El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan suhu muka laut ini yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik bagian tengah dan menyebabkan berkurangmya curah hujan di wilayah Indonesia. Fenomena ini mulai dirasakan di berbagai wilayah Indonesia yang ditandai berkurangnya curah hujan dan meningkatnya suhu yang telah menjadi indikasi datangnya el-nino. Pengaruh el-nino juga berimplikasi pada sektor pertanian khususnya pada kegiatan budidaya, Dari sisi agronomi, dampak yang ditimbulkan dari fenomena el-nino dapat menyebabkan kekeringan, gangguan musim tanam, hama dan penyakit, penurunan kualitas tanaman dan ketidakstabilan pasar. Sebagai dampak hal tersebut, berakibat mundurnya awal musim tanam, menurunkan produktivitas tanaman, menurunnya luas panen dan berkembangnya organisme pengganggu tanaman yang dapat memberikan kerusakan signifikan pada tanaman. Kondisi ini berakibat pada potensi menurunnya stok pangan nasional karena menurunnya produksi pangan. Dari sisi sosial ekonomi, el-nino dapat menyebabkan terganggunya aktivitas-aktivitas ekonomi petani seperti terganggunya pertanaman, kegagalan panen dan pada akhirnya menyebabkan berkurangnya pendapatan petani. Secara makro, kondisi ini juga memberikan pengaruh pada kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian negara. Beberapa daerah yang terdampak cukup kuat adalah sebagian besar wilayah Sumatera seperti Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Bengkulu, Lampung. Seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara diprediksi memiliki curah hujan paling rendah dan berpotensi mengalami musim kering yang ekstrem. Prakiraan curah hujan bulanan BMKG menunjukkan bahwa sebagai besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan bulanan kategori rendah bahkan sebagian lainnya akan mengalami kondisi tanpa hujan sama sekali hingga Oktober 2023. Menurut Irawan. Penurunan produksi pangan akibat El Nino paling tinggi terjadi pada produsi jagung. Hal ini menunjukan bahwa produksi jagung paling sensitif terhadap peristiwa anomali iklim. Dalam rangka menekan dampak negatif El Nino terhadap produksi pangan maka diperlukan kebijaksanaan penanggulangan yang komprehensip yang meliputi tiga upaya pokok yaitu1) pengembangan sistem deteksi dini anomali iklim, 2) pengembangan sistem diseminasi informasi yang efisien tentang anomali iklim dan 3) mengembangkan mendiseminaikan dan memfasilitasi petani untuk menerapkan teknik budidaya tanaman yang adaptif terhadap situasi kekeringan di samping membangun dan merehabilitasi jaringan irigasi serta mengembangkan teknik pemanenan curah hujan. Upaya antisipasi mengatasi penyimpangan iklim telah banyak dilakukan namun sifatnya tidak mencegah. Kerugian yang sangat besar akibat kemarau perlu adanya langkah atau upaya deteksi, delinasi, antisipasi, adaptasi dan mitigasi dampak penyimpangan agar risiko yang ditimbulkan dapat diminimalisir (Irianto,2023). Berbagai Mitigasi telah dilakukan oleh para petani untuk menekan produksi akibat kemarau agar para petani tetap dapat melakukan usahatani. Sebagai contoh di Lampung, pada musim tanam tahun 2015 banyak petani mengalami gagal panen jagung karena adanya keterbatasan sumberdaya. Padahal Jagung meerupakan salah satu hasil dari sektor pertanian yang penting dalam ketahanan pangan, industri dan pakan ternak. Pada keadaan sawah atau ladang dengan irigasi dan tadah hujan terjadi musim kemarau panjang akibat El Nino menyebabkan meningkatnya kekeringan karena kekurangan pasokan air dan peningkatan salinitas tanah. Para petani mengalami kesulitan untuk mendapatan pasokan air, sehingga hal ini berpengaruh terhadap produksi jagung yang menurun tajam. Oleh karena itu maka Penyuluh di saat El Nino ini harus berbuat mendampingi petani guna mengatasi penyimpangan iklim dengan menyesuaikan apa yang masih bisa dilakukan didaerahnya. Misalnya memanfaatkan pompa untuk menyedot air dalam, menanam tumpang sari dengan sayuran umur pendek . Pengolahan tanah minimum untuk mengurangi evaporasi/penguapan karena permukaan tanah terbuka. Mengubah waktu tanam, melakukan pemilihan varietas jagung yang unggul dan toleran terhadap cekaman kekeringan, serta berumur pendek, Pemberian mulsa organik yang tersedia setempat untuk mengurangi penguapan dan menjaga kelembaban tanah serta meningkatkan kesuburan tanah, Penggunaan pupuk organik agar dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah dan daya tahan tanaman terhadap kekeringan. Pengembangan pupuk organik terpusat dan mandiri dapat mendukung petani dalam menghadapi El Nino. Yulia TS yuliatrisedyowati@gmail.com Pustaka Irawan, Bambang , 2006, Fenomena Anomali iklim El Nino dan La Nina Serta Kecenderungan Jangka Panjang dan Pengaruhnya Terhadap Produksi Pangan . Jurnal Libang PertanianVol.24 (1):28-45. Litbang Bogor. Irianto, Gatot, 2006. Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Air. Strategi Pendekatan dan Pendayagunaan, Jakarta https://umsu.ac.id/berita/apa-itu-el-nino-dampak-dan-cara-mengantisipasinya