Peningkatan produksi dan produktivitas padi menjadi fokus utama arah kebijakan bidang pertanian. Namun demikian terdapat faktor pembatas dalam mewujudkan tujuan tersebut terdiri dari faktor biotik dan abiotik. Adanya serangan OPT merupakan ancaman dari faktor biotik. Tikus merupakan salah satu hama utama tanaman padi. Sifatnya yang mudah beradaptasi, pemakan segala, memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi serta dapat menyerang pada berbagai fase pertumbuhan tanaman menyebabkan hama ini cukup sulit dikendalikan Hal ini dikarenakan tikus memiliki tingkat reproduksi yang tinggi sehingga populasinya sangat cepat meningkat. Tingkat kehilangan hasil yang disebabkan tikus juga cukup tinggi. Pengendalian dengan menggunakan racun tikus maupun perangkap listrik dinilai kurang efektif dan kurang ramah lingkungan sehingga perlu dikembangkan cara pengendalian yang lebih ramah lingkungan, efisien dan dengan biaya murah. Faktor lain yang juga sangat berpengaruh dalam menentukan produktivitas adalah pupuk dan kesuburan tanah. Pupuk dapat meningkatkan produktivitas tanaman sebesar 15-75%. Kenaikan harga pupuk secara global dan perubahan regulasi pupuk bersubsidi menyebabkan tingginya harga pupuk. Pemanfaatan pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan tanaman masih belum banyak dilakukan petani secara luas walaupun banyak kelebihan dengan aplikasi pupuk organik. Salah satunya yang berpotensi untuk dikembang adalah pupuk organik dari urin kelinci. Selain sebagai sumber pupuk, pupuk organik dari urin kelinci juga berpotensi dalam pengendalian tikus. PORICI atau Pupuk Organik Urin Kelinci merupakan pupuk organik cair hasil dari fermentasi urin kelinci baru dengan penambahan agens hayati yang bermanfaat bagi pertanaman. Pengembangan pupuk organik yang berasal dari urin hewan yang dapat bermanfaat sebagai pupuk dan dapat digunakan dalam usaha pengendalian OPT belum banyak dimanfaatkan petani. Cara pembuatannya yang mudah, biaya murah dan ramah lingkungan sangat berpotensi untuk dikembangkan. Kegiatan aplikasi PORICI dalam mengendalikan tikus ini disebut APIK (Aplikasi Porici sebagai pengendalI Tikus). Waktu aplikasi PORICI di lahan disesuaikan dengan kondisi serangan tikus di masing-masing lokasi. Untuk daerah endemik tikus, kegiatan APIK sudah dimulai sejak awal persemaian yaitu ketika sebar benih. Kegiatan ini sudah oleh petani dilakukan di Kecamatan Palabuhanratu dan Bantargadung Kabupaten Sukabumi. Petani sudah merasakan manfaat dari kegiatan ini melalui efisiensi usaha tani dengan cara pengurangan kehilangan hasil dan peningkatan produksi. Oleh Yuniar Nuraeni, S.P (Penyuluh Pertanian Ahli Pertama) - BPP Bantargadung, Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat