dan dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan. Dengan demikian biaya pokok produksi dapat diartikan sebagai Biaya Tidak Tetap (Variable Cost).

Misalnya : benih, Pestisida, sewa alat, tenaga kerja tidak tetap (harian), bahan bakar, dll.

c.   Biaya Penyusutan

Biaya penyusutan hanya diperhitungkan terhadap investasi harta tetap.  Biaya penyusutan yaitu biaya yang harus dikeluarkan dan diperuntukan sebagai pengganti investasi harta tetap, yang pada waktu tertentu tidak dapat digunakan lagi atau rusak. Karena biaya penyusutan diperhitungkan setiap tahun selama masa ekonomi suatu alat maka biaya penyusutan dihitung sebagai biaya tetap (biaya usaha).  Dalam analisis finansial biaya penyusutan dihitung sebagai biaya tetap. Biaya penyusutan dihitung dengan rumus :   Nilai Awal dikurang nilai akhir dibagi dengan umur ekonomisnya.

d.   Total Biaya (Total Cost = TC)

Yaitu hasil penjumlahan dari Biaya Usaha (FC) + Biaya Pokok (VC).

3.   Menghitung penerimaan (revenue) usaha;

Penerimaan usaha yaitu jumlah nilai uang (Rupiah) yang diperhitungkan dari seluruh produk yang laku terjual. Dengan kata lain penerimaan usaha merupakan hasil perkalian antara jumlah produk (Q) terjual dengan harga (P).  Hal ini dapat dimengerti bahwa produk yang dihasil oleh suatu usaha tidak semua dapat atau laku dijual yang dikarenakan misalnya Rusak atau cacat, dikonsumsi sendiri. Harga (P) yang digunakan dalam perhitungan adalah harga pasar. 

4.   Menghitung pendapatan (income) usaha;

Yaitu jumlah nilai uang (Rupiah) yang diperoleh pelaku usaha, setelah Penerimaan (R) dikurangi dengan seluruh biaya atau Total Biaya (TC). Oleh karena itu pendapatan usaha disebut juga sebagai Laba Usaha.

Pendapatan atau Laba Usaha dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu :

a.       Pendapatan / Laba Kotor Adalah penerimaan usaha dikurangi biaya pokok produksi atau biaya tidak tetap.

b.      Pendapatan / Laba Usaha Adalah Laba Kotor dikurangi Biaya Usaha dan Biaya Penyusutan.

c.       Pendapatan / Laba Bersih (Benefit) Adalah Laba Usaha yang telah dikurangi dengan pajak-pajak, bunga bank, dan pajak lain yang berlaku.

5.   Menghitung kelayakan usaha.

Analisis kelayakan usaha agribinis adalah upaya untuk mengetahui tingkat kelayakan atau kepantasan dari suatu jenis usaha untuk di usahakan, dengan melihat beberapa parameter atau kriteria kelayakan tertentu.  Dengan demikian suatu usaha dikatakan layak kalau keuntungan yang diperoleh dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkan, baik biaya yang langsung maupun yang tidak langsung.

Analisis kelayakan usaha penting dilakukan guna menghindari kerugian dan untuk pengembangan serta kelangsungan usaha. Secara finansial kelayakan usaha dapat dianalisis dengan menggunakan beberapa indikator pendekatan atau alat analisis, seperti menggunakan Titik Pulang Pokok (Break Event Point/ BEP), Revenue-Cost ratio (R/C ratio), Benefit-Cost ratio (B/C ratio), Payback Period, Retur of Investment, dll. Pada usaha skala kecil (mikro) disarankan paling tidak menggunakan BEP dan R/C ratio atau B/C ratio sebagai alat analisis kelayakan agribisnis.       

1.  Titik Pulang Pokok (Break Event Point/BEP)

BEP adalah situasi dimana suatu usaha tidak mendapatkan keuntungan tetapi juga tidak menderita kerugian usaha. Ditinjau dari sisi pengelola, situasi BEP bukan berarti merugi secara keuangan, hanya saja dari segi waktu mereka rugi karena waktu selama produksi (usaha) tidak memperoleh pendapatan lebih sebagai keuntungan usaha.

Ada 2 (dua) pendekatan penetapan BEP, yaitu :

a.   BEP Unit (Produksi)

Yaitu jumlah produksi (unit) yang dihasilkan dimana produsen pada posisi tidak rugi dan tidak untung. Dengan kata lain BEP satuan menjelaskan jumlah produksi minimal yang harus dihasilkan oleh produsen.

Misalnya diketahui hasil perhitungan BEP Unit = 6 Ton.  Maka apabila produsen memproduksi kurang dari 6 Ton, maka akan rugi atau tidak layak, sebaliknya bila produksi lebih dari 6 Ton, akan diperoleh keuntungan atau layak.

b.   BEP Harga

Yaitu tingkat atau besarnya harga per unit suatu produk yang dihasilkan produsen pada posisi tidak untung dan tidak rugi.  Dengan kata lain BEP harga menjelaskan besarnya harga minimal perunit barang yang ditetapkan produsen.

Misal, diketahui hasil perhitungan BEP harga = Rp. 4000,-. Maka apa bila produsen memproduksi dengan HPP (HargaPokok Penjualan) kurang dari Rp. 4000-, maka akan rugi atau tidak layak, sebaliknya bila HPP lebih besar dari Rp. 4000,-, akan diperoleh keuntungan atau layak.

2.   R/C Ratio

R/C ratio adalah besaran nilai yang menunjukan perbandingan antara Penerimaan usaha (Revenue = R) dengan Total Biaya (Cost = C).  Dalam batasan besaran nilai R/C dapat diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak menguntungkan.  Secara garis besar dapat dimengerti bahwa suatu usaha akan mendapatkan keuntungan apabila penerimaan lebih besar dibandingkan dengan biaya usaha.

Ada 3 (tiga) kemungkinan yang diperoleh dari perbandingan antara Penerimaan (R) dengan Biaya (C), yaitu :

§  R/C = 1, BEP

§  R/C > 1, Layak / Untung dan

§  R/C < 1, Tidak Layak / Rugi.

D. Rincian Analisa Usaha Tani Padi

Secara terperincian analisa usahatani padi sawah dengan luasan 1 Ha sawah pada 1 kali musim tanam adalah sebagai berikut :

No

Uraian

Harga Satuan (Rp)

Total

(Rp)

1.

Biaya Input

 

 

 

Biaya Tetap

 

 

 

-          Sewa Lahan

20.000

1.400.000

 

Biaya Variable

 

 

 

Sarana Produksi

 

 

 

-          Benih 25 kg

12.000

300.000

 

-          Pupuk Organik 5000 kg

700

3.500.000

 

-          Pupuk Urea 200 kg

 1.800

360.000

 

-          Pupuk NPK 300 kg

 2.500

750.000

 

-          Pestisida 2 ltr

75.000

150.000

 

Biaya Tenaga Kerja

 

 

 

-          Pengolahan Lahan

150.000

1.050.000

 

-          Pencabutan Bibit + Penanaman  20 HKW

40.000

800.000

 

-          Penyiangan + Pemupukan ke 1 20 HKW

40.000

800.000

 

-          Penyiangan + Pemupukan ke 2 20 HKW

40.000

800.000

 

-          Penyemprotan 4 HKP

50.000

200.000

 

-          Panen dan pasca panen                   3 HKP

50.000

150.000

 

15 HKW

40.000

600.000

 

-          Pengangkutan 8 HKP

50.000

400.000

Input Total  A + B

 

RP. 11.260.000

2

Penerimaan

 

 

 

-          Hasil Panen 6,5 Ton GKP

4800

Rp. 31.200.000

Keuntungan = Out Put – Input Total

 

Rp. 19.940.000

Analisis Kelayakan Usaha

1.      Revenue and Cost Ratio (R/C ratio)   = Pendapatan / Total Biaya

= 31.200.000 / 11.260.000

= 2,7

Hasil analisa diatas menunjukkan bahwa nilai R/C ratio 2,7,dan menunjukan > 1 berarti usahatani tersebut layak untuk di usahakan.

2.      BEP (Break Event Point)

-          BEP Unit (Volume Produksi) =

=

= 2.346 kg

            Artinya Titik balik modal Usaha akan tercapai pada tingkat Volume Produksi sebanyak 2.346 Kg untuk 1x Panen.

-          BEP Harga (Harga Produksi) =

=

= Rp.1.733/Kg

            Artinya Tititk balik modal tercapai bila harga GKP, Rp. 1733/kg.