Loading...

BIOSAKA BPP PURIALA

BIOSAKA BPP PURIALA

Pendahuluan

Biosaka berasal dari kata Bio yang berarti Hayati/tumbuhan dan Saka yang artinya “Selamatkan Alam Kembali ke Alam”. Jadi biosaka ini dibuat dari bahan alami yang ada di alam sekitar kita. Biosaka merupakan inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan berbasis kearifan lokal yang memanfaatkan energi dan senyawa alami dari berbagai jenis tanaman disekitar lahan pertanian. Biosaka bukan pupuk dan pestisida melainkan elisitor yang dapat berfungsi merangsang potensi genetik tanamam agar dapat tumbuh lebih sehat, kuat, produktif sehingga daya tahan tanaman meningkat terhadap penyakit dan hama. 

Manfaat Biosaka

1. Meningkatkan pertumbuhan dan vigor tanaman

2. Mengurangi Penggunaan pupuk anorganik dan pestisida kimia hingga 50-90% 

3. Memperbaiki kualitas hasil panen 

4. Ramah lingkungan dan murah 

Metodologi Pelaksanaan 

Bahan:

Minimal 5-10 jenis tumbuhan sehat yang berbeda. 

Pemilihan daun harus memperhatikan ciri-ciri sebagai berikut: 

√ Secara kasat mata tumbuhan/rumput tersebut berwarna hijau dan sehat. Sebaiknya diambil pada sore hari karena tumbuhan tersebut telah terkena matahari sepanjang hari. Untuk melihat ketahanan dari tumbuhan tersebut.

√ Tumbuhan tidak ada cacat seperti cacat berlubang atau bercak pada daun

√ Tumbuhan tidak sedang disemprot pestisida

√ Tumbuhan yang diambil adalah tanaman yang ada disekitar tempat kita akan mengaplikasikan biosaka (Radius 3 Km)

√ Jika rerumputan dapat diambil dengan batangnya dengan catatan semua daunnya sehat.

√ Hindari tumbuhan yang berduri dan dapat menimbulkan gatal untuk menjadi bahan biosaka.

√ Hindari pengambilan bahan biosaka pada pagi hari atau dalam kondisi hujan. Karena 

bahan yang basah cenderung memiliki kadar air yang tinggi yang dapat memicu pertumbuhan mikroorganisme

*Alat Pembuatan Biosaka*

√ Air Bersih

√ Wadah (Ember dan Botol) 

√ Saringan, Corong, Gayung, Spidol

Cara Pembuatan Biosaka

1. Meremas daun dilakukan dengan tangan kiri memegang batang bahan biosaka dan tangan kanan memegang daun bahan biosaka 

2. Mencelupkan seluruh tumbuhan atau bahan biosaka kedalam air. kemudian meremas secara perlahan. Dalam peremasan ini tidak boleh berenti atau berganti orang. Karena kemungkinan besar biosaka yang dibuat akan gagal.

3. Selama meremas, mengaduknya berlawanan dengan jarum jam. 1x remas 1x aduk selama 20-30 menit dengan posisi tumbuhan tetap terendam didalam air.

5. Proses penghancuran bahan biosaka tidak boleh menggunakan blender tetapi harus menggunakan tangan.

6. Peremasan dilakukan sampai bahan biosaka homogen. Dapat diihat ketika saripati tumbuhan menyatu dengan air.

7. Ramuan biosaka disaring dan dimasukkan kedalam corong. Disimpan disuhu ruang

√ Indikator Keberhasilan Biosaka

Indikator keberhasilan dapat dilihat dengan mengamati biosaka setelah 5 hari pembuatan. Bahan biosaka yang berhasil dicirikan dengan sebagai berikut:

 Cairan biosaka yang tetap homogen. Artinya tidak mengendap, merata homogenitasdidalam botol mulai dari atas dan bawah.

 Tidak timbul gas (botol tidak menggembung)

 Tidak ada butiran

 Bibir permukaan botol membentuk pola cincin

 Ramuan terlihat pekat dan mengkilap

 Diterawang tidak bening

 Bias berwarna biru, hijau, atau merah tergantung jenis bahan tumbuhan yang digunakan.

 Biosaka yang homogen sempurna dapat disimpan selama 5 tahun

 Kepekaan biosaka dapat diukur menggunakan total dissolved solid (TDS) sebaiknya diatas 300 ppm dan untuk menjadi homogen sempurna diatas 500 ppm.

Pengaplikasian Biosaka 

1.Pengaplikasian biosaka sebaiknya di lakukan pada sore hari. Dengan memperhatikan arah angin agar penyemprotan lebih efektif dan merata.

2.Pada saat penyemprotan. Tidak langsung disemprotkan pada tanaman. Tetapi disemprotkan dengan sistem kabut (nozzle). Jika terkena langsung biasanya tanaman tersebut akan menguning daunnya.

3.Untuk penyemprotan 1 hektar tanaman padi sawah dibutuhkan sekitar 400ml biosaka yang  dicampur dicampur sekitar 150 liter air. dengan dosis setara 40ml biosaka per tangki berukuran 15 liter air. dan 1 hektar membutuhkan sekitar 10 tangki.

4.Umur tanaman padi sawah untuk penyemprotan awal 7-10 HST. Dengan interval penyemprotan 10-14 hari hingga menjelang panen atau dengan frekuensi 7x selama satu kali musim tanam.

 

Penyusun. Andi Tenri Ampa, S. P (BPP PURIALA)