Pendahuluan Karet adalah salah satu komoditas utama Provinsi Bangka Belitung. Budidaya karet dilakukan secara turun temurun secara konvensional oleh petani sehingga produktivitas yang dihasilkan masih sangat rendah. Rendahnya produktivtas karet ini disebabkan teknologi budidaya yang diterapkan oleh petani belum sesuai rekomendasi dan petani masih menggandalkan karet alam. Selain itu, usaha tani karet juga dihadapkan pada permasalahan mutu bahan olahan karet (bokar) yang rendah karena inovasi teknologi pascapanen belum diadopsi oleh petani. Mayoritas petani di Bangka Belitung menggunakan tawas sebagai bahan koagulan atau pembeku lateks, bokar tidak digiling tapi dibentuk balok dan direndam dalam kolam. Bokar yang dihasilkan berbau menyengat dan memiliki kadar air tinggi dan sering terkontaminasi material lain seperti tanah, lumpur, pasir, serat kayu, plastik dan lainnya. Salah satu koagulan karet yang direkomendasikan adalah asap cair. Asap cair merupakan suatu hasil kondensasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung lignin, selulosa, hemiselulosa serta senyawa karbon lainnya. Asap cair dapat digunakan sebagai pengumpal karet dan sekaligus dapat mencegah terjadinya bau busuk. Asap cair (liquid smoke) merupakan suatu hasil destilasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran tidak langsung maupun langsung dari bahan yang banyak mengandung karbon dan senyawa-senyawa lain. Bahan baku yang banyak digunakan untuk membuat asap cair adalah kayu, bongkol kelapa sawit, ampas hasil penggergajian kayu, dan lain-lain. Selama pembakaran, komponen dari kayu akan mengalami pirolisa menghasilkan berbagai macam senyawa antara lain fenol, karbonil, asam, furan, alkohol, lakton, hidrokarbon, polisiklik aromatik dan lain sebagainya Asap cair adalah hasil kondensasi yang mengandung asam, bersifat antibakteri dan mengandung senyawa-senyawa phenol seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin, yang terbentuk akibat terjadinya pirolisis; yaitu pembakaran tanpa oksigen yang mendegradasi biomassa menjadi arang, tar dan gas. Disisi lain Limbah kelapa sawit seperti cangkang kelapa sawit memberikan prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai bahan baku asap cair. Teknologi Pembuatan Asap Cair Bahan baku produksi yang disiapkan antara lain cangkang, tandan dan sabut kelapa sawit. Bahan baku kemudian dimasukkan ke tabung reaktor dan ditutup. Dapur pemanas dihidupkan dengan mengatur suhu operasi 300 - 400 oC dan waktu yang dikehendaki. Asap yang keluar dari reaktor kemudian akan mengalir ke kolom pendingin melalui pipa penyalur asap yang terhubung dengan tangki penampung. Setelah itu asap akan terkondensasi dan mencair yang terdiri dari asap cair dan tar, sedangkan asap yang tidak terembunkan akan terbuang melalui selang penyalur asap sisa. Selanjutnya asap cair + tar yang terdapat didalam botol dilakukan pengendapan untuk memisahkan tar dan asap cair. Selanjutnya asap cair diukur dengan menggunakan pH meter . Asap cair dimasukan ke dalam beker glass kemudian pH meter dicelupkan sampai angka yang tertera dalam pH meter stabil.Asap cair yang baik memiliki pH antara 1,5 - 3,7. Dari hasil kajian yang dilakukan oleh Suyatno dkk (BPTP Bangka Belitung) asap cair dengan cangkang menghasilkan pH 2,29 asap cair yang dihasilkan lebih bersifat masam, ini artinya semakin baik karena mikroba yang berspora tidak dapat hidup dan berkembang pada rentang pH ini sehingga pertumbuhan mikroba pembusuk akan terhambat. Asap Cair Sebagai Bahan Penggumpal Karet Dari hasil uji efektivitas yang dilakukan oleh Suyatno dkk dari BPTP Bangka Belitung, yaitu dilakukan pengujian dimana karet di ukur dengan beker glass sebanyak 100 ml lalu di masukkan ke dalam tiap botol. Setelah itu asap cair di ambil dengan pipet volume sesuai dosis yang di cobakan kemudian dicampurkan dengan karet, diaduk rata lalu tunggu sampai menggumpal. Dosis asap cair yang dicobakan yaitu 2,5 ml/100ml maka dihasilkan lama penggumpalan 60 menit, dosis 4 ml/100 ml dihasilkan lama penggumpalan 34 menit dan dosis 5,5 ml/100ml dihasilkan lama penggumpalan 17 menit saja. Produksi dan Karakterististik Lateks dengan Bahan Baku Cangkang Kelapa Sawit Bahan baku yang dapat digunakan untuk mempoduksi asap cair adalah sabut, cangkang dan tandan kelapa sawit. Namun dari hasil penelitian menunjukan bahwa produksi terbaik adalah dengan menggunakan bahan baku cangkang kelapa sawit dengan hasil dapat mencapai 5 liter. Suhu tinggi dan waktu pirolisis yang lama akan menghasilkan lebih banyak asap cair, lebih banyak tar dan sedikit residu arang. Namun jika suhu terlalu tinggi dan waktu pirolisis yang terlalu lama juga akan menyebabkan berkurangnya jumlah asap cair. Lateks adalah getah kental, seringkali mirip susu, yang dihasilkan banyak tumbuhan dan membeku ketika terkena udara bebas. Lateks terdiri atas partikel karet dan bahan bukan karet (non-rubber) yang terdispersi di dalam air. Lateks juga merupakan suatu larutan koloid dengan partikel karet dan bukan karet yang tersuspensi di dalam suatu media yang mengandung berbagai macam zat. Di dalam lateks mengandung 25-40% bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-75% serum yang terdiri dari air dan zat yang terlarut. Asap cair dengan bahan baku cangkang kelapa sawit akan menghasilkan lateks yang berwarna putih, tidak berbau dan lebih keras. Selain itu penggunaan asap cair berbahan baku cangkang juga menghasilkan lateks yang kadar airnya lebih rendah. Dalam segi efisiensi waktu penggumpalan asap cair dengan bahan baku cangkang juga akan menggumpal lateks lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan tawas, asap cair berbahan baku tandan ataupun sabut kelapa sawit.