Loading...

Benih Kelapa Unggul dan Bermutu

Benih Kelapa Unggul dan Bermutu
Benih unggul dan bermutu berperan dalam peningkatan produksi. Benih yang kurang baik akan menghasilkan kuantitas dan kualitas produksi yang kurang baik pula. Untuk itu di awal pembudidayaan tanaman kelapa sebaiknya menggunakan benih unggul dan bermutu. Asal dan ciri-ciri Benih yang baik Untuk memperoleh benih unggul bermutu, baik kelapa dalam maupun kelapa hibrida, sebaiknya menghubungi Dinas Perkebunan setempat. Namun, jika petani ingin mengadakan benih bermutu sendiri, maka harus diperhatikan bahwa buah untuk benih sebaiknya dipetik setelah berumur 12-14 bulan, kulit buah sudah berubah menjadi kering sekitar 50%, dan bila diguncang akan terdengar air cukup nyaring. Benih yang baik diperoleh dari pohon induk yang berproduksi tinggi, pemetikannya sekali sebulan agar biaya pemetikan dapat ditekan (biasanya pemetikan dilakukan dua kali sebulan). Setelah dipanen, buah untuk bibit perlu diseleksi. Penyeleksian buah harus memperhatikan beberapa hal berikut:1) Bentuk buah bulat atau lonjong. Untuk kelapa dalam, minimal panjang 22 cm dan lebar 17 cm, sedangkan untuk kelapa hibrida minimal panjang 15 cm dan lebar 14 cm. 2) Buah harus sudah berumur 12-14 bulan, 3) Bobot buah harus berat, minimal untuk kelapa dalam 1,5 kg dan untuk kelapa hibrida 1,3 kg, 4) Keadaan kulit buahnya baik dan tidak ada tanda-tanda serangan hama penyakit. Umumnya kelapa diperbanyak secara vegetatif (melalui biji) sehingga variasi genetiknya sangat tinggi. Selain itu, khusus pada kelapa dalam penyerbukannya terjadi secara alami sehingga karateristik vegetatif dan generatifnya sangat beragam. Untuk memperoleh tanaman yang seragam dapat dilakukan kloning individu. Dengan cara ini dapat direncanakan karateristik tanaman yang diinginkan, misalnya produksi tinggi, tahan hama penyakit, dan tahan kekeringan. Perbanyakan ini dapat ditempuh melalui kultur jaringan. Berdasarkan tipe material yang digunakan, kultur jaringan dapat dibagi dalam lima kelas, yaitu kultur halus, kultur sel, kultur organ, kultur meristem, dan kultur protoplas. Kultur halus adalah kultur massa halus dalam media agar dan dihasilkan dari eksplan benih atau sumber tanaman lainnya. Kultur sel adalah kultur dari sel pada media cair dalam bejana yang biasanya diaerasi melalui pengadukan. Kultur organ adalah kultur aseptik embrio, anther, akar,tunas , atau organ tanaman lain dalam media nutrisi, kultur meristem adalah kultur aseptik dari meristem tunas atau jaringan eksplan lainnya dalam media nutrisi. Kultur protoplas mencakup isolasi protoplas sel-sel atau jaringan tanaman yang dikulturkan. Penerapan kultur jaringan pada kelapa yang sudah dilakukan sampai saat ini mencakup perbanyakan tanaman, pelestarian plasma nuftah, dan perbaikan potensi genetik tanaman. Penanganan benih Ada tiga kegiatan penanganan benih, yaitu penyimpanan sementara, pengepakan, dan labelisasi. Penyimpanan Sementara Buah kelapa bakal benih yang sudah dikumpulkan disimpan sementara di tempat teduh. Agar benih tetap segar, perlu dilakukan penyiraman setiap dua hari. Pada daerah yang kelembapannya tinggi, penyiraman dilakukan hanya pada musim kemarau. Semenara untuk mencegah serangan cendawan atau hama, setiap minggu benih disemprot fungisida atau insektisida dengan konsentrasi rendah. Di tempat penyimpanan, perlu diupayakan agar benih tidak ditumpuk terlalu tinggi, cukup satu meter, agar sirkulasi udara menjadi lancar. Lama penyimpanan tergantung kebutuhan karena benih kelapa relatif tahan lama asalkan dikelola dengan baik. Suhu penyimpanan sekitar 25-27° C. Pengepakan Prinsip dilakukannya pengepakan atau pengemasan benih adalah untuk mencegah merosotnya daya tumbuh. Usahakan agar benih yang baik tidak tercampur dengan benih yang rusak. Wadah pengepakan merupakan bahan yang meningkatkan suhu maupun kelembapan, misalnya karung goni. Wadah ini harus bersih dan berukuran panjang tidak lebih dari 100 cm dan lebar 50 cm. Sebelum dimasukkan ke karung goni, benih perlu direndam dalam larutan fungisida sesuai anjuran penyuluh lapangan, untuk mencegah serangan cendawan yang dapat merusak titik tumbuh benih. Sementara untuk mencegah serangan hama, benih perlu disemprot insektisida anjuran dengan dosis 2 cc/l air. Pada saat pengangkutan, diusahakan agar karung yang berisi benih tidak tebanting karena dapat menyebabkan benih menjadi rusak sehingga daya tumbuhnya berkurang bahkan mungkin tidak bisa tumbuh lagi. Labelisasi Penggunaan label atau keterangan tertulis pada kemasan benih cukup penting karena dapat menunjukkan jaminan asal dan kualitas benih. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran tentang jenis dan mutu benih. Label ini digunakan pada benih yang dihasilkan sendiri maupun dibeli. Selain pada benih yang belum disemaikan, label pun perlu diberikan pada benih yang ditempatkan di persemaian, untuk memudahkan seleksi benih yang berkecambah. Label di persemaian berupa papan yang berisikan asal benih, tanggal pemetikan, tanggal disemaikan, dan jumlah benih. (Shalimar Andaya Nia) Sumber: Sukamto I. T. N., Ir. Upaya Meningkatkan Produksi Kelapa, Penebar Swadaya, 2001.