Garda terdepan penyedia pangan adalah petani, untuk itu pangan tidak boleh bersoal apalagi berhenti. Seluruh praktisi pertanian termasuk penyuluh tidak boleh berhenti tetap semangat, karena ketersediaan pangan ada di tangan kita.Tugas utama penyuluh adalah meningkatkan produktivitas dengan mengimplementasikan inovasi teknologi di lapangan. Penyuluh harus bisa mengubah mindset petani yang tadinya tidak mau menjadi mau untuk melakukan inovasi teknologi khususnya Luas lahan rawa di Indonesia 34,1 jt ha, ada 20 jt ha potensial untuk pertanian dimana yang 10 jt ha yang siap untuk dikelola menjadi lahan pertanian. Namun sampai saat ini yang baru dikelola sawah 1 jt ha dan untuk lahan sawit 1,5 jt ha sehingga masih luas potensi lahan rawa yang belum dikembangkan. Lahan rawa karakteristiknya spesial, permasalahan lahan rawa yaitu genangan dan tanahnya masam serta memiliki konsentrasi besi tinggi jika tergenang air dalam lahan. Cara mengatasi permasalahan lahan rawa yaitu kemasaman ditanggulangi dan genangan jangan terlalu lama atau terlalu tinggi sehingga diharapkan dapat digenjot produktivitas dengan pupuk hayati. Lahan rawa merupakan lumbung pangan dan kawasan food estate terintegrasi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Pengembangan lahan rawa meliputi kelestarian sumberdaya, produktivitas, kesejahteraan petani dan efisiensi produksi. Fakta aktual lahan rawa yaitu: 1) tanah masam, 2) keracunan besi dan aluminium, 3) kurang subur, 4) drainase dan tata air tidak optimal, 5) pemupukan kurang efektif dan efisien, 6) dominan menggunakan pupuk anorganik, 7) produktivitasnya rendah. Optimalisasi lahan rawa dengan produktivitas tinggi dapat dilakukan aplikasi inovasi teknologi pupuk hayati. Pupuk Hayati adalah produk biologi aktif terdiri atas mikroba yang telah teridentifikasi sampai minimal tingkat genus dan berfungsi memfasilitasi penyediaan hara secara langsung atau tidak langsung, merombak bahan organik, meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan, dan kesehatan tanah. Peran pupuk hayati yaitu: 1) Memfasilitasi penyerapan hara (bakteri penambat N, mikroba pelarut P), 2) Memacu pertumbuhan tanaman/menekan cekaman biotik & abiotik (mikroba penghasil hormon, enzim, antibiotik, dll), 3) Meningkatkan kualitas dan kesehatan tanah (pemantap agregat tanah, detoksifikasi logam berat dan senyawa beracun, dll). Inovasi teknologi pupuk hayati di lahan rawa yaitu dengan menggunakan pupuk hayati biotara, biosure, marahati dan rhizwa. Komposisi pupuk hayati biotara yatu Trichoderma sp (dekomposer), Azospirillum sp (penambat N), Bacillus sp (pelarut P) dan bahan pembawa. Keunggulan biotara yaitu dapat meningkatkan efisiensi pupuk N dan P sampai 30% serta meningkatkan hasil padi sampai 20%. Dosis penggunaan 25 kg/ha. Cara aplikasi yaitu: 1) gulma/jerami ditebas atau dirotari, 2) biotara disebarkan ke areal lahan dan kemudian dirotari agar tercampur dengan tanah, 3) setelah 7-15 hari, lahan siap ditanami. Biotara dapat meningkatkan hasil padi di rumah kaca sebesar 27,9%. Pengaruh NPK + biotara terhadap produktivitas padi dilahan sufat masam juga terbukti lebih meningkat dibanding dengan penggunaan NPK + urea. Pupuk hayati biosure terdiri atas bakteri pereduksi sulfat (Desulfovibrio sp), bahan pembawa dan air. Keunggulan biosure yaitu dapat meningkatkan pH, mengurangi penggunaan kapur dan meningkatkan hasil padi. Pupuk hayati marahati terdiri atas Trichoderma sp (dekomposer), Azospirillum sp dan Azotobacter sp (penambat N), Bacillus sp (pelarut P) dan bahan pembawa. Manfaatnya yaitu mempercepat proses perombakan bahan organik, meningkatkan ketersediaan hara N dan P tanah, serta memacu pertumbuhan. Keunggulan dari pupuk hayati marahati yaitu meningkatkan efisiensi pemupukan N dan P sampai 25% dan meningkatkan hasil panen sampai 10% di lahan rawa. Cara Penggunaan : 1) Lahan dibajak atau dirotari, 2) Pupuk hayati Marahati dengan dosis 10 kg/ha disebar merata, 3) Setelah 7 - 10 hari, lahan dirotari kembali dan siap ditanami. Pupuk hayati rhizwa diformulasi dari mikroba adaptif lahan rawa untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai. Keunggulannya yaitu mengandung bakteri penambat N (Rhizobium sp.) dan bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas sp.) yang toleran masam, menghasilkan zat pemacu tumbuh, adaptif lahan rawa, meningkatkan ketersediaan dan serapan N dan P serta produksi kedelai. Manfaatnya meliputi mengurangi penggunaan pupuk urea, mengefisienkan pemupukan P, meningkatkan pertumbuhan akar, meningkatkan serapan hara dan meningkatkan produksi kedelai. Berdasarkan luas areal 1 juta ha saja dan potensi limbah pertaniannya, maka diperkirakan potensi permintaan pupuk hayati untuk padi saja sekitar 5.000 – 10.000 t/tahun dan kebutuhan dekomposer 1.500.000 – 3.000.000 t/tahun. Tantangan pengembangan teknologi pupuk hayati di lahan rawa yaitu: 1) Efektivitas tidak terlihat langsung, 2) Masa hidup isolat relatif singkat, sekitar 12 bulan, 3) Penyebaran terbatas, karena tidak semua mampu berkembang pada lokasi berbeda, 4) Masalah budaya, terkait kebiasaan petani dalam penggunaan pupuk hayati. Pupuk hayati berperan mengefisienkan faktor produksi dan meningkatkan produktivitas tanaman berwawasan lingkungan dalam pengembangan lahan rawa berkelanjutan. Seiring dengan program food estate lahan rawa, penggunaan pupuk hayati perlu terus digalakkan. Sumber Materi MSPP volume 30 dan sumber lain (Lilik Winarti, Penyuluh Pertanian)