Inovasi untuk peningkatan produksi komoditas jagung adalah dengan penerapan Indeks Pertanaman (IP) 400 yang di terapkan pada lahan kering. Peningkatan produksi jagung melalui penerapan IP 400 atau 4 kali tanam selama satu tahun (365 hari) dapat dilakukan dengan cara tanam sisip ( relay planting ) sebelum panen pertanaman I (pertama). Adapun varietas jagung yang ditanam dapat dari jenis komposit maupun hibrida yang memiliki umur sekitar 100 hari, dengan cara tanam sisip dapat menghemat siklus waktu yang diperlukan yaitu hanya sekitar 340 sampai 355 hari. Dalam penerapan IP 400, penanaman dilakukan 4 kali dan panen dilakukan 4 kali, jika menggunakan varietas jagung yang berumur lebih dari 100 hari maka waktu yang diperlukan akan lebih dari 400 hari, sementara siklus satu tahun hanya 365 hari, sehingga penerapan hanya dapat dilakukan dengan cara tanam sisip 15 hari sebelum pertanaman I (pertama) di panen sehingga di perlukan waktu berkisar antara 340 - 350 hari selama setahun serta harus menggunakan varietas jagung yang memiliki umur sekitar 100 hari. Namun, untuk menerapkan IP 400 dalam usahatani jagung yang di laksanakan pada lahan kering, diperlukan antisipasi terhadap permasalahan yang kemungkinan terjadi antara lain : (1) panen saat musim hujan sehingga perlu adanya pengering untuk prosesing hasil panen karena biji mudah berjamur dan bahkan tumbuh jika tidak secepatnya dikeringkan; (2) tenaga kerja harus cukup tersedia untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkesinambungan dan tidak dapat ditunda; (3) penyakit busuk batang saat musim hujan perlu diwaspadai dan diperlukan drainase yang memadai serta jangan sampai daun bagian bawah menyentuh permukaan tanah, untuk itu perlu dilakukan penghilangan daun yang sudah mulai tua; dan (4) pemupukan pada daerah yang mempunyai curah hujan tinggi perlu pemberian yang tepat waktu, dalam arti pemberian pupuk dilakukan saat cuaca cerah agar pupuk yang diberikan tidak terlarut oleh air hujan sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh akar tanaman. Inovasi teknologi tanaman jagung dengan IP 400 berpeluang dapat diterapkan oleh para petani di berbagai daerah dengan memperhatikan beberapa hal yang perlu dipenuhi (persyaratan) antara lain adalah terkait dengan lokasi pertanaman jagung, keadaan lahan, ketersediaan tenaga kerja dan varietas yang akan digunakan. Untuk penerapan IP 400, maka lokasi pertanaman jagung harus tersedia cukup air saat diperlukan, terutama pada saat musim kemarau. Keadaan lahan pertanaman tidak mudah tergenang pada saat musim penghujan, dan apabila tergenang, maka air harus mudah untuk di keringkan. Mengingat pertanaman jagung dengan IP 400 membutuhkan tenaga kerja yang cukup tersedia untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkesinambungan dan tidak dapat ditunda, maka keberadaan tenaga kerja di lokasi pertanaman harus cukup tersedia dan tidak menjadi masalah. Penggunaan varietas jagung yang akan di tanam harus varietas yang memiliki umur sekitar 100 hari, karena dengan umur pendek ini dapat di lakukan pertanaman sisip (relay planting) agar dapat di panen 4 kali dalam setahun. Dengan dipenuhinya persyaratan tersebut diatas, maka kita telah mengantisipasi permasalahan dalam penerapan IP 400 pada tanaman jagung sehingga peluang keberhasilan usahatani jagung dengan penerapan IP 400 sangat besar, dan peningkatan produktivitas lahan akan tercapai. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com Sumber: IP 400 Cara Cepat Meningkatkan Produksi Jagung, Zubachtirodin dan A.M. Adnan, Balitsereal dalam Agroinovasi Sinar Tani Edisi 26 Januari - 1 Pebruari 2011. No. 3390 Tahun XLI.