Dalam rangka mendukung swasembada beras, Kabupaten Sukabumi pada tahun 2014 ditargetkan untuk surplus beras sebesar 250 ribu ton. Pada tahun 2010, surplus beras di Kabupaten Sukabumi sebesar 172.799 ton, sedangkan pada tahun 2011 menurun menjadi 124.198 ton akibat terjadinya pergeseran waktu tanam, terutama untuk padi gogo. Adapun target yang harus dicapai pada tahun 2012 adalah sebesar 236.300 ton. Target surplus beras tahun 2014 sebesar 250 ribu ton tidaklah mudah untuk dicapai. Banyak kendala yang harus dilalui untuk mencapai target tersebut, diantaranya : (1) tingginya tingkat alih fungsi lahan pertanian produktif ke fungsi non pertanian, seperti pabrik, pemukiman, dan pertokoan. Hal tersebut bagi Kabupaten Sukabumi relatif sulit dihindari, terutama setelah adanya rencana pembangunan jalan tol Ciawi - Sukabumi; (2) masih rendahnya tingkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan petani, terutama bila dilihat dari tingkat pendidikan yang rata-rata hanya tamatan sekolah dasar (SD); (3) sulitnya mendapatkan tenaga kerja muda untuk sektor pertanian, karena mereka menganggap sektor pertanian tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi mereka; dan (4) semakin tingginya tingkat serangan hama dan penyakit sebagai akibat dari perubahan iklim yang dirasakan beberapa tahun terakhir. Peran penyuluhan dalam mendukung tercapainya swasembada beras, terutama melalui pelaksanaan program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN), sangatlah strategis. Peran tersebut terutama menyangkut percepatan adopsi teknologi oleh petani, khususnya dalam penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah dan padi gogo. Bagi Kabupaten Sukabumi, percepatan adopsi teknologi yang sedang ˜digenjot' adalah penerapan tanam jajar legowo, namun tidak mengesampingkan komponen teknologi lainnya. Percepatan ini ditunjang dengan adanya caplak legowo hasil rekayasa Penyuluh Pertanian pada BP3K Parakansalak, Cece Supyani, yang saat ini caplak tersebut telah memasuki generasi ke-3 (bisa dibongkar pasang dan mudah untuk dibawa). Mengingat begitu besarnya tantangan yang dihadapi dalam mensukseskan program P2BN, maka Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Sukabumi menyelenggarakan Rapat Koordinasi Penyuluhan (Rakorluh) Tingkat Kabupaten Sukabumi pada hari Selasa, tanggal 19 Juni 2012, bertempat di Gedung Serba Guna Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Kecamatan Cikembar Kabupaten Sukabumi. Acara tersebut menghadirkan Bupati Sukabumi, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian RI, dan BPTP Jawa Barat sebagai narasumber. Selain itu, acara ini dihadiri oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Sukabumi, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, dan perwakilan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya, Ketua Komisi Penyuluhan Kabupaten Sukabumi, Ketua KTNA Kabupaten Sukabumi, dan unsur swasta (PT. Petrokimia Gresik dan PT. Syngenta Indonesia). Jumlah peserta yang hadir tergolong fantastis, mencapai 500 orang, terdiri dari Penyuluh Pertanian PNS, Penyuluh Perikanan PNS, Penyuluh Kehutanan PNS, THL TBPP pengangkatan Pusat; THL pengangkatan Provinsi Jawa Barat; Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK); KCD, PTCD, dan POPT pada Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi. Selain itu, acara juga dimeriahkan dengan adanya pameran produk pertanian dari kelompok tani, perusahaan swasta, dan Organization for Industrial and Cultural Advancement (OISCA) Sukabumi. Kepala BP4K Kabupaten Sukabumi, Ir. Abdul Kodir, M.Si, dalam laporannya menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya Rakorluh Tingkat Kabupaten Sukabumi adalah : (1) meningkatkan koordinasi dan sinergitas diantara pelaku pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan, (2) menyamakan persepsi mengenai penyelenggaraan penyuluhan di Kabupaten Sukabumi, khususnya dalam mendukung program P2BN, (3) meningkatkan motivasi dan kinerja penyuluh dan petugas lapangan lainnya, khususnya dalam mensukseskan program P2BN, dan (4) sebagai wadah untuk meningkatkan silaturahmi penyuluh dengan OPD terkait dan para pengambil kebijakan. dalam laporannya juga disampaikan bahwa penyuluh yang ada di Kabupaten Sukabumi seluruhnya berjumlah 383 orang, terdiri dari 132 orang Penyuluh Pertanian PNS, 28 orang Penyuluh Perikanan PNS, 37 orang Penyuluh Kehutanan PNS, 118 orang THL TBPP dari pengangkatan pusat, 61 orang THL Pendamping P2BN dari Provinsi Jawa Barat, dan 7 orang Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK). Rekruitmen Penyuluh PNS menjadi hal yang mutlak harus dilakukan, karena hingga tahun 2015 sebanyak 67 orang penyuluh PNS akan pensiun, dan hingga tahun 2021 penyuluh yang pensiun mencapai 148 orang. Bupati Sukabumi, H. Sukmawijaya, dalam sambutannya menyampaikan bahwa rapat koordinasi penyuluhan memiliki peran yang penting dalam pembangunan pertanian di Kabupaten Sukabumi, sehingga perlu dilaksanakan minimal satu kali dalam satu tahun. Selain itu, untuk mensukseskan program P2BN, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) semua pihak yang terkait harus meningkatkan koordinasi dan dan bersinergi dalam pelaksanaan kegiatan, baik di tingkat desa, kecamatan maupun di tingkat kabupaten, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 45/Permentan/OT.140/8/2011 tentang Tata Hubungan Kerja Antar Kelembagaan Teknis, Penelitian dan Pengembangan, dan Penyuluhan Pertanian dalam Mendukung peningkatan produksi beras nasional (P2BN); (2) peran penyuluh dan kelembagaan penyuluhan terkait pendampingan dan pengawalan kegiatan P2BN di lapangan sangat strategis dalam menentukan keberhasilan program P2BN; dan (3) P2BN merupakan kepentingan seluruh masyarakat sehingga perlu dukungan berbagai pihak, termasuk BUMN dan swasta, dalam mendukung keberhasilan program. Sementara itu, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Dr. Ir. Momon Rusmono, MS, menyampaikan bahwa strategi program P2BN adalah peningkatan produktivitas, perluasan areal dan pengelolaan lahan, penurunan konsumsi beras, dan penyempurnaan manajemen. Lebih lanjut disampaikan, dalam mengoptimalkan penyelenggaraan penyuluhan di tingkat lapangan, maka perlu digalakkan: (1) pertemuan dua mingguan di BP3K, (2) pelatihan dua mingguan di BP3K, (3) penyusunan jadwal dua mingguan di BP3K, dan (4) kunjungan ke kelompok tani minimal 4 hari dalam satu minggu. Selain itu, Kapusluh Pertanian mengungkapkan bahwa seorang Penyuluh haruslah bekerja keras, memiliki kemampuan, harus selalu belajar, dan senantiasa meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan pemangku kepentingan. Dalam acara rakor penyuluhan ini, Bupati Sukabumi berkesempatan untuk menyerahkan caplak legowo made ini BP3K Parakansalak kepada Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian dan Kepala BPTP Jawa Barat. Selain itu, Bupati Sukabumi juga menyerahkan piagam penghargaan bagi Penyuluh, pelaku utama, dan kelembagaan tani berprestasi tingkat Kabupaten Sukabumi. (Surya).