Loading...

Antisipasi Kemarau Panjang, Peternak Mulai Awetkan Hijauan

Antisipasi Kemarau Panjang, Peternak Mulai Awetkan Hijauan
Antisipasi Kemarau Panjang, Peternak Mulai Awetkan Hijauan (Irsyam Syamsuddin-BPK Mattiro Bulu) Kendala klasik yang sering dialamai oleh peternak khususnya ruminansia adalah fluktuatifnya ketersediaan pakan hijauan, dimana pada musim hujan produksinya melimpah sedangkan pada musim kemarau sangat terbatas. Mengingat musim kemarau yang masih berlangsung sampai sekarang dan sebagai antisipasi jika terjadi kemarau panjang maka para peternak sapi yang tergabung dalam kelompoktani-ternak Lingga-lingga Desa Alitta, Kecamatan Mattirobulu, Pinrang mulai melakukan pengawetan hijauan. Jenis hijauan yang diawetkan yaitu rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang diambil dari kebun rumput milik kelompok. Sementara paket teknologi yang diterapkan adalah silase, mengingat teknologi ini sangat mudah diaplikasikan dan tidak memerlukan penambahan tenaga dan biaya yang besar. Pengawetan hijauan ternak di Desa Alitta ini dilakukan secara berkelompok. Pengawetan hijauan dimulai dengan mengambil rumput segar yang sedang dalam pertumbuhan terbaik untuk selanjutnya dikurangi kadar airnya menjadi 60% dengan cara ditegakkan. Rumput kemudian dipotong sepanjang 1-5 cm secara manual menggunakan parang, mengingat mesin pemotong (chopper) yang biasa digunakan peternakan sedang tidak berfungsi dengan baik. Sebagai pengawet, digunakan bahan yang memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dimana bahan yang banyak tersedia di daerah ini adalah dedak. Jumlah dedak yang digunakan sebanyak 5% dari berat rumput. Kedua bahan tersebut dicampur secara homogen sebelum dimasukkan ke dalam silo. Karena jumlah rumput yang digunakan tidak terlalu banyak maka silo yang digunakan hanya silo plastik ukuran sedang. Rumput yang telah dicampur dengan dedak, kemudian dimasukkan ke dalam silo sedikit demi sedikit sambil ditekan/diinjak agar terjadi pemadatan. Hal ini dilakukan agar tidak terdapat ruang untuk udara, mengingat ensilase (proses terjadinya silase) hanya bisa berlangsung dalam kondisi anaerob. Setelah semua rumput masuk, silo kemudia diikat rapat menggunakan plaster. Silo disimpan di tempat yang kering, di atas silo diberi batu untuk menekan agar udara yang mungkin terkurung bisa keluar. Butuh waktu 21 hari untuk silase sempurna. Silase yang baik terlihat dari ciri-ciri fisik seperti warnanya masih tetap hijau dan teksturnya jelas seperti aslinya, tidak berjamur dan belendir, sedang rasa dan baunya asam. Silase dapat disimpan dalam beberapa tahun sebagai stok pakan dengan kualitas nutrisi yang tidak berkurang sama sekali. Jika silo dibuka, rumput sebaiknya dianginanginkan terlebih dahulu sebelum diberikan ke ternak.