Bimbingan teknis (bimtek) pengembangan perbenihan hortikultura, merupakan rangkaian program bantuan benih manggis, jeruk dan kentang sebagai upaya peningkatan produksi hortikultura.Benih, adalah salah satu aspek yang krusial dalam peningkatanproduktivitas, kualitas produk serta efisiensi produksi hortikultura. Namun demikian, dalam praktiknya penyediaan benih saja tidak cukup untuk mencapai tujuan peningkatan produksi hortikultura. Diperlukan dukungan sumberdaya manusia yang handal dan terampil. Oleh karena itu penyelenggaraan Bimtek menjadi andalan untuk mendukung perbenihan hortikultura. Bimtek ini identik pembelajaran informal yang dalam praktiknya peserta selain mendapatkan pembekalan ilmu pengetahuan juga mendapatkanpelatihan-pelatihan yang terkait dengan peningkatan kompetensi. Dalam perkembangannya, Bimtek juga dijadikan salah satu strategi pemberdayaan, karena dalam bimtek di berikan juga materi terkait dengan upaya memecahkan masalah yang dihadapi di lapangan. Kakteristik peserta bimtek yang diidentifikasi dari faktor umur, basis pendidikan formal, dan pengalaman menjadi penangkar benih merupakan faktor internal yang mempengaruhi performan atau penampilan peserta Bimtek. Dalam hal ini penampilan peserta Bimtek akan terefleksikan dalam wawasan tingkat pengetahuan, dan apresiasinya terhadap kegiatan Bimtek. Oleh karena itu memahami karakteristik peserta Bimtek menjadi hal yang penting lebih lama. Berdasarkan hasil identifikasi, diketahui peserta Bimtek umumnya memiliki pengalaman sebagai penangkar rata-rata di atas 5 tahun. Dengan penampilan basis pendidikan formal relatif tinggi, usia produktif, dan memiliki cukup pengalaman sebagai penangkar, maka kegiatan Bimtek diharapkan akan mendorong kapabilitas peserta Bimtek dalam pengembangan perbenihan hortikultura. Karakteristik petani sebagai penerima manfaat pada kegiatan pelatihan menjadi faktor penentu dalam melakukan pemahanan materi. Dalam hubungan dengan apresiasi peserta terhadap kurikulum Bimtek ini, terdapat empat atribut yang dijadikan ukuran.Kepada peserta ditanyakan kesesuaian materi dalam kurikulum Bimtek dengan profesi peserta sebagai penangkar benih, maknanya terhadap peningkatan keahlian dan pengetahuan, manfaat yang dirasakan sebagai produsen benih.Disamping itu ditanyakan juga peran dari materi dalam kurikulum Bimtek itu dalam hubugannya dengan kemungkinan diperolehnya hal-hal baru. Kepada peserta hanya diminta memberikan tanggapan, apakah kurikulum yang disajikan dalam Bimtek itu tidak sesuai (TS), kurang sesuai (KS), cukup sesuai (CS), Sesuai (S), atau sangat sesuai (SS). Peran narasumber dalam Bimtek merupakan faktor kunci yang akan mendorong motivasi peserta untuk memahami persoalan perbenihan hortikultura. Untuk mengetahui kompetensi dari narasumber dalam memberikan materi pada Bimtek, akan terungkap dari apresiasi peserta terhadap Narasumber. Dalam Bimtek ini, diundang narasumber kompeten dari institusi yang ada hubungannya dengan materi Bimtek. Asal instansi narasumber antara lain dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok dan Balai Penelitian Jeruk dan Tanaman Subtropika, Malang. Dalam mengungkap apresiasi peserta terhadap narasumber tersebut, digunakan tiga atribut sebagai acuan pertanyaan, yaitu: eksistensi narasumber, kemudian latar belakang kompetensi narasumber dan profesionalisme yang dimiliki narasumber. Pengaruh Kegiatan Bimtek Secara normatif, penyelenggara Bimtek akan berharap ada perubahan positip yang terjadi pada diri peserta Bimtek. Demikian juga halnya dengan penyelenggaraan Bimtek Pengembangan Perbenihan Hortikultura ini. Kegiatan Bimtek diharapkan akandapat mendorong peningkatan keterampilan, dan perilaku peserta setelah mengikuti Bimtek terutama kaitan dengan pengembangan perbenihan hortikultura. Perubahan ketrampilan peserta sangat penting bagi petani penangkar dalam penyediaan mutu benih yang sesuai karena benih merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi produksi.Kualitas benih menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Pada level petani, penyediaan benih oleh petani penangkar perlu memperhatikan proses penyediaan benih dan mekanismenya, salah satunya adalah melalui sertifikasi benih. Kegiatan Bimtek terbukti efektif dalam mendukung pengembangan perbenihan hortikultura, yang ditunjukkan oleh apresiasi positif peserta Bimtek terhadap semua atribut yang diterapkan dalam prosesi kegiatan Bimtek.Disamping itu Bimtek juga berhasil mendorong peningkatan pengetahuan dan keterapilan peserta Bimtek. Dengan demikian kegiatan Bimtek layak dipandang sebagai salah satu model pemberdayaan yang dapat dikembangkan dalam upaya peningkatan kapabilitas SDM. untuk mendukung keberhasilan suatu program pembangunan pertanian. Untuk mendukung keberhasilan Bimtek, maka diperlukan perancangan Bimtek yang efektif terkait dengan penetapan kurikulum yang disesuaikan dengan isu pembangunan sepesifik, penentuan narasumber yang kompetan, dan ketepatan penentuan alokasi waktu pelaksanaan Bimtek.(Purnomojati Anggoroseto, SP, MSi.) (Sumber: Siti Sehat Tan, Rita Indrasti. 2018. Efektivitas Bimbingan Teknis Dalam Pengembangan Perbenihan Hortikultura Di Jawa Barat, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian)