Loading...

ANTISIPASI DAN PENGENDALIAN HAMA ULAT BULU

ANTISIPASI DAN PENGENDALIAN HAMA ULAT BULU
I. PENDAHULUAN Akhir-akhir ini hama ulat bulu sedang ramai dibicarakan, di masyarakat, media maupun di kalangan akademis. Ulat bulu dalam jumlah yang sangat banyak tidak hanya hidup di dedaunaan atau batang tanaman,sehingga mengganggu produktifitas tanaman, tetapi sudah berkembang dan berada di setiap tempat di sekitar tanaman, dalam rumah, serta halaman. Populasi ulat bulu yang sangat ini tentu saja mengganggu aktifitas sehari-hari. Perkembangan ulat bulu ini tidak serta merta tanpa ada sebabnya. Menurut beberapa sumber, ledakan populasi ulat bulu ini disebabkan oleh faktor pembatas dari ulat bulu sudah tidak bekerja (predator, parasit dan patogen), kerusakan lingkungan dan anomali cuaca (ozon menipis, es mencair, udara lebih panas/lembab), sehingga ulat berkembang lebih cepat.. Predator ulat bulu antara lain semut rangrang dan burung berkicau yang banyak ditangkap. Selain itu, perilaku manusia yang kurang bijak atau karena alasan kepraktisan dalam penggunaan pestisida. Masyarakat senang dengan efek penggunaan pestisida yang langsung terlihat, hama mati. Akan tetapi, tidak disadari makhluk hidup lain termasuk predator pemakan ulat, kepompong atau telur ulat bulu ikut mati. Selain faktor di atas masyarakat memandang, bahwa ulat yang hidup ditanaman buah/hortikultura, merupakan hama tidak penting, sehingga perkembangannya tidak terlalu diperhatikan, untuk kemudian dikendalikan. Hal ini juga merupakan salah satu penyebab terjadinya ledakan hama ini. II. ANTISIPASI DAN PENGENDALIAN Terdapat dua spesies ulat bulu yang menyerang daun mangga di Probolinggo, yakni Arctornis sp dan Lymantria atemeles Collenette. Ulat bulu itu bersifat nokturnal, yakni ulat yang aktif pada malam," katanya. Sedangkan di Purworejo sudah dijumpai ulat bulu jenis Daychera indusa. Ulat ini berbulu dan berwarna coklat. Meskipun bulunya bisa mengakibatkan gatal-gatal di kulit bila tersentuh, tapi tidak sepanas ulat berbulu yang berwarna hitam. Jenis bulu ulatnya tidak segatal ulat berbulu yang berwarna hitam. Selain tanaman mangga, tanaman hortikultura lainyang disukai ulat bulu adalah jambu, belimbing dan rambutan. Untuk mengantisipasi supaya ulat berbulu tidak cepat berkembang, bisa dilakukan : 1. Penyemprotan. Dilakukan jika ulat belum dewasa/mmncul bulu dilakukan penyemprotn dengan pestisida kontak dengan dosis tertentu. 2. Membakar. Masyarakat diharap untuk menyapu atau mengumpulkan ulat bulu untuk dibakar. Jangan sampai ulat-ulat yang jatuh ke tanah itu dibiarkan menjadi kepompong. Sebab apabila menjadi kepompong, sulit dimusnahkan dan bisa menjadi kupu-kupu. Setelah menjadi kupu-kupu, satu kupu-kupu bisa berubah menjadi 300 ulat berbulu. 3. Mengurangi kelembaban. Antisipasi lain yang bisa dilakukan adalah mengurangi kelembaban. Caranya dengan mengurangi jumlah cabang dan daun tanaman. Hal ini dilakukan, karena ulat akan lebih cepat berkembang pada kondisi lembab. 4. Pengasapan Untuk mengantisipasi meluasnya serangan (artinya sudah ada ulat tapi tidak banyak), maka dapat dilakukan pengasapan. Pengasapan paling mudah adalah membakar sampah dibawah pohon yang berulat. 5. Penyuntikan. Dilakukan pada tanaman jika ulat sudah muncul bulu, maka perlu disuntik dengan menggunakan pestisida sistemik. Sumber lain mengatakan bahwa pengendalian hama ulat bulu ini sebenarnya tidak sulit dan sudah dilakukan. Upaya pengendalian yang disarankan adalah : 1) Pengamatan populasi ulat bulu pada permukaan daun bagian bawah diperlukan agar populasinya dapat dipantau sesegera mungkin; 2) Pengasapan, pengumpulan dan pemusnahan ulat dan pupa sangat dianjurkan; 3) Penggunaan agen hayati Metarhizum sp, Beauveria sp. atau Verticillium sp; 4) Penyemprotan pestisida yang efektif dilakukan secara massal dan serentak; 5) Langkah pengendalian jangka panjang dilakukan identifikasi lebih lanjut tentang biologi ulat, agroekologi ulat. III. PENUTUP Setelah mengetahui hal yang dimungkinkan sebagai sebab, maka yang perlu dilakukan adalah menghilangkan penyebabnya. Yang paling mudah adalah melakukan pengamatan. Selanjutnya jika terlihat tanaman terlalu rimbun, maka dilakukan pemangkasan. Jika sudah terlihat ada kotoran ulat dibawah pohon, maka lakukan pengendalian (dikumpulkan dan dibakar, disemprot atau menyuntik tanaman dengan pestisida). Namun demikian, langkah antisipatif jangka panjang adalah dengan mengubah perilaku. Bersinergi dengan alam, dengan menjaga keseimbangan ekosistem adalah paling utama. Ledakan populasi ulat bulu ini tidak lain karena perilaku manusia yang kurang bijak. Karena itu, biarkan burung berkicau hidup bebas, biarkan semut rang-rang berkembang biak, gunakan pestisida sebagai alternatif pengendalian terakhir dan dengan dosis wajar, dan bersama-sama ikut menjaga agar bumi tidak semakin panas yang menyebabkan perubahan iklim global. Oleh : Desty Lina Erfawati, SP (THL TBPP, BPK Gebang, Kab.Purworejo, Jawa Tengah)