Definisi konflik berdasarkan kamus besar : pertengkaran sengit, adu kekuatan, perselisihan hebat, sedangkan persamaan kata : perselisihan, pertentangan, percekcokan. Konflik terjadi, karena;(1)Persaingan atau pertentangan antara pihak-pihak yang tidak cocok satu sama lain; (2)Keadaan atau perilaku yang bertentangan(misalnya; pertentangan pendapat, kepentingan atau pertentangan antar individu);(3) Perselisihan akibat kebutuhan, dorongan, keinginan, atau tuntutan yang bertentangan; dan (4) Perseteruan. Disamping itu, penyebab konflik, antara lain; (1) Masalah atau persoalan tertentu; (2) Kebencian pribadi; (3) Pembelaan diri;(4) Perluasan dari satu persoalan; (3) Kurangnya komunikasi(4) Budaya tertutup; (7) Ketegangan; (8) Meningkatnya keraguan; (9) Polarisasi; dan (10) Diskriminasi, pelecehan, dan kekerasan. Dalam kehidupan seorang Penyuluh di lapangan, sudah barang tentu menemui konflik di lingkungan kerja sebagai akumulasi permasalahan yang diakibatkan oleh pasca pemilihan Kepala Desa, Pilkada Gubernur, Pilkada Bupati/Walikota, atau sebab lain yang terjadi di tempat kerja bisa bermacam-macam bentuknya (dan juga mempunyai tingkat keseriusan dan kerumitan yang berbeda)-mulai dari perselisihan pendapat yang disuarakan dengan nada tinggi, terkadang bahkan sampai tindak kekerasan. Konflik dapat mengakibatkan rusaknya hubungan pribadi dan hubungan kemasyarakatan sebagai akibat interaksi perseorangan, organisasi atau kelembagaan. Agar kita dapat menangani konflik secara efektif, seorang Penyuluh perlu meningkatkan penguasaan dalam; (1) Memahami faktor penting yang mendorong orang mau mengutamakan kerja sama; (2) Menyelaraskan tanggung jawab dengan kepentingan orang lain; (3) Melakukan latihan yang diperlukan guna persiapan dalam menghadapi interaksi sehari-hari; (4) Mengatasi konflik dan pandai bermusyawarah menghadapi berbagai jenis ancaman,tantangan, hambatan, dan gangguan; dan (5) Mengembangkan cara dan strategi pendekatan dengan kepribadian yang yang mempesona. Disamping itu, agar lebih sukses dalam menangani konflik, masih diperlukan prasarat, yaitu; (a) Menciptakan prakarsa untuk belajar dan mengembangkan ketrampilan,serta kemampuan diri; (b) Mengembangkan fleksibilitas gaya yang adaptif sesuai dengan situasi dan kondisi; (c) Meningkatkan kemampuan mendengarkan pendapat orang lain dan memberikan umpan balik mengenai pendapat yang bersangkutan; dan (d) Mengembangkan sikap positif dalam menghadapi perubahan. Dalam menangani konflik seorang Penyuluh perlu mengambil langkah; (1) Nilailah situasi dan kondisi setempat; (2) Jelaskan persoalan yang mereka hadapi secara lengkap dan akurat; (3) Evaluasi alternatif pendekatan yang hendak kita lakukan; dan (4) Pecahkan masalah yang mereka hadapi. Seorang Penyuluh hendaknya memiliki gaya manajemen yang membangun, antara lain; (1) Lima prinsip untuk memelihara hubungan yang positif selama konflik; (a) Mendorong semua orang berpartisipasi; (b) Mendengar secara aktif; (c) Sediakan waktu untuk meninjau ulang; (d) Mampu membedakan antara fakta dan pendapat; dan (e) Fokuskan pada masalah, bukan orang. Selain itu,seorang Penyuluh hendaknya mampu mengamalkan Sembilan Kiat menjalin kerja sama; (1) Tetapkan definisi masalah dengan jelas; (2) Cari titik temu permasalahan yang dihadapi; (3) Hargai pandangan semua , walaupun lemah;(4) Tunjukkan Anda mengenali banyak kepentingan; (5) Hargai semua orang dengan kata-kata dan sikap sopan; (6) Kumpulkan usul-usul penyelesaian; (7) Jauhi sikap "Apa untungnya bagi Saya" dan ambil sikap "Apa manfaatnya bagi kita semua"; (8) Fokus pada manfaat; dan (9) Sediakan waktu untuk evaluasi dan membuat keputusan. Ternyata dalam penyelesaian konflik ada beberapa hambatan yang menghadang, antara lain; (1) Mengesampingkan seluruh persoalan ketika satu kesalahan ditemukan; (2) Menyalahkan pembawa pesan,bukan mengevaluasi isi pesan; (3) Argummen Anda sampaikan kurang lengkap dan jelas;(4) Terlalu cepat mengambil respon; (5) Menyimak untuk menangkap nada setuju, bukannya untuk memahami atau mengerti; (6) Pikiran melayang ke sana kemari, tidak berkonsentrasi; (7) Ingin menang; dan (8) "Pokoknya Saya ". Bagaimana kiat seorang Penyuluh Pertanian menghadapi petani yang sedang marah, antara lain;(1) Bukan persoalan pribadi(Anda berada di garis depan dan menjadi bulan-bulanan pelampiasan kekecewaan petani. Anda tidak bersalah. Situasilah sumber persoalannya; (2) Tetap tenang(Tetap kendalikan diri, Anda hendaknya tenang, sabar, tidak marah, dan tidak membela diri); (3) Buyarkan amarah petani (Beri kesempatan padanya untuk melampiaskan amarahnya sepuas-puasnya. Dia perlu melepaskan gundah hatinya, sehingga akhirnya kehabisan tenaga; (4) Bersikap simpatik (Petani tidak saja ingin Anda memahami masalahnya, tetapi juga Ia ingin memahami reaksinya); (5) Dengarkan dengan penuh perhatian (Biarkan petani berbicara sampai selesai berbicara, selanjutnya ajukan pertanyaan untuk memperjelas perkataannya); (6) Jangan mengumbar janji yang tidak dapat Anda penuhi; (7) Selidikilah masalah yang dihadapi Petani(Anda harus pandai menggali masalah yang dihadapi petani dengan penuh keterbukaan dan kesabaran, serta berbahasa yang santun);(8) Tanyakan keinginan Petani tentang cara penyelesaian masalah(Jika tindakan itu berada dalam wilayah wewenang Anda, lakukan segera. Jika tidak, bicarakan pemecahan yang memuaskan bagi dia); (9) Utamakan apa yang dapat Anda lakukan tanpa meminta persetujuan atasan (Meski tidak sesuai dengan kebijakan atasan Anda, carilah cara penyampaian yang lebih baik, jika Anda tidak dapat meluluskan permintaanya); dan (10) Ambil tindakan penyelesaian masalah dan selalu pantau. Kita mungkin tidak dapat menghindari semua konflik, masalah mungkin tidak dapat kita pecahkan sesuai dengan keinginan kita. Banyak hal yang mungkin tidak dapat kita kendalikan. Akan tetapi, ada satu hal yang dapat kita kendalikan yaitu pendekatan dan sikap kita ketika berhadapan dengan suatu keadaan. Bagaimana seorang Penyuluh harus menangani konflik dan konfrontasi,antara lain;(1) mendengarkan;(2) Mengakui; (3) Menjelaskan;(4) Mencari alternatif;(5) Menggunakan pernyataan yang tegas; dan (6) Menyimpulkan hasil pembicaraan. Ada nasehat orang bijak untuk direnungkan oleh Penyuluh Pertanian dalam menangani konflik; (1) Terimalah hidup sebagaimana adanya, termasuk adanya konflik itu sendiri; (2) Terimalah diri Anda sendiri dan jujurlah pada nilai dan keyakinan Anda; (3) Terimalah orang lain seperti apa adanya, termasuk segala kelemahan dan kebiasaanya yang menyebalkan; (4) Bersedialah untuk mengemukan kebutuhan, keinginan, dan sikap Anda dengan tenang dan santun; (5) Biarkan orang lain mengungkapkan kebutuhan/keinginan/posisinya tanpa dipotong; (6) Cari persamaan, kesepakatan, dan masalah yang menjadi perhatian bersama; (7) Sadarilah bahwa suatu persoalan mungkin tampak genting waktu itu, tetapi dilihat secara keseluruhan tatanan kehidupan mungkin tidak terlalu gawat seperti yang dibayangkan; (8) Perbedaan harus diakui, dihargai, dan dimanfaatkan, bukan ditolak atau dibenci;(9) Lenyapkan rasa takut orang pada kita dengan mengakui haknya untuk didengarkan dan mengakui pendapatnya yang shakih; (10) Terapkan seni mendengar aktif dan menjadi pendengar yang baik;(12) Belajarlah membiarkan gelombang awal emosi berlalu tanpa menimbulkan dampak yang buruk pada situasi; (13) Perasaan hati itu tidak buruk, perilaku yang merusaklah yang buruk;(14) Katakan hal baik mengenai orang lain atau peristiwa sebelum anda mengemukakan apa yang tidak Anda suka; (15) Kemampuan mengetahui cara orang lain memberi reaksi pada kata-kata dan tindakan, dan memahami suasana emosi suatu kelompok adalah dua pengetahuan yang berguna untuk mengatasi konflik dengan sukses; dan (16) Respons yang tenang dan logis selalu lebih baik dari pada reaksi yang terburu-buru.(disarikan dari berbagai sumber bacaan) Penulis : Masrukin, SP ( Penyuluh Pertanian Madya, KJF, pada Dinas Pertanian Daerah Kab. Nganjuk, Propinsi Jawa Timur )