Loading...

Aplikasi Pupuk Hayati Cair Pada Tanaman Padi Di Kecamatan Bunga Mayang

Aplikasi Pupuk Hayati Cair Pada Tanaman Padi Di Kecamatan Bunga Mayang
Sebagai salah satu upaya meningkatkan hasil tanaman, petani melakukan intensifikasi dengan penggunaan pupuk anorganik dalam jangka panjang tanpa diimbangi dengan pengembalian bahan organikdari sisa hasil tanaman akan berdampak serius pada degradasi tanah. Alternatif cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak kerusakan tanah adalah upaya penambahan pupuk organik dan pupuk hayati yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan membantu meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman. Demonstrasi hasil yang dilakukan oleh beberapa kelompok tani di Kecamatan Bunga Mayang dengan aplikasi pupuk hayati cair yang memiliki kandungan mikroba Azospirillum sp. = 4,90 x 10^7 cfu/ml; Azotobacter sp. = 2,44 x 10^8 cfu/ml; Bacillus sp. = 5,10 x 10^9 cfu/ml; Pseudomonas sp. = 6,80 x 10^9 cfu/ml; Lactobacillus sp. = 1,70 x 10^7 cfu/ml; Saccharomyces sp. = 1,35 x 10^7 cfu/ml; Trichoderma sp. = 1,00 x 10^5 cfu/ml. Pengaplikasian PHC menunjukkan hasil vegetatif tanaman padi yang cukup signifikan yaitu lebar daun dan panjang daun pada 50Hst. Penelitian yang dilakukan oleh Perwita et al. (2017) menunjukkan bahwa perlakuan reduksi pupuk NPK dengan aplikasi pupuk organik dan hayati berpengaruh nyata beberapa parameter vegetatif tanaman. Salah satu kandungan mikroba dalam pupuk hayati cair adalah bakteri Azotobacter sp. yang berpotensi dalam meningkatkan unsur N tersedia di dalam tanah. Azotobacter sp. memiliki kemampuan untuk melakukan penambatan N udara yang jauh lebih besar dari pada mikroba penambat N yang hidup bebas lainnya (Setiawati et al., 2017). Bakteri Azotobacter sp mampu hidup dengan baik di daerah tropis maupun subtropis dan dapat bertahan hidup pada semua jenis tanah dan pada semua jenis tanaman. Selain itu terdapat kandungan Azospirillum sp yang bermanfaat dalam proses pemulihan tanah yang tererosi atau bioremediasi tanah yang terkontaminasi (Cassan et al., 2020). Kandungan lain di dalam pupuk hayati cair seperti Bacillus spp. dipercaya mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung melalui fiksasi nitrogen, pelarutan P dan K, produksi fitohormon, quorum quenching, pembentukan biofilm, dan produksi enzim litik (Khan et al., 2022). Pseudomonas sp yang terkandung dalam pupuk hayati cair dapat digunakan dalam pertanian berkelanjutan untuk meningkatkan promosi pertumbuhan dan manajemen penyakit (Kumar et al., 2017). Selain Pseudomonas, pupuk hayati cair mengandung Lactobacillus sp yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pupuk dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan yang lebih baik pada tanaman sekaligus mengurangi infeksi bakteri (Salim & Jumali, 2020). Selain bakteri, di dalam pupuk hayati cair juga mengandung Saccharomyces sp yang secara signifikan meningkatkan kapasitas penyerapan hara tanaman dengan meningkatkan jumlah nitrat-nitrogen, amonium nitrogen, fosfor tersedia, dan kalium tersedia (Lu et al., 2022). Jenis fungi lain seperti Trichoderma sp juga memiliki potensi yang signifikan untuk mencapai tujuan pertanian berkelanjutan. Meskipun memiliki keunggulan seperti itu, namun petani belum banyak memanfaatkan fungi tersebut dibandingkan dengan pupuk kimia dan pestisida. Trichoderma memiliki kemampuan yang efektif dalam melawan berbagai macam patogen, toleran terhadap stres abiotik dan biotik dan memiliki tingkat tinggi perkembangbiakan dan kolonisasi yang tinggi (Bhandari et al., 2021). Diseminasi informasi terkait keunggulan mikroorganisme yang mampu meningkatkan kesuburan tanah dan dampak buruk dari pupuk dan pestisida kimia masih perlu dilakukan secara terus menerus di tingkat petani untuk menunjang budidaya tanaman padi yang berkelanjutan. (Lia Agustin, S.P. Penyuluh Pertanian Kecamatan Bunga Mayang) Daftar Pustaka Bhandari, S., Pandey, K. R., Joshi, Y. R., & Lamichhane, S. K. (2021). An overview of multifaceted role of Trichoderma spp. for sustainable agriculture. Archives of Agriculture and Environmental Science, 6(1), 72-79. Cassán, F., Coniglio, A., López, G., Molina, R., Nievas, S., de Carlan, C. L. N., ... & Mora, V. (2020). Everything you must know about Azospirillum and its impact on agriculture and beyond. Biology and Fertility of Soils, 56, 461-479. https://doi.org/10.1007/s00374-020-01463-y Khan AR, Mustafa A, Hyder S, Valipour M, Rizvi ZF, Gondal AS, Yousuf Z, Iqbal R, Daraz U. Bacillus spp. as Bioagents: Uses and Application for Sustainable Agriculture. Biology. 2022; 11(12):1763. https://doi.org/10.3390/biology11121763 Kumar, A., Verma, H., Singh, V. K., Singh, P. P., Singh, S. K., Ansari, W. A., ... & Pandey, K. D. (2017). Role of Pseudomonas sp. in sustainable agriculture and disease management. Agriculturally Important Microbes for Sustainable Agriculture: Volume 2: Applications in Crop Production and Protection, 195-215. Lu, H. F., Qi, X. B., Li, P., Qiao, D. M., Rahman, S. U., Bai, F. F., & Cui, J. X. (2022). Effects of Bacillus subtilis and Saccharomyces cerevisiae inoculation on soil bacterial community and rice yield under combined irrigation with reclaimed and fresh water. PerwitaA. D., ChozinM. A., & Sugiyanta. (2017). Pengaruh Reduksi Pupuk NPK serta Aplikasi Pupuk Organik dan Hayati terhadap Pertumbuhan, Produksi dan Mutu Hasil Padi Sawah (Oryza sativa L.). Buletin Agrohorti, 5(3), 359-364. https://doi.org/10.29244/agrob.v5i3.16577 Salim, N. B., & Jumali, S. S. (2020). The use of yogurt bacteria in increasing the growth performance of diseased paddy. International Journal of Agricultural Resources, Governance and Ecology, 16(2), 101-109. Setiawati, M. R., Sofyan, E. T., Nurbaity, A., Suryatmana, P., & Marihot, G. P. (2017). Pengaruh Aplikasi Pupuk Hayati, Vermikompos Dan Pupuk Anorganik Terhadap Kandungan N, Populasi Azotobacter sp. Dan Hasil Kedelai Edamame (Glycine max (L.) Merill) Pada Inceptisols Jatinangor. Agrologia, 6(1), 288786.