Loading...

Ayo Produksi Padi di Masa Pandemi Covid 19 dengan Hemat Input

Ayo Produksi Padi di Masa Pandemi Covid 19 dengan Hemat Input
Saat ini, virus corona menjadi wabah yang menyebar di seluruh penjuru dunia. Bermula dari kota Wuhan di Tiongkok, virus corona telah menyebar diberbagai Negara di dunia seperti Italia, Perancis, Iran, Korea Selatan, Malaysia bahkan di Indonesia. Banyak kabar yang beredar terkait cara menghindari virus dan mengurangi penyebarannya. Pemerintah Indonesia juga telah mengeluarkan himbauan dan peringatan kepada seluruh warganya untuk mengurangi kegiatan diluar rumah dan menjauhi keramaian agar tidak semakin bertambah angka yang terinfeksi virus corona ini. Pada saat ini sektor pertanian memiliki nilai ekonomi yang dapat membuat bangsa Indonesia bertahan dari ancaman krisis global, termasuk krisis yang diakibatkan dari wabah corona saat ini. Hal tersebut disebabkan karena sektor pertanian selalu menjadi kebutuhan sehari-hari bagi masyarakan dan proses produksinya yang tidak membutuhkan waktu yang lama yaitu 2 – 4 bulan. Dengan begitu sebaiknya petani harus memperhatikan proses produksi yang dilaksanakan dengan seefisien mungkin untuk menghasilkan produksi yang tinggi untuk kebutuhan ketahanan pangan di Indonesia. Inovasi teknologi yang dapat dikembangkan pada masa pandemic covid 19 yaitu model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). PTT merupakan pendekatan inovatif dalam upaya peningkatan efisiensi usaha tani padi melalui penerapan komponen teknologi unggulan seperti penanaman varietas unggul baru, penggunaan benih bermutu, perlakuan benih sebelum tanam, penanaman bibit muda (berumur 15 hari), pemakaian bahan organik, bagan warna daun untuk menetapkan kebutuhan pupuk nitrogen dan analisis tanah untuk menetapkan takaran pupuk fosfat dan kalium bagi tanaman, serta perbaikan penanganan panen dan pascapanen. Model ini mampu meningkatkan produktivitas padi rata-rata 1 t/ha. Selain meningkatkan hasil, model PTT juga hemat dalam penggunaan benih, pupuk, dan air irigasi. Berikut adalah beberapa strategi produksi padi dengan hemat input produksi agar petani dapat lebih hemat dan dapat menghasilkan produksi yang tinggi. Gunakan benih varietas unggul baru yang bersertifikat, untuk model PTT diperlukan benih hanya 24 kg, sedangkan dalam usaha tani padi non-PTT 40 kg/ha. Kebutuhan benih sangat efisien dengan melakukan penanaman jarak tanam jarwo serta penanaman 2-3 bibit muda. Dalam model PTT, penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan unsur hara di tanah. Untuk menentukan kebutuhan pupuk N bagi tanaman digunakan bagan warna daun (BWD), yaitu alat sederhana pengukur tingkat kehijauan warna daun padi yang dilengkapi dengan empat skala warna. Kalau tingkat kehijauan daun tanaman padi kurang dari empat pada skala BWD, berarti tanaman perlu diberi pupuk N. Sebaliknya, tanaman tidak perlu lagi diberi pupuk N jika tingkat kehijauan daunnya berada pada skala empat. Kebutuhan pupuk P dan K tanaman padi ditentukan berdasarkan hasil analisis tanah. Penerapan model PTT pada tanaman padi diairi secara berselang. Manfaat penerapan teknologi pengairan berselang ini adalah memberi kesempatan bagi akar tanaman untuk memperoleh aerasi yang cukup, mencegah keracunan besi pada tanaman, mencegah penimbunan asam-asam organik dan gas H2S yang dapat menghambat perkembangan akar, menaikkan temperatur tanah sehingga dapat mengaktifkan mikroba bermanfaat, membatasi perpanjangan ruas batang sehingga tanaman tidak mudah rebah, mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif, menyeragamkan tingkat kematangan gabah, memperpendek umur tanaman, serta menghemat penggunaan air irigasi sekitar 30-40% sehingga areal sawah yang diairi lebih luas. (Dedy hertanto)