Loading...

Antisipasi Blast

Antisipasi Blast
ANTISIPASI POTONG LEHER ( BLAST)Oleh :Imam Sopingi,SP Penyakit potong leher sebenarnya sudah lama ada di Indonesia namun untuk daerah Tulungagung khususnya di wilayah kecamatan Bandung masih baru dikenali karena sebelumnya penyakit ini tidak banyak berpengaruh dalam penurunan hasil panen padi sehingga petani tidak menganggap penyakit berbahaya, namun sejak dua tahun terakhir ini penyakit potong leher dianggap penting untuk diperhitumgkan dalam usaha budidaya tanaman padi karena bisa berpengaruh menurunkan hasil panen lebih dari 50%. Penyakit potong leher disebabkan oleh cendawan pyricularia orizae, dengan gejala serangan diawali sejak fase vegetatip, yaitu dengan tanda-tanda adanya bercak coklat belah ketupat yang memanjang di bagian tengah atau pinggir daun.Bila pada masa ini tidak segera dilakukan pengendalian maka bercak ini bisa sebagai sumber spora cendawan yang akan menjangkiti sebagian besar tanaman padi di sekitarnya dan semakin meluas dalam kondisi apapun baik cuaca hujan atau kering. Sehingga sampai masuk ke fase generatip cendawan pyricularia orizae ini semakin merajalela, tidak hanya menjalar di daun padi saja tetapi juga menginfeksi organ tanaman yang lain termasuk bagian bulir gabah dan tangkainya atau malai. Pada saat serangan mengenai malai inilah yang mengakibatkan gagal panen karena malai yang terinfeksi cendawan pyricularia orizae akan busuk lalu kering sehingga sari makanan dari daun hasil fotosintesa tidak bisa disalurkan ke bulir-bulir gabah yang akhinya malai nampak layu dan akhirnya kering kelihatan putih tidak berisi.Upaya penanggulangan dapat dilakukan dengan cara: A. Saat sebelum sebar benih yaitu dengan cara memasukan benih padi kedalam larutan fungisida untuk potong leher, misalnya TOP SIN selama 6 jam. Aturanya 5 cc topsin dilarutkan dalam 20 ltr air untuk 10 kg benih padi. B.Saat pemeliharaan di lahan yaitu melakukan tindakan preventip dengan cara penyemprotan fungisida topsin pada umur padi 30 hst, disusul umur 45 hst dan dilanjutkan umur 60 hst dan diulang tiap seminggu sekali sampai umur 90 hst. Namun yang tidak kalah pentingnya dalam pengantisipasian terhadap serangan penyakit potong leher adalah penerapan pengendalian terpadu salah satunya adalah kegiatan pengamatan rutin jadi akan tahu gejala serangan sejak dini dan pemilihan varitas yang tidak rentan terhadap serangan potong leher. Seperti di desa Ngepeh varitas inpari 4 dan inpari 6 lebih tahan terhadap potong leher bila di banding dengan varetas ciherang.Sumber Referensi:Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ,Balai Pengkajian Tenologi Pertanian Jawa Timur 2009, Inovasi Teknologi Pengelolaan Padi Sawah Secara Terpadu.