Dalam masyarakat modern, pola hidup sehat menjadi salah satu indikator standar kualitas hidup. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi produk pangan organik (baca:sehat). Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya permintaan masyarakat terhadap produk-produk pangan yang diproduksi cara ramah lingkungan walaupun harganya relatif lebih mahal dibandingkan dengan harga pangan yang dihasilkan melalui sistem pertanian konvensional. Penghargaan konsumen terhadap produk pertanian organik antara lain dinilai dari sistem budidayanya yang memperhatikan ekosistem dan menjaga kelestarian lingkungan sehingga dapat menghasilkan produk yang bebas dari polutan kimia. Tidak menggunakan pestisida dan pupuk sintetis serta bibit yang diperoleh bukan dari hasil rekayasa genetik. Tidak adanya residu pestisida tersebut merupakan kelebihan utama produk organik sehingga aman untuk dikonsumsi. Muh Jufri ketua kelompoktani di Awang-awang kecamatan Watang Sawitto Pinrang sudah memproduksi beras ramah lingkungan sejak tujuh musim tanam silam, namun ia belum berani mengklaim sebagai beras organik. Karena menurutnya budidaya padi secara organik tidaklah mudah, sebab tidak hanya menggunakan pupuk dan pestisida organik, tapi juga sumber air untuk irigasi pertanian harus benar-benar bebas dari residu pestisida maupun bahan-bahan kimia sintetik lain. Semua aspek tersebut baru benih, pupuk dan pestisida organik yang digunakan. Sedangkan kemurnian air irigasi dari residu bahan kimia belum bisa dijamin bebas sehingga beras yang dihasilkan itu diberi nama beras sehat. Beras sehat sebagai trade mark (label dagang) petani Pinrang saat ini sudah mendapat sertifikasi dari Unhas Makassar dan telah dilaunching oleh Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo pada puncak perayaan HUT ke-52 kabupaten Pinrang pada 19 Pebruari 2012 silam. Peluang pasar beras sehat tersebut kata Bupati Pinrang HA. Aslam Patonangi cukup menjanjikan karena harga pasaran saat ini berkisar Rp.15.000 - 17.000/kg. Namun demikian masih perlu sosialisasi karena hanya mereka yang sudah paham dan peduli soal kesehatan saja yang mengkonsumsi beras sehat itu. Menurut Jufri beras sehat yang ia produksi pada musim tanam lalu baru 4 ton sehingga belum mampu memenuhi permintaan pasar. Dikatakan Jufri, bisnis beras sehat merupakan "bisnis kepercayaan", sebagai petani produsen harus dapat meyakinkan pada konsumen bahwa produknya adalah benar-benar produk sehat mengingat kualitas produk beras sehat tak bisa diukur secara kasat mata melainkan dari proses produksinya, sehingga faktor integritas produsen menjadi penting dan tidak cukup hanya dengan menggunakan klaim bahwa beras mereka adalah beras sehat. Demikan juga dalam proses produksinya harus terpadu dengan produsen pupuk dan pestisida organik, sebab ia khawatir jangan sampai pupuk organik yang dibeli dari produsen yang ia tidak kenal maka sulit dipercayai kemurnian pupuk dan pestisida organik tersebut. Menurut HA. Aslam Patonangi bahwa tingkat persaingan pasar beras sehat masih belum ketat karena pangsa yang bisa digarap masih sangat luas. " Kalau beras biasa ketat persaingannya terutama dari kabupaten tetangga semua produksi berasnya cukup melimpah, tapi kita inginkan Pinrang harus punya brand di beras sehat," kata Bupati saat perayaan HUT Pinrang. Budidaya padi untuk menghasilkan beras sehat tidak jauh beda dengan budidaya padi secara konvensional. Hanya saja kata Jufri penggunaan pupuk dasar dan pupuk susulan harus organik demikian juga penggunaan pestisida jika diperlukan harus organik. Pada musim tanam saat ini baru 5 ha lahan sawah dikelompoknya yang dikelola secara organik dengan varietas padi Ciliwung. Selain di hamparan kelompoktani milik Jufri juga masih luas potensi lahan sawah di Pinrang untuk memproduksi beras sehat. Dsinilah peran penyuluh pertanian untuk terus melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada petani dan kelompok-kelompok tani di desa agar termotivasi membudidayakan padi yang ramah lingkungan.(Abdul Salam Atjo)