BAWANG MERAH PAREPARE(Menyulap Lahan Bp3k Bacukiki Jadi Kebun Bawang Merah)Oleh Muh Aidil Yasin THL-TBPP “Bukan Simsalabim atau Abrakadabra, tapi mantranya adalah motivasi tinggi dan semangat pantang menyerah untuk membuktikan bahwa daerah dataran rendah berhawa panas yang dimiliki Kota Parepare di semenanjung Ajattappareng dapat pula ditanami bawang merah”, demikian kata Andi Ibrahim, SPt selaku Koordinator BP3K Bacukiki Kota Parepare.BP3K Bacukiki yang terletak di Buludua Kelurahan Galung Maloang memiliki lahan seluas 1,2 hektar. BP3K yang lokasinya terintegrasi dengan Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kota Parepare ini lahannya biasa digunakan oleh para Penyuluh dan Petani untuk melakukan kegiatan Demplot hortikultura utamanya sayuran dan tanaman palawija, seperti Jagung dan Kacang tanah. Namun pada awal tahun 2016 ini para penyuluh di BP3K Bacukiki dan didukung oleh pimpinan Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kota Parepare bersepakat untuk mencoba menanami lahan BP3K dengan tanaman bawang merah.Berawal dari kerisauan akibat sering bergejolaknya harga bawang merah, menginspirasi Koordinator BP3K Bacukiki untuk mencoba menanami beberapa petak bedengan di lahan samping gedung BP3K. Dengan pengolahan dan pemeliharaan yang sederhana ternyata bibit bawang merah lokal yang diperolehnya dari Kabupaten Enrekang (Kabapaten sentra produksi bawang merah di Sulawesi Selatan) dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Dari kenyataan ini kemudian Bapak Andi Ibrahim, SPt selaku koordinator BP3K Bacukiki memberanikan diri dan tertantang untuk mem”bawang merah”kan seluruh lahan BP3K. Dengan menggandeng kelompok tani Kembang Tani, kelompok tani yang dikomandoi Bapak Muh Amin yang berdomisili di Kelurahan Galung Maloang akhirnya “proyek” ini dilaksanakan.Buah dari KegigihanBerperan sebagai pendamping dan pengawas kegiatan, para penyuluh di BP3K Bacukiki senantiasa memberi petunjuk teknis budidaya bawang merah kepada Kelompok Tani Kembang Tani sebagai pelaksana. Lahan BP3K yang luasnya sekitar 1,2 hektar ditanam secara bertahap 0,60 hektar berselang 2 minggu. BP3K Bacukiki yang telah dilengkapi fasilitas sumur bor menjadi keuntungan sendiri dalam memudahkan kegiatan ini. Setiap petakan bedengan yang berukuran 5 meter x 1,5 meter diberi selang penyiram berputar (sprinkler) yang melakukan penyiraman 2 kali sehari pada waktu pagi dan sore.Menggunakan bibit sebanyak 1,5 ton yang cukup digunakan dipertanaman seluas 1,2 hektar dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. Sistem pertanaman semi organik, dimana penggunaan pupuk dasar memakai pupuk kompos dicampur sekam sebanyak 1,5 ton ditabur diatas bedengan seminggu sebelum tanam. Pada pemupukan lanjutan dilakukan 2 minggu setelah tanam menggunakan pupuk majemuk NPK sebanyak 400 kg dan KCl 150 kg sembari memberi pupuk organik cair (POC) sebagai tambahan. Pemupukan ke 2 dilakukan pada saat tanaman berumur 5 minggu setelah tanam demgam masih menggunakan pupuk NPK dengan dosis yang dikurangi yakni hanya 200 kg dan KCl 100 kg. Mengingat karena masih pertanaman pertama, maka penggunaan pestisida tidak dilakukan, karena belum adanya serangan hama yang ditemukan sehingga hal ini terasa sangat membantu, karena tidak adanya ongkos dalam hal pembelian dan pengunaan pestisida. “Kami ingin membuktikan bahwa Kota Parepare tidak boleh dipandang sebelah mata dalam teknis budidaya bawang merah, kami pun mampu melakukannya seperti daerah lain” kata Kepala Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kota Parepare, Hj. Rostina, MP, sesaat setelah melakukan panen perdana bawang merah. Lebih lanjut Hj. Rostina, MP mengatakan “apa yang terjadi hari ini adalah buah dari kegigihan para penyuluh bersama dengan petani, demi mewujudkan Parepare sebagai Kota Benih, terkhusus untuk benih bawang merah”.Komoditi StrategisBawang Merah (Allium ascalonicum) merupakan salah satu dari tujuh komoditi strategis yang oleh pemerintah melakukan Upaya Khusus untuk meningkatkan produksinya. Meski bukan sentra produksi, Parepare tetap harus memberi sumbangsih dalam peningkatan produksi dan Produktivitas bawang merah, setidaknya mengurangi ketergantungan impor bawang merah pada saat-saat tertentu.Panen bawang merah di lahan BP3K Bacukiki pada tahap I dilakukan pada umur 51 hari setelah tanam. Pengambilan sampel ubinan menunjukan bahwa produktifitasnya sebesar 10,17 ton/hektar. Apabila ingin dilihat hasil keringnya atau siap jual yaitu 60% x 10,17 = 6,102 Ton/ha. Maka apabila harga bawang adalah Rp 25.000 x 6.100 = Rp 152.600.000,-. Dari sini dapat dilihat bahwa dalam satu hektar pertanaman bawang merah akan menghasilkan Rp 152,6 juta. Atau untuk pertanaman tahap pertama yang luasnya 0,60 ha menghasilkan Rp 91,5 juta.Bukan hanya komoditi strategis, tapi bawang merah juga merupakan komoditi potensial yang dapat dikembangkan di Kota Parepare, mengingat daerah ini lahan pertanianya tidak begitu luas. “Semoga pertanaman bawang merah di lahan BP3K Bacukiki ini dapat dilihat dan dijadikan contoh bagi petani lain, dan bila hasilnya seperti ini, maka saya akan kembangkan pada lahan anggota saya dan mencoba untuk menanam diluar musim agar harganya bisa lebih baik lagi” tegas Muh Amin, Ketua Kelompok Tani Kembang Tani Kota Parepare.Melalui pemberdayaan lahan BP3K seperti ini hendaknya informasi mengenai teknologi budidaya pertanian dapat tersampaikan lebih efektif kepada pelaku utama. Bukankah BP3K merupakan wadah komunikasi dan informasi antara penyuluh dan petani, dan aplikasi demplot dan kaji terap merupakan metode penyuluhan yang paling efektif bagi petani.