Loading...

Panen dan Pasca Panen Garut

Panen dan Pasca Panen Garut
Pemanenan garut harus ditangani dengan baik. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam pemanenan garut adalah umur panen dan cara panen. Kemudian setelah panen garut bisa diolah menjadi tepung garut atau direbus saja untuk langsung dimakan. 1. Waktu Panen Hasil utama tanaman garut adalah umbi. Tanda-tanda umbi garut sudah waktunya untuk dipanen adalah daun-daun menguning, mulai layu dan mati yaitu biasanya pada umur antara 10 - 12 bulan setelah tanam. Sebenarnya kandungan pati maksimum pada umbi garut adalah pada saat tanaman berumur 12 bulan, namun pada umur tersebut umbi garut telah banyak berserat sehingga pati sulit untuk diekstrak. 2. Cara panen Cara panen umbi garut sangat bergantung pada varietas/kultivar yang digunakan. Untuk kultivar yang letak umbinya dekat dengan permukaan tanah, pemanenan cukup dilakukan dengan menggunakan tangan, sedang kultivar yang lain memerlukan alat untuk mencongkel umbi yang letaknya agak di dalam tanah. Pada saat pemanenan, rerumputan dan sampah-sampah tanaman dikubur di lahan agar berubah menjadi bahan organik yang sangat membantu dalam menyuburkan tanah. Tinggi rendahnya hasil panen sangat tergantung pada varietas, tingkat kesuburan tanah dan cara pemeliharaan tanaman yang dilakukan. Jumlah panenan dapat berkisar antara 7,5 - 37 ton umbi per hektar. 3. Pasca Panen Umbi garut dapat dibuat tepung dan pati garut yang dapat disimpan lama ditempat yang kering. Mutu tepung garut yang satu dan lainnya sangat berlainan, tergantung cara pengolahan dan mutu bahan bakunya. Tepung garut kualitas komersial berwarna putih, bersih, bebas dari noda dan kadar airnya tidak lebih dari 18,5%, kandungan abu dan seratnya rendah, pH 4,5 - 7 serta viskositas maksimum antara 512 - 640 Brabender Unit. Cara pembuatan tepung garut adalah sebagai berikut : a. Pemilihan umbi Pilih umbi yang segar, maksimal disimpan dua hari setelah panen. b. Pembersihan Bersihkan umbi garut dari kotoran (tanah) dan kulit atau sisik-sisiknya. c. Pencucian dan Perendaman Cucilah umbi garut dalam air mengalir hingga bersih, kemudian segera direndam selama beberapa waktu agar tidak terjadi pencoklatan (browning). d. Penyawutan Rajanglah umbi garut tipis-tipis dengan alat pengiris atau penyawut ubikayu. e. Pengeringan Keringkan sawut garut dengan cara dijemur atau menggunakan alat pengering buatan hingga berkadar air 10 - 12%. f. Penepungan Tumbuklah sawut kering hingga lembut, kemudian diayak dengan ayakan tepung berulang-ulang. Tampung tepung garut dalam wadah. g. Penyimpanan Simpan wadah yang berisi tepung di tempat yang kering. Cara pembuatan pati garut adalah sebagai berikut : a. Pemilihan dan Pembersihan Umbi Pilih umbi garut yang segar, kemudian bersihkan dari kotoran (tanah) dan sisik-sisiknya terus dicuci dengan air bersih yang mengalir. b. Pemarutan dan Pemisahan Pati Parutlah umbi garut hingga menjadi bubur kasar, kemudian tambahkan air bersih sambil diaduk-aduk atau diremas-remas agar keluar patinya. Selanjutnya saringlah bubur tersebut dengan kain untuk memisahkan pati dari seratnya. Larutan hasil perasan segera diendapkan sehingga air terpisah dari endapan pati. c. Pengeringan Jemurlah endapan pati garut hingga kering, kemudian gilinglah menjadi pati halus. d. Pengemasan dan Penyimpanan Kemaslah pati garut dalam wadah (kemasan) kantong plastik atau kaleng yang kedap suara (tertutup), kemudian simpan ditempat yang kering. Pembuatan pati garut dalam skala besar dengan cara sebagai berikut : a. Cucilah umbi garut dalam bak khusus, kemudian bersihkan dari sisik-sisiknya. b. Parutlah umbi garut hingga menjadi bubur kasar, lalu tambahkan air bersih kedalam bubur kasar sambil diaduk-aduk dan diremas-remas. c. Masukkan bubur tersebut ke dalam alat yang terdiri atas tiga saringan yang terus bergetar sehingga patinya terpisah. d. Tumbuk (haluskan) ampas yang tertinggal, campur dengan air, lalu saring lagi dan dimasukkan kedalam mesin pemisah agar diperoleh ekstrak pati secara maksimum. e. Campurkan lagi pati dengan air bersih dan disaring dengan saringan 120 mesh. Putar-putar lagi saringan tadi dalam mesin pemisah pati, hasilnya ditambah air dan asam sulfit. f. Biarkan endapan beberapa saat dalam bak, lalu keringkan pada suhu 55 - 60o C selama 2 - 3 jam. Hasilnya diperoleh pati halus berwarna putih. g. Kemaslah pati garut dalam wadah kaleng tertutup atau kantong plastik. h. Simpan wadah (kemasan) berisi pati garut di tempat yang kering. Demikian semoga teman-teman penyuluh bisa menyampaikan ke mitra tani kita, sehingga mereka mengetahui cara pembuata tepung maupun pati garut, sehingga saat membuat kua, tidak meenggantungkan bahan baku beras ataupun terigu. Penulis : Yulia Tri Sedyowati Email : yuliatrisedyowati@yahoo.co .id Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan Direktorat Kacang-kacangan dan umbi-umbian, Pengenalan & Budidaya Talas, Garut, Ganyong, Gembili, Ubi Kelapa, Gadung, Iles-iles, Suwek/Acung. Jakarta, 2002 http://bukabi.wordpress.com/2009/03/02/budidaya-tanaman-garut/ http://www.deptan.go.id/ditjentan/detailpublikasi.php?id=39