Dengan bibit ternak bermutu akan dihasilkan produksi bermutu pula. Bibit Sapi Simmental salah satu solusi untuk memproduksi hasil peternakan. Permintaan akan hasil peternakan dari tahun ke tahun terus meningkat. Kemampuan penyediaan daging dalam negeri baru mencapai 68 % dari permintaan atau sekitar (414,317 ribu ton), sementara kekurangan sebanyak 32 % dipenuhi dari import. Padahal pada tahun 2014 negara kita mentargetkan untuk berswasembada daging. Salah satu upaya yang dilakukan dalam rangka mendukung kesuksesan program swasembada daging adalah melalui peningkatan populasi ternak khususnya ternak sapi yang dilakukan dengan introduksi teknologi penggemukan sapi potong. Teknologi ini merupakan upaya peningkatan produktivitas sapi potong yang berorientasi pada keuntungan. Usaha penggemukan sapi yang dilakukan oleh peternak pada umumnya dilakukan dengan sistem kereman yaitu sapi dikandangkan secara terus menerus selama periode penggemukan dengan waktu yang bervariasi. Lama penggemukan umumnya 4 (empat) bulan. Dengan sistem kereman ini juga akan diperoleh keuntungan berupa produk sampingan yang berasal dari kotoran ternak, air kencing, dan sisa-sisa pakan sebagai bahan pembuatan pupuk kandang atau pupuk organik. Pada umumnya seekor sapi mampu menghasilkan pupuk kandang berupa kotoran dan sisa pakan kurang lebih 16 kg/ekor/hari, atau kurang lebih setara dengan kira-kira 5 ton/ekor/tahun. Ini merupakan suatu nilai tambah atau keuntungan tersendiri yang dapat dinikmati oleh peternak. Usaha penggemukan sapi sangat tergantung dari faktor bibit atau bakalan dan pemberian nutrisi atau pakan yang dapat meningkatkan bobot badan sapi dalam waktu yang singkat. Pada umumnya sapi bakalan yang digemukkan berumur kurang dari satu tahun, sehingga membutuhkan waktu penggemukan yang lama untuk mencapai bobot badan sapi yang layak jual. Padahal dari hasil penelitian Nuschati et al, 2000 dalam Anonim, 2006 disampaikan bahwa waktu penggemukan 4 bulan sudah dapat memberikan keuntungan sekitar Rp 678.000,-/ekor/periode penggemukan. Perhitungan tersebut sudah termasuk hasil pupuk kandang. Sapi Simmental memiliki pertambahan bobot yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis sapi lainnya seperti peranakan Ongole (PO), peranakan Friesian Holstein (PFH) dan bahkan peranakan Limousin. Sebagai gambaran, bibit atau bakalan dari peranakan sapi Simmental memiliki rata-rata pertambahan bobot badan 1,25 kg/ekor/hari dan bahkan dari hasil gelar teknologi 2005 di kabupaten Blora Provinsi Jawa tengah, rata-rata pertambahan bobot badan peranakan sapi Simmental dapat mencapai 1,33 kg/ekor/hari, sementara sapi peranakan Ongole (PO) hanya 0,85 kg/ekor/hari. Sapi Simmental memiliki triguna tipe yang dapat dijadikan sebagai salah satu upaya dalam rangka menyukseskan program swasembada daging tahun 2014. Triguna tipe dari jenis sapi simmental adalah sebagai berikut : ¢ Tipe Pedaging karena simmental mempunyai ciri-ciri badan yang cukup besar, kaki pendek, badan yang panjang dan datar dengan pertumbuhan badan yang sangat baik. ¢ Tipe perah karena betinanya mempunyai produksi susu tinggi (rata-rata 3000 kg/laktasi) dengan presentasi lemak susu sebesar 4. ¢ Tipe pekerja kerena Simmental memiliki ciri-ciri seperti ternak pekerja yaitu berbadan besar, pertumbuhan otot yang sangat baik, mudah diatur, mempunyai tenaga yang kuat dan otot yang kuat. Peryaratan bibit atau bakalan dari jenis sapi Simmental yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan atau penggemukan untuk memproduksi daging yaitu sebagai berikut : 1. Sapi bakalan adalah anak sapi jantan dan betina yang tidak layak bibit yang berumur 1 - 2 tahun untuk digemukkan. 2. Sapi bakalan Simmental harus sehat, tidak cacat fisik seperti : cacat mata (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan kuku abnormal serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya. 3. Bibit sapi harus bebas dari penyakit menular seperti Mulut dan kuku (Foot and Mouth Disease), Penyakit ngorok, Rinderpest,Brucellosis, Anthrax (Radang Limpa), Blue tangue (lidah biru). 4. Jangan yang sudah gemuk. 5. Memiliki kaki pendek, badan yang panjang dan datar 6. Jenis kelamin jantan dimaksudkan untuk produksi daging dan bukan untuk produksi keturunan. 7. Diperkirakan gigi sudah "poel" (umur kurang lebih 1 ½ tahun). Dengan gigi yang sudah poel dimaksudkan agar pakan yang diberikan sepenuhnya dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan daging. 8. Bobot badan awal untuk dijadikan bakalan paling rendah 300 kg. Dengan gambaran tentang bibit sapi Simmental tersebut diatas, semoga dapat digunakan oleh para peternak sebagai acuan dalam berusaha penggemukan sapi potong guna mendukung suksesnya program Swasembada daging 2014. Penulis : Siti Nurjanah, Penyuluh Pertanian Madya Pusbangluhtan. Sumber : 1) Anonim, 1991.Pedoman Standart bibit ternak di Indonesia. Direktorat Bina Produksi Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan. 2) Anonim, 2007.Pedoman Budidaya Ternak sapi potong yang baik (Good Farming Practice). Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia. Direktorat Jenderal Peternakan. 3) Ernawati, Nuschati,2006. Teknologi Penggemukan Sapi Potong. Badan Litbang Pertanian. BPTP Jawa tengah.