Loading...

BP4K KABUPATEN TABANAN MENERIMA KUNJUNGAN STUDI BANDING SPKP KABUPATEN KARANGASEM

BP4K KABUPATEN TABANAN MENERIMA KUNJUNGAN STUDI BANDING SPKP KABUPATEN KARANGASEM
Ungkapan yang mengatakan lain padang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya. Barang kali ungkapan tersebut cocok menggambarkan kondisi kabupaten-kabupaten yang ada di Privinsi Bali. Walaupun secara geografis letak kabupaten-kabupaten tersebut tidak begitu berjauhan satu sama lain, namun potensi sumber daya alam yang dimiliki cukup bervariasi perbedaannya. Perbedaan potensi sumberdaya alam ini tentu merupakan karunia Tuhan, yang tentunya kita tidak terlalu banyak bisa memanipulasinya, namun tetap disyukuri sebagi suatu potensi yang bisa kita kembangkan. Perbedaan sumber daya alam tentu tidak mutlak membuat perbedaan potensi sumberdaya manusia yang dimilikinya. Karena banyak faktor yang bisa membuat potensi sumberdaya manuasi menjadi berkembang, seperti mencari berbagai informasi, mengikuti latihan dan kursus-kursus dan salah satunya melalui studi banding. Barangkali itulah yang menjadi dasar pemikiran bagi kelompok SPKP (Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan) Kabupaten Karangasem untuk melakukan studi banding ke SPKP Mundeh, Desa Mundeh Kauh, Kecamatan Selemadeg Barat Kabupaten Tabanan, dalam upaya untuk menambah pengetahuan, keterampilan dan meningkatkan wawasan dalam pengelolaan organisasi SPKP yang dimilikinya, sebagaimana yang disampaikan oleh ketua rombongan bahwa kedatangan mereka dalam rangka menambah ilmu dan mendapatkan sesuatu yang bisa dikembangkan di Kabupaten Karangasem. Sedangkan dari BP4K Kabupaten Tabanan yang diwakili oleh Koordinator Penyuluh Kehutanan berharap apa yang diperoleh dari hasil studi banding ini dapat memberi manfaat dan bisa diterapkan di dearahnya. SPKP Mundeh yang telah berdiri tahun 2004 saat ini memiliki anggota sebanyak 63 KK, yang keseluruhan anggotanya merupakan masyarakat Dusun Penataran, yang sekaligus juga merupakan Banjar Adat, dan sekaligus juga sebagai anggota Subak Abian Dayang Penataran. Sesuai dengan keberadaanya sampai saat ini telah banyak aktivitas yang dilaksanakan seperti pembuatan kebun bibit desa (KBD), pengembangan jenis tanaman unggul lokal, pengamanan kawasan hutan /longgsor dll, sebagaimana maksud dari terbentuknya SPKP yaitu memberdayakan masyarakat dan lembaga ditingkat pedesaan untuk berpartisifasi aktif dalam penyelenggaraan pembangunan hutan dan kehutanan. Tentu ada pola-pola manajerial yang diterapkan oleh Ketua SPKP ini sehingga keberadaan kelompok ini tetap eksis sampai sekarang. Menurut Ketua SPKP Mundeh suatu organisasi bisa tetap eksis, bila organisasi tersebut mempunyai ikatan yang mengatur anggotanya dan ketentuan berupa aturan-aturan yang mesti diikuti. Adanya aturan yang mengikat anggota juga belum tentu menjamin kelompok tersebut eksis, melainkan juga sangat tergantung sejauh mana anggota merasakan manfaat dari kelompok tersebut. Dan yang lebih penting lagi baginya adalah sejauhmana kelompok tersebut bisa mendapatkan tambahan pendapatan/incam dari ikut sertanya tergabung dalam organisas tersebut. Dengan ketiga prinsip itulah yang menyebabkan Pt. Joniarta, selaku Ketua SPKP, mecoba untuk merealisasikannya dengan mendirikan sebuah Koperasi Desa yang berbasis pertanian dalam arti luas dan kehutanan, dengan anggotanya seluruh kelompok SPKP yang diketuainya. Dari bermodalkan hanya 600 ribuan, hingga sekarang telah mencapai 1 milyar rupiah lebih, tentu bukan merupakan usaha yang ringan. Disamping sebagai Ketua SPKP, juga menjabat sebagai Kelihan/Ketua Subak Abian Dayang Penataran, Ketua Koperasi dan bahkan dalam bidang religius iapun ditunjuk sebagai Pinandita (Pemimpin upacara agama Hindhu) oleh masyarakat di desanya. Itulah kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat padanya dan tentu kepercayaan tersebut mereka laksanakan dengan rasa penuh tanggung jawab. Barangkali itulah menyebabkan SPKP kabupaten Karengasem untuk mencoba melihat dari dekat melalui studi banding, prinsip-prinsip pola pengelolaan SPKP yang telah dilaksanakan di Kabupaten Tabanan. Sesuai dengan keberadaannya selaku kelompok SPKP, salah satu komoditi unggulan yang telah dibudidayakan dalam bidang kehutanan adalah tanaman Gaharu, yang mulai dikembangkan pada kebun kelompok pada tahun 2006. Ini pula menjadi salah satu obyek kunjungan para peserta studi banding, yang langsung dapat melihat tanaman gaharu, teknik budidaya dan manfaatnya, yang mana sebelumnya banyak peserta studi banding yang belum tahu tanaman gaharu. Tanaman ini mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi, karena harganya yang sangat menggiurkan, bila berhasil dalam pembuatan GUBAL, yaitu tanaman gaharu diberi perlakuan dengan menginokulasi jamur fusarium kedalam batang tanaman gaharu. Dari hasil inokulasi ini akan terbentuk Gubal yang berbau sangat harum, dan dapat disuling menjadi minyak wangi, yang katanya bisa dipergunakan juga untuk parfum berkualitas tinggi, aroma terapi, sabun, body lotion, obat-obtan yang memiliki khasiat sebagai anti asmatik, anti mikrobia, stimulan kerja syaraf dan pencernaan, serta berbagai bahan kebutuhan manusia lainnya. Begitu tingginya nilai ekonomis dari tanaman gaharu ini maka sering diungkapkan dalam pepatahsudah gaharu cendana pula. Dari perencanaan yang dirancang oleh Ketua SPKP Mundeh, sebagian hasil tanaman gaharu ini nantinya diolah menjadi dupa, dengan pertimbangan bahwa dupa akan dibutuhkan oleh semua masyarakat, serta akan dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat khususnya di dusun Dayang Penataran. Ini tentu merupakan suatu perencanaan yang cukup bagus dalam upaya pengembangan usaha produktif, sesuai prinsip-prinsip dalam pengembangan SPKP, serta dalam upaya mensukseskan visi Pemerintah Kabupaten Tabanan SERASI (Sejahtera,aman dan berprestasi ). Kabupaten Karangasem merupakan kabupaten yang terletak paling timur Pulau Bali. Waktu yang diperlukan dari Karangasem sampai ke Mundeh Kauh kurang lebih 3 jam perjalanan, dalam kurun waktu tersebut bukan semata-mata hanya mendapat informasi bagaimana budidaya tanaman gaharu dan bagaimana pengelolaan SPKP yang baik, melainkan banyak hal-hal yang dapat mereka petik dari hasil perjalanan studi banding seperti lebatnya buah kopi, sistem diversifikasi tanaman kelapa dengan kakao, kopi dan tanaman lainnya yang dapat dilihat sepanjang jalan menuju desa tersebut, bahkan semua itu sempat menjadi bahan diskusi bagi peserta stadi banding yang ingin mencoba untuk menirunya. (I Made Widiada, BP4K Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali).