Budidaya buah kini semakin canggih. Seperti halnya yang dilakukan oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Wilayah II Kabupaten Bogor. BPP ini mengembangkan sistem pertanian presisi berdasarkan Internet of Thing (IoT) untuk budi daya tanaman Melon Golden Varietas Luna, yang saat ini dibudidayakan pada greenhouse BPP Wilayah II Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Beberapa manfaat dari penggunaan teknologi dalam bidang pertanian: 1) membuat proses bertani dan budidaya mejadi lebih efisien dan juga mengurangi modal, 2) menjaga kualitas hasil panen, dan 3) membantu mengontrol hama dan juga perkembangan tanaman. Greenhouse merupakan bangunan yang dirancang khusus menggunakan plastik ultraviolet untuk kegiatan penanaman tanaman seperti sayur dan buah-buahan. Tujuan dari pertanian menggunakan greenhouse adalah untuk menciptakan tanaman yang lebih produktif. Dalam penggunaan greenhouse, intensitas cahaya, suhu dan kelembapan udara didalamnya harus diperhatikan karena berbeda dengan pertanian di lahan terbuka. Suhu dan kelembapan udara merupakan faktor yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman dalam greenhouse. Buah melon termasuk buah yang banyak dibudidayakan di Indonesia karena bisa berbuah sepanjang tahun dan berumur pendek. Melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman buah termasuk keluarga tanaman labu-labuan (Cucurbitaceae) seperti semangka, blewah, mentimun dan waluh. Buah melon merupakan tanaman asal Persia yang masuk ke Indonesia pada tahun 1970-an, pada saat itu buah melon menjadi buah yang sangat bergengsi dengan harga yang mahal dan banyak dicari. Karena besarnya animo masyarakat terhadap buah melon memacu para pekebun untuk membudidayakan di Indonesia. Pada tahun 1990-an buah melon berhasil dibudidayakan besar-besaran di Indonesia. Budidaya melon pada greenhouse secara konvensional sangat erat kaitannya dengan kelembapan udara, kelembapan di dalam ruangan greenhouse lebih tinggi dibanding di luar greenhouse karena udara yang masuk terhalang oleh dinding dan atap greenhouse. Intensitas cahaya yang berlebihan dapat menyebabkan suhu ruangan greenhouse meningkat dan kelembapan udara menurun yang dapat menyebabkan tanaman menjadi layu. Kelembapan udara di dalam greenhouse sulit untuk dikontrol dengan pengontrolan manusia secara langsung dikarenakan greenhouse memerlukan perlakuan khusus untuk menjaga kelembapannya. Maka dari itu dibutuhkan alat yang dapat mengontrol secara otomatis kelembapan ruangan greenhouse agar mendapat varietas melon yang unggul. Teknologi yang digunakan Pada greenhouse BPP Wilayah II dengan tanaman melonnya menggunakan teknologi dengan metode penyiraman bermodelkan sistem tetes (drip) yang dikendalikan berdasarkan kadar air dari media tanam. Menurut Hari Sukarno-PPL BPP Wilayah II, secara logika ketika tanah kering maka sistem drip ini aktif. "Berapa kadar air dalam media itu kapan sistem drip itu aktif itu data dan informasi terkait mekanisme dikirim melalui koneksi IoT. "Secara prinsip yang sudah diterapkan air dengan tambahan nutrisi saja," ujar Hari Sukarno. Dijelaskan, sistem tersebut tidak hanya bisa digunakan untuk irigasi tapi bisa digunakan untuk deteksi lain termasuk kebutuhan nutrisi, pencahayaan, suhu, serta kelembaban green house kebun melon tersebut. Dalam prosesnya, sistem drip irrigation tersebut bekerja sesuai dengan kebutuhan nutrisi tanaman melon yang akan diairi. "Jadi bukan sekedar dari seberapa banyak dia mengairi tanaman tapi disesuaikan dengan usia tanaman. Pengendalian sistem ini termonitor dari segi waktu dan variabel data yang sudah terekam dengan baik," terang Hari Sukarno. Pemberian nutrisi sesuai kebutuhan Sementara Teguh Firman Suryaman-Koordinator Penyuluh BPP Wilayah II, mengatakan proses pemberian nutrisi melalui air yang dialirkan ke media pada tanaman secara berkala tersebut diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Dalam sehari bisa dilakukan sebanyak 5 sampai 10 kali. Sehingga dengan teknologi itu kita tidak perlu secara manual memberikan nutrisinya. "Bisa ditinggal untuk mengerjakan pekerjaan yang lain, karena secara otomatis akan menyalakan mesin drip dan mengaliri nutrisi ke media tanam sesuai dengan kebutuhan tanaman," imbuh Teguh. Tentunya dengan IoT mempermudah pekerjaan, karena secara otomatis mesin akan menyala ketika media tanam sudah membutuhkan nutrisi. "Sehingga tidak sampai terjadi kekurangan nutrisi. Karena jika kita manual, maka kita masih menggunakan insting saja kapan tanaman membutuhkan nutrisi," urainya. Penerapan sistem drip tersebut ternyata memberikan hasil maksimal pada tanaman Melon. Hasil buahnya bisa lebih bagus dan ideal, juga tingkat kemanisan yang ideal sebab ketersediaan nutrisinya stabil. Karena jika nutrisinya tidak stabil maka perkembangan buah melon tidak optimal, buah bisa pecah atau tingkat kemanisan akan rendah. Dikatakan, melon yang dibudidayakan dengan menggunakan sistem drip irrigation tersebut berkualitas premium mulai dari rasa, net atau kulit berjaring yang tersusun rapi, dan berat yang ideal dibandingkan melon yang konvensional. "Pasarnya ekslusif, jadi memang rasa pasti berbeda dengan yang dijual pada pasar konvensiaonal. Di green house BPP Wilayah II Kabupaten Bogor dikembangkan Melon Varietas Luna," terang Teguh. Adapun tim penanggung jawab green house BPP Wilayah II terdiri dari Hari Sukarno, Rofi Kurniawan, dan Deti Safitri. Kendala dan harapan Pada masa peralihan banyak petani yang masih awam dengan teknologi, maka dari itu perlunya pelatihan untuk petani diajarkan dalam menggunakan produk yang sudah dibuat. Petani diajarkan untuk dapat menggunakan aplikasi di handphone yang mereka miliki. Setelah kedua hal ini dilakukan, harus memastikan para petani menjaga produk dan alat-alat. Hal yang dilakukan adalah dengan mendampingi dan mengajari mereka dalam menjaga penggunaan greenhouse tersebut. Harapan dari Teguh Firman Suryaman sebagai Koordinator Penyuluh BPP Wilayah II yaitu untuk 5-10 tahun kedepan, petani di Kecamatan Cigudeg, Kecamatan Sukajaya, dan Kecamatan Jasinga sudah menggunakan produk IOT dalam budidaya pertanian. Harapan terakhir dari Teguh yaitu, “ingin bisa berkolaborasi dengan perusahaan pertanian untuk melakukan riset bersama atau join teknologi”, ungkapnya. Ada pula harapan dari Deti Safitri, sebagai penanggungjawab greenhouse, ia berharap bahwa orang-orang dari jurusan pertanian bisa bekerja di bidang pertanian juga. Dan pesan dari Deti yaitu, “jangan takut untuk menjadi petani karena manusia selalu membutuhkan makanan, maka profesi sebagai petani akan terus berjalan”, selorohnya dengan senyum manisnya. Dede Sopyandi, SP. Penyuluh Pertanian Ahli Pertama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor