Gas Rumah Kaca (GRK) adalah gas yang memiliki sifat seperti rumah kaca yaitu meneruskan radiasi gelombang pendek atau cahaya matahari tetapi menyerap dan memantulkan radiasi gelombang panjang yang dipancarkan bumi yang bersifat panas sehingga meningkatkan suhu atmosfir bumi. Secara teoritis gas rumah kaca (GRK) di atmosfir bumi sangat penting, karena gas tersebut membuat iklim bumi menjadi hangat dan stabil. Tanpa GRK di atmosfir, suhu permukaan bumi diperkirakan mencapai -18 derajat Celcius. Tapi bila GRK di atmosfir bumi berlebihan, maka akan berdampak buruk, karena panas yang dipantulkan kembali kemuka bumi akan lebih bnyak sehingga suhu bumi makin panas. GRK yang perlu mendapat perhatian adalah: 1) Karbon dioksida (CO2); 2) Metana (CH4); 3) Nitro-oksida (N2O), 4) O3; 5) kloro-flurokarbon (CFC); 6) hidrokloroflurokarbon (HCFC); 7) hidroflurokarbon (HFC); 8) perflurokarbon (PFC); dan 9) sulfur heksaflorida (SF6). Sekitar 57% GRK berasal dari pembangkit atau produksi energi dan konsumsi energi yaitu pembakaran bahan bakar fosil (BBF) seperti minyak bumi, gas dan batu bara yang dipergunakan sebagai pembangkit tenaga listrik untuk keperluan rumah tangga, industri dan transportasi. Dari 9 emisi tersebut, CO2, CH4 dan N2O merupakan penyumbang panas bumi terbesar karena memiliki sifat seperti rumah kaca. Methana (CH4) Methana adalah gas yang terbentuk dari metobolisme jasad renik dalam kondisi tergenang (anaerob) didasar rawa, sawah, lambung manusia atau hewan dan dalam tumpukan sawah di TPA. Gas methana juga dihasilkan dari pembakaran biomasa/bahan organik dan terdapat dalam tambang batu bara. Produksi methana dipengaruhi oleh suhu, sehingga dalam isu pemanasan global, peningkatan suhu akan memperbesar produksi methana. Sumber methana umumnya adalah antropogenik, yaitu hasil kegiatan manusia dibidang pertanian, peternakan dan pembakaran biomassa, berturut-turut memberikan sumbangan 21%, 15% dan 8% emisi dunia. Emisi methana dari lahan pertanian umumnya berasal dari sawah. Karbondioksida (CO2) Karbondioksida sangat diperlukan tanaman untuk keperluan fotosintesis guna pembentukan karbohidrat. Namun dalam kondisi berlebihan, CO2 ikut berperan dalam peningkatan efek rumah kaca. Menurut perhitungan, CO2 mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemanasan global dibandingkan dengan GRK lainnya. Sekitar 50% pemanasan global disebabkan oleh CO2 dan sisanya oleh GRK yang lain. Emisi CO2 terbesar berasal dari penebangan dan pembakaran hutan, terutama dari negara-negara sedang berkembang di sekitar katulistiwa. Sebagian dari CO2 akibat penggundulan hutan diikat oleh vegetasi hutan yang tumbuh kembali atau dari hutan yang masih tersisa. Selebihnya CO2 diemisikan ke atmosfir dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Karbondioksida adalah salah satu GRK yang konsentrasinya di atmosfir mendapat prioritas untuk diturunkan. Ketika revolusi industri baru dimulai, konsentrasi CO2 di atmosfir hanya 290 ppmv (part per million volume), dan saat ini konsentrasinya telah meningkat yang disebabkan karena tidak seimbangnya antara besarnya sumber emisi (source) dan daya rosotnya. Nitro Oksida (N2O) Nitro oksida (N2O) berasal dari pembakaran biomassa, kegiatan mikroba dalam proses denitrifikasi dan nitrifikasi, konsumsi bahan bakar fosil dan dari lautan. Proses denitrifikasi dan nitrifikasi berkaitan erat dengan penggunaan pupuk, baik pupuk organik maupun an organik terutama nitrogen. Makin banyak pupuk yang digunakan khususnya pupuk an organik makin besar pula emisi N2O. Jenis tanah, kondisi tanah, suhu, curah hujan dan jenis tanaman akan berpengaruh terhadap laju emisi N2O. Upaya pengurangan Gangguan keseimbangan lingkungan khususnya di bidang pertanian, akan berakibat menurunnya produktivitas lahan dan kualitas hasil pertanian. Untuk itu pengelolaan lingkungan pertanian yang tepat harus segera diupayakan secara intensif sesuai dengan kondisi setempat yang meliputi sumberdaya alam dan kebiasaan petani dalam mengelola usahataninya secara baik dan lestari. Untuk mengurangi emisi GRK dapat dilakukan antara lain dengan upaya-upaya sebagai berikut: 1. Melakukan penurunan CO2 dilakukan dengan prinsip emisi CO2 harus lebih kecil dari CO2 yang ditambat tanaman. CO2 dan N2O termasuk gas yang mudah didegradasi atau ditambat. 2. Untuk mengurangi akumulasi CH4 yang mempunyai sifat sulit didegradasi yang berakibat adanya akumulasi CH4 di atmosfir dari waktu ke waktu terus meningkat, maka perlu menerapkan strategi yang tepat dan dapat diaplikasikan. Prinsipnya, emisi CH4 agar diubah menjadi gas yang mudah didegradasi seperti penerapan sistem pengairan berselang (intermitten). Sistem pengairan dapat menekan emisi CH4, meskipun N2O dan Co2 meningkat hal ini tidak begitu bermasalah karena N2O dan CO2 mudah terdegradasi. 3. Penggunaan varietas padi yang rendah emisi CH4 4. Penerapan pengolahan tanah minimum atau sistem tanpa olah tanah akan mengurangi emisi CH4 dari tanah sawah. 5. Pemupukan dengan pupuk organik maupun an organik akan menurunkan emisi CH4. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Pengembangan Inovasi Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta 2009.