Loading...

Bertanam Padi di Lahan Rawa Lebak

Bertanam Padi di Lahan Rawa Lebak
Potensi lahan rawa lebak di Indonesia mencapai 14 juta hektar, terdiri dari rawa lebak dangkal selauas 4.166.000 ha, lebak tengahan seluas 6.076.000 ha, dan lebak dalam seluas 3.039.000 ha (Adhi,et al. 2004). Oleh karena itu keberadaan lahan rawa lebak semakin penting peranannya dalam upaya mempertahankan swasembada beras dan dan swasembada bahan pangan lainnya menuju Indonesia menjadi lumbung pangan dunia tahun 2045. Lahan rawa lebak saat ini sudah banyak yang dimanfaatkan oleh petani walaupun yang ditanam masih varietas lokal seperti Siam Unus karena pemeliharaanya mudah dan tidak perlu input tinggi. Namun demikian produktivitas padi lokal relatif rendah, hanya sekitar 2 ton/ha dan umurnya dalam sekitar 7-9 bulan sehingga petani hanya bisa tanam sekali dalam setahun.Sementara itu, varietas favorit, seperti: Ciherang, Mekongga, dan Inpari meskipun produktivitasnya tinggi di sawah irigasi tapi hasilnya rendah bila ditanam di lahan rawa.Inbrida Padi Rawa (Inpara) Varietas Inpara sudah mulai banyak ditanam oleh petani rawa, karena mereka yakin dan terbukti bahwa varietas ini mempunyai produktivitas tinggi dan umurnya genjah, sehingga bisa menanam dua kali dalam satu tahun dengan produksi rata-rata 6,3 ton/ha GKG.Faktor penghambat utama budidaya padi di lahan rawa adalah kemasaman yang sangat tinggi yang menyebabkan konsentrasi besi sangat tinggi yang berakibat tanaman keracunan. Selain itu genangan air juga sering tinggi dan lama, mengakibatkan tanaman membusuk dan mati. Dengan kondisi lahan rawa yang demikian, maka jenis padi Inpara sangat cocok dibudidayakan dan sudah terbukti bahwa varietas Inpara tahan terhadap kemasaman tinggi, tahan keracunan besi, dan agak tahan terhadap genangan (BB Sumberdaya Lahan Pertanian).Persiapan LahanLahan harus dipersiapkan pada waktu yang tepat, yakni pada awal musim kemarau (biasanya bulan Maret/April). Pengolahan tanah cukup dengan cara membersihkan tumbuhan liar saja, karena tanah rawa lebak pada umumnya bertekstur lumpur.PersemaianDikenal dua cara persemaian, yaitu : 1. Persemaian Terapung Yaitu yang dilakukan diatas permukaan air dengan bantuan rakit, karena pada saat tinggi air pada tanah lebak masih diatas 40 cm, persemaian tersebut dapat dilanjutkan dengan persemaian lanjutan pada lahan yang dangkal airnya. Persemaian semacam ini dapat dilakukan 2 atau 3 kali.Cara pelaksanaan(1) Mula-mula persemaian dibuat berukuran 3 x 1 meter dengan menggunakan benih sebanyak 1 kg, yang dilakukan diatas rakit khusus untuk persemaian;(2) Keperluan benih sebanyak 25- 30 kg/ha;(3) Benih yang sebelumnya sudah berkecambah ditangkarkan di persemaian dengan jarak 8 x 10 cm, masing-masing 2-3 sendok makan, kemudian ditutup dengan daun pisang selama 1 minggu;(4) Setelah 1 minggu daun pepisang penutup dibuang, dan peremaian dibiarkan tumbuh tanpa pelindung;(5) Bibit segera ditanam apa bila ketinggian air di lahan sudah menurun menjadi 30-40 cm dan bibit telah berumur 3 minggu;2. Persemaian Darata. Persemaian yang dilakukan diatas pematang, pekarangan ataupun di tanah rendah. Pelaksanaan penyemaian sebaiknya dilakukan pada bulan Februari;b. Keperluan benih sebanyak 30-40 kg/haCara Pelaksanaan(1) Menyiapkan lahan yang sudah dihaluskan dan bersih dari rerumputan;(2) Sebelum disemai benih direndam selama 2 malam untuk mempercepat perkecambahan(3) Membuat lubang cara ditugal sedalam 2-3 cm dengan jarak 8-10 cm;(4) Setiap lubang diisi benih sebanyak 2-3 sendok makan, lalu ditutup dengan tanah atau daun agar terhindar dari hama atau curahan langsung air hujan; Ruslia AtmajaSumber : BBPadi, BBSDLP- Badan Litbang Pertanian