"Solusi Mengatasi Berkurangnya Tenaga Penanam Padi" Dulu saat musim tanam padi tiba, petani dengan bagitu mudahnya mendapatkan buruh tandur/tanam padi yang dibayar harian atau dengan sistem ceblokan. Banyak pula buruh tani yang tidak mendapatkan pekerjaannya sebagai penanam padi karena melimpahnya buruh tanam padi. Menanam padi (tandur) dibutuhkan tenaga yang telaten agar tanamannya rapi dan teratur dalam barisan. Karena mengandalkan ketelatenan, maka pekerjaan ini lebih banyak didominasi kaum perempuan. Jika musim tanam tiba, Ibu-ibu atau remaja putri bersedia untuk turun ke sawah sebagai buruh (buburuh : Jawa Barat) untuk tanam padi. Sedangkan buruh laki-laki hanya bekerja untuk pekerjaan yang lebih bertenaga seperti mencangkul, mopok, dan mencaplak (membuat larikan tanam). Hal yang berbeda terjadi hampir lima tahun ke belakang di Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang – Jawa Barat, dimana buruh tanam padi didominasi kaum renta dan lansia, ibu-bu dan remaja putri pun enggan menjadi buruh tanam padi, mereka lebih memilih menjadi karyawan/buruh pabrik dimana upah lebih besar, bekerja lebih pasti/terjadwal, tempat kerja bersih, dan tidak perlu kena lumpur sawah. Tidak dipungkiri bahwa hal tersebut merupakan dampak dari beralihnya pola masyarakat agraria ke bidang industri dengan dibangunnya pabrik-pabrik besar seiring dengan ditetapkannya wilayah Kecamatan Pagaden sebagai salah satu zona penyangga mega proyek pelabuhan internasional patimban di wilayah utara kabupaten subang. Berdasarkan pengamatan kami dilapangan, bahwa ibu-ibu dan usia remaja sebagai buruh tani mulai menunjukkan adanya pergeseran minat dalam pekerjaan, yakni dari sektor pertanian ke sektor industri, perdagangan, dan jasa. Buruh tani kaum renta dan lansia pun sulit ditemui apabila musim tanam padi tiba, mereka lebih memilih tinggal di rumah sebagai pengasuh anak/cucu dan pekerja rumah tangga sementara anak-anak mereka pergi bekerja ke pabrik-pabrik. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya tenaga tanam yang cepat dan bisa diandalkan. Impor tenaga tanam pun mulai dilakukan, bisanya dari daerah-daerah di luar wilayah kecamatan dengan tenaga buruh terbatas dan bayaran agak sedikit tinggi. Berdampak pada mundurnya jadwal tanam, tanam tidak serempak, dan meningkatnya biaya produksi. Program mekanisasi pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) tidak hanya meningkatkan produksi pangan, di sisi lain terbukti menjadi solusi dalam mengatasi kelangkaan tenaga kerja bidang pertanian. Salah satu cara yang bisa kami tempuh yaitu dengan melaksanakan koordinasi antara pelaku utama (gapoktan dan kelompok tani), pelaku usaha, dan aparatur pertanian. Kegiatan koordinasi kami laksanakan bertempat di Sekretariat Gapoktan Sabilulungan Desa Gunungsari Kecamatan Pagaden. Adapun dalam kegiatan koordinasi tersebut membahas permasalahan berkurangnya tenaga tanam padi serta ragam solusi atas permasalahan tersebut. Pembentukan brigade tanam padi, dirasakan solusi tepat saat ini. Brigade tanam padi ini beranggotakan buruh tanam padi yang nantinya akan dilatih serta difasilitasi dengan alat penanam padi (tandur) baik yang digerakan oleh mesin maupun manual (rice transplanter) melalui fasilitasi Dinas Pertanian. Operator alat penanam padi pun sama akan dilatih terlebih dahulu sebelum alat penanam padi dioperasikan ke sawah petani. Penggunaan mesin rice transplanter diharapkan mampu menghemat biaya 30% s/d 50% dari mulai biaya persemaian sampai dengan biaya penanaman. Dalam luasan satu hektar hanya memerlukan tenaga kerja dua sampai empat orang dengan waktu 4 - 6 jam sesuai kemahiran operator. Bila dibandingkan dengan cara manual, kegiatan tandur memerlukan 40 orang dalam satu hektar. Petani juga tidak perlu membuat persemaian di sawah karena bibit sudah disediakan oleh Tim Brigade Tanam, dan petani tinggal pesan mau tanam bibit dan varietas apa. Saat ini, Brigade Tanam Padi ini masih sebagai percontohan dan pioneer. Kedepan, kami berharap brigade tanam padi ini dapat diadopsi oleh semua gapoktan se Kecamatan Pagaden minimalnya terbentuk satu regu Brigade Tananam Padi per desa sehingga permasalahan tenaga kerja penanam padi khususnya di Kecamatan Pagaden dapat teratasi. Red. : Tim BPP Kecamatan Pagaden) BPP Kecamatan Pagaden e-mail : bppkecamatanpagaden@gmail.com