Sawi putih termasuk dalam family Brassica, berasal dari daerah beriklim sedang, sudah mengalami perkembangan teknologi melalui penyeleksian dan kini sudah dihasilkan jenis baru. Berdasarkan pada tipe bentuk dan pertumbuhannya, sawi putih dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: a) bisa membentuk krop, toleran terhadap panas dan cepat produksi; b) tidak membentuk krop, toleran terhadap dingin tetapi masa pertumbuhannya agak lama. Bercocok tanam sawi putih tidak berbeda dengan bercocok tanam tanaman sawi lainnya seperti sawi caisim, dan sebagainya. Pada dasarnya sebelum sawi putih ditanam di lahan (transplanting), terlebih dahulu harus dibuat persemaian benih. Benih tanaman sawi bisa dipindahkan di lahan penanaman (transplanting) setelah berdaun sejati dua (2) lembar atau berumur sekitar 18 - 20 hari. Penyiapan Lahan Sebelum benih ditanam di lahan penanaman (transplanting), lahan tersebut perlu dibersihkan dari gulma dan sisa tanaman musim tanam sebelumnya. Bila pH tanah kurang dari 5,0, lakukan pengapuran minimum satu (1) ton per hektar. Untuk menaikkan 1 point pH tanah, diperlukan dua (2) ton kapur pertanian (dolomit atau kalsit). Cangkul atau bajak tanah untuk membalik dan memecah agregat tanah. Kemudian buat bedengan sederhana terlebih dahulu dengan lebar 90 cm dan tinggi 17-20 cm. Sementara itu lebar selokan 40-50 cm. Gunakan teknologi EMP I dengan dosis dua (2) liter Agrobost per empat ratus (400) liter air per hektar. Semprotkan ke sisi kiri dan sisi kanan bedengan (bakal barisan tanaman). Sebaiknya saat penggunaan EMP, tanah dalam kondisi lembab. Minimum tiga (3) hari setelah penggunaan EMP, lakukan pemupukan dasar dengan standar dosis per hektar sebagai berikut : a) pupuk kandang dengan dosis lima (5) ton per hektar; b) pupuk urea dengan dosis seratus (100) kg per hektar; c) pupuk SP-36 dengan dosis seratus lima puluh (150) kg per hektar; dan pupuk KCL dengan dosis lima puluh (50) kg per hektar. Tebar pupuk kandang di sisi kiri dan kanan bedengan, lalu aduk ke dalam tanah sambil menggemburkan bedengan. Campur ke tiga jenis pupuk kimia (Ure, SP-36, dan KCL) menjadi satu, tebar di sisi kiri dan kanan bedengan seperti halnya pupuk kandang. Aduk-aduk juga ke dalam tanah. Sempurnakan bedengan dengan cara mencangkul selokan dan menimbunkan tanah tipis dari selokan ke permukaan bedengan (setebal 3-5 cm) hingga tinggi bedengan menajdi 20-25 cm. Penanamaan Setelah siap ditanami benih, langkah selanjutnya adalah membuat lubang tanam dengan jarak 40 cm di dalam baris dan 50 cm antar baris (double row). Populasi sawi putih per hektar sekitar 28.000 - 30.000 tanaman. Siram persemaian dengan air bersih hingga menjelang penanaman (transplanting) medianya lembab. Kemudian tanam benih satu per satu di lubang tanam (1-2 cm di bawah daun lembaga) tanpa harus melepaskannya dari bumbungan. Lakukan penyiraman atau pengairan untuk mempercepat adaptasi tanaman pada lingkungannya yang baru. Pemupukan Susulan Pada umur sepuluh (10) hari setelah tanam (HST), beri pupuk NPK dengan dosis 5 gr/liter air. Siramkan pupuk NPK ke permukaan tanah di sekitar tanaman (5 cm dari pokok tanaman). Setiap tanaman disiram dengan pupuk sebanyak 200 ml. Pada umur 15 HST, gunakan teknologi EMP II dengan dosis 1,5 liter Agrobost per 300 liter air per hektar. Semprotkan ke permukaan tanah dengan jarak 12 - 15 cm dari pokok tanaman. Pada umur 20 HST, lakukan pemupukan kimia susulan I, yaitu pupuk Urea sebanyak 150 kg/ha dan KCL sebanyak 100 kg/ha. Campur kedua jenis pupuk lalu segera berikan dengan cara ditugal atau ditabur di alur yang dibuat di sekeliling tanaman. Jaraknya 12-15 cm di samping pokok tanaman. Tutup kembali lubang atau alur pupuk dengan tanah. Lakukan penyiraman atau pengairan untuk melarutkan pupuk kimia ke dalam tanah. Pada umur 35 HST, gunakan teknologi EMP III dengan dosis 1,5 liter Agrobost per 300 liter air per hektar. Semprotkan ke permukaan tanah dengan jarak 17-20 cm dari pokok tanaman. Pada umur 40 HST, lakukan pemupukan kimia susulan II, yaitu pupuk Urea 100 kg/ha dan KCL 50 kg/ha. Campur kedua jenis pupuk, lalu segera gunakan dengan cara ditugal atau ditabur di alur yang dibuat di sekeliling tanaman. Jaraknya 17-20 cm dari pokok tanaman. Tutup kembali lubang atau alur pupuk dengan tanah. Perlu diperhatikan bahwa penggunaan teknologi EMP tidak boleh dilaksanakan bersamaam atau dicampur dengan pupuk kimia atau pestisida. Beri jeda waktu minimum 3 hari. Saat penggunaan EMP maupun pupuk kimia, sebaiknya tanah dalam kondisi lembab. Pemeliharaan Tanaman Beberapa hal yang harus dilakukan dalam pemeliharaan tanaman, yaitu dengan cara: a) penyulaman tanaman. Pada penanaman sawi putih dengan metode persemaian di atas, selalu ada beberapa tanaman yang mati, baik karena gagal beradaptasi setelah ditanam di lahan maupun akibat serangan hama, terutama ulat tanah Agrotis sp. Pada umur 7 HST, periksa seluruh tanaman. Jika ada tanaman yang mati,segera diganti dengan bibit yang baru; b) Sanitasi lahan. Kegiatan yang perlu dilakukan adalah penyiangan gulma di sekitar tanaman, termasuk di selokan. Selain sebagai pesaing tanaman pokok dalam menyerap unsur hara dari tanah, gulma bisa menjadi tempat berkembang biak hama ulat; c) pengairan. Efektivitas penggunaan teknologi EMP dan pemupukan akan lebih optimal jika kondisi tanah dalam keadaan lembab stabil. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dilakukan penyiraman atau pengairan secara rutin. Penulis : Wiwiek Hidajati, Penyuluh Pertanian Madya. email : wiwiekhidajati@yahoo.co.id Sumber : Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran Lebih Menguntunngkan dengan Teknologi EMP. Oleh Ir. Wahyudi