Teknologi ini sangat sederhana. Tidak sulit untuk diterapkan oleh para petani. Biayanya juga tidak mahal karena bisa dilakukan secara bertahap. Teknologi yang mengkombinasikan usaha kebun jeruk dan bertanam padi di lahan pasang surut ini sudah berhasil diterapkan para petani di bawah bimbingan Dinas Pertanian Kalimantan Selatan. Melalui program Prima Tani, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalsel melakukan inovasi dan desiminasi teknologi yang bisa meningkatkan mutu produk, produktivitas dan pendapatan petani. Untuk usaha tani padinya, dipakai teknologi sawit dupa (sekali mewiwit, dua kali panen/sekali tanam, dua kali panen). Dua jenis benih padi yang ditanam, yakni benih padi varietas unggul margasari dan padi lokal. Padi unggul sudah bisa dipanen dalam waktu sekitar 130 hari. Setelah padi unggul panen, padi lokal dijarangkan hingga bisa panen. Sedangkan bibit jeruk yang dipakai adalah jeruk siam banjar. Cara bercocok tanamnya, pertama lahan sawah pasang surut dibagi menjadi tiga peruntukan yang terintegrasi, tidak terpisah-pisah. Untuk setiap ha lahan sawah, seluas 0,15 ha dibuat tukungan (bumbunan) untuk bertanam jeruk. Bibit jeruk yang dibutuhkan sebanyak 200 tanaman. Seluas 0,7 ha untuk tanam padi unggul dan 0,85 ha untuk tanam padi lokal. Pendapatan petani dari usahatani model ini menurut Kepala BPTP Kalsel Muhamad Sabran cukup besar. Dari padi unggul saja, petani bisa mendapatkan keuntungan Rp 2,98 juta. Dari padi lokal, petani bisa mendapatkan keuntungan Rp 2,157 juta/musim. Keuntungan usaha tani sawah ini bisa diinvestasikan oleh petani untuk menanam jeruk secara bertahap di lokasi sawahnya. Menurut peneliti di BPTP Kalsel Danu Ismadi Saderi, tanaman jeruk akan panen perdana setelah berumur lima tahun. "Pada panen perdana itu, petani langsung kembali modalnya," urainya. lebih meningkatkan pendapatan petaninya, BPTP Kalsel akan memasukkan sistem surjan di antara tukungan tanaman jeruk untuk bertanam sayur-sayuran. Teknologi ini dimasukkan, agar petani bisa mendapatkan tambahan keuntungan sebelum kebun jeruknya berbuah. "Kita sedang diskusikan dengan Balit Sayuran, komoditi sayuran apa yang cocok dan menguntungkan untuk ditanam di lahan pasang surut di Kalsel ini," tambah Sabran. Usaha tani lainnya yang akan dimasukkan adalah ternak kambing dan ayam kampung. Konsepnya akan dibuat kelompok petemak sesuai dengan tahapan siklus produksi ayam, ada yang khusus melakukan pembibitan, ada yang khusus pembesaran dan ada yang khusus membuat dagingnya. Menurutnya masukan teknologi ternak ini tengah didiskusikan dengan petani karena merekalah yang akan melaksanakan dan melakukan investasi. "Kita tidak paksakan. Karena itu yang kita lakukan adalah melakukan penyuluhan dan membangun kelembagaannya, sehingga mereka mau melakukan investasi sendiri," tambahnya. Sumber : SINAR TANI Edisi 29 Maret - 4 April 2006