Istilah perubahan iklim menjadi kian santer terdengar akhir-akhir ini, apalagi dengan banyaknya kejadian bencana yang menimpa negeri kita maupun di Negara lain. Ada yang beranggapan bahwa kejadian-kejadian bencana di dunia ini sebagai salah satu akibat dari perubahan iklim yang drastis. Di sisi lain, pemahaman terhadap perubahan iklim itu sendiri masih sebatas pada bombastisnya kata-kata tersebut ditampilkan dalam berita-berita di media, belum sampai menyentuh ke kalangan pelaku terdampak, petani misalnya, yang kegiatan pertaniannya sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim. Harian Kompas, 22 Desember 2010, memberitakan telah terjadi perubahan cuaca ekstrem terburuk dan langka terjadi di Australia pada hari Senin (20/12/2010). Salju tiba-tiba turun menutupi sebagian benua yang seharusnya sedang mengalami musim panas. Sementara itu, di wilayah Eropa juga telah terjadi musim dingin yang ekstrim dan datangnya lebih cepat dari seharusnya; dan di wilayah Asia, khususnya di Indonesia, telah terjadi musim hujan yang berkepanjangan. Perubahan cuaca yang ekstrem tersebut, telah mengakibatkan kerugian materi dan merenggut korban jiwa yang tidak sedikit. Gambaran singkat ini hanya ingin menunjukkan bahwa, disadari atau tidak, perubahan iklim global telah hadir bersama kita; dan upaya untuk memperlambat laju perubahan iklim, untuk mencegah terjadinya perubahan cuaca ekstrem yang lebih buruk lagi, sudah harus dijadikan komitmen dan dilakukan saat ini juga oleh seluruh masyarakat dunia, baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri. Untuk membangun komitmen dan kesadaran masyarakat maupun individu terhadap pentingnya melakukan upaya pencegahan dan adaptasi atas perubahan iklim; maka perlu diberikan pemahaman yang utuh dan mudah dimengerti, serta disesuaikan dengan kegiatan atau pekerjaan utamanya. Sebagai contoh, upaya pencegahan dan adaptasi untuk masyarakat di sektor pertanian/perdesaan akan berbeda dengan masyarakat di sektor industri/perkotaan. Di indonesia sendiri sudah kita rasakan beberapa waktu yang lalu mulai tahun 2008 perubahan iklim sudah terjadi, kemudian tahun 2009 perubahan iklim semangkin dirasakan dibeberapa daerah terjadi kemarau panjang tetapi di daerah lain terjadi hujan berkepanjangan sehingga terjadi banjir. Pada tahun 2010 yang lalu terjadi perubahan iklim yang semankin ekstrim dimana musim hujan semangkin panjang di suatu daerah sehingga terjadi banjir yang merusak wilayah pertanian, sebaliknya di daerah lain terjadi kemarau yang berkepanjangan sehingga terjadi kekeringan di lahan pertanian. Perkiraan Badan Meteorologi dan Geofisika Dunia dan Indonesia pada tahun 2011 ini akan terjadi perubahan iklim yang lebih buruk dari tahun 2010 yang lalu. Disarankan kepada para penyuluh pertanian dan petani di seluruh wilayah Indonesia, dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim yang terjadi di wilayah kita masing - masing dan mengupayakan supaya usaha tani pertanian kita misalnya padi supaya tetap memberikan hasil yang baik, salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan jalan memilih varietas padi yang tahan hama penyakit. Karena dengan terjadinya perubahan iklim misalnya hujan yang berkepanjangan maka hama penyakit padi akan lebih cepat dan banyak muncul. Disarankan kepada para petani padi gunakanlah varietas Inpari 13 yang tahan akan beberapa hama penyakit, secara rinci dekripsi varietas Inpari 13 diuraikan di bawah ini ; Deskripsi Padi Sawah Varietas Inpari 13 No.pedagri : OM 1490 Asal : OM606/IR18348-36-3-3 Golongan : Cere Umur Tanaman : ± 99 hari Bentuk tanaman : Tegak Tinggi tanaman : ±102 cm Anakan produktif : ±17 batang Warna kaki : Hijau Warna telinga daun : Putih Warna daun : Hijau Permukaan daun : Kasar Posisi daun : Tegak Posisi daun bendera : Tegak Warna batang : Hijau Kerebahan : Sedang Kerontokan : Sedang Bentuk gabah : Panjang ramping Warna gabah : Kuning bersih Jumlah gabah per malai : ± 124 butir Rata - rata hasil : 6,6 ton/ha GKG Potensi hasil : 8,0 ton/ha GKG Berat 1000 butir : + 25,2 gram Tekstur nasi : Pulen Kadar amilosa : + 22,4% Ketahanan terhadap hama : Tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1,2 dan 3 Ketahanan terhadap penyakit : Tahan terhadap penyakit blas ras 033, agak tahan terhadap penyakit blas ras 133, 073, dan 173 agak rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, IV Keterangan : Cocok ditanam di ekosistem sawah tadah hujan dataran rendah sampai ketinggian 600 dpl Pemulia : Nafisa, Cucu Gunarsih, Bambang Suprihatno, Aan A, Drajat, Trias Sitaresmi, Moch Yamin Samaullah. Peneliti : Baehaki SE, Triny SK, Suprihanto, Pribadi Wibowo, Anggiani Nasution, Rina Dirgahayu, A.A Kamandalu Akmal, Ali Imran, Zairin. Teknisi : Thoyib S. Ma'ruf, Maman Suherman, Uan, D.S Karmita, Meru, Holil Munawar, Yahya Suhaya, Suwarsa, Dede Munawar. Pengusul : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Oleh : Dr. Ibrahim Saragih / Penyuluh Pertanian Sumber : Badan Litbang, Peta Kerentanan Sektor Pertanian dan Dampak Perubahan Iklim, 2010, Jakarta Kementan, Kenali dan Pahami Perubahan Iklim, 2010, Jakarta SK Menteri Pertanian No 2143/Kpts/SR.120/6/2010