Semangka termasuk tanaman ikiim kering. Hujan yang beriebihan dan suhu yang rendah (di bawah 100 C) akan merusak tanaman. Apabila di sekitar tanaman sampai tergenang air, maka akamya akan membusuk dan akhimya tanaman mati. Semangka dapat tumbuh baik pada tanah yang subur, gembur, berdrainase baik, serta mempunyai keasaman yang normal. Sifat dan kebutuhan tanaman ini akan menentukan pola usaha taninya. Pengolahan Tanah Setelah mengetahui sifat serta kebutuhan tanaman semangka, hal-hal yang menyangkut pembudidayaannya berikut ini perlu diperhatikan. - Tanah diolah dengan baik dan dikerjakan secara intensif. - Penanaman semangka sebaiknya dengan sistem bedengan. Sebab, sistem bedengan ini memudahkan pemberian serta pembuangan air. Pengolahan lahan pada usaha tani semangka yang baru dibuka adalah seperti berikut ini. 1. Pembersihan lahan Lahan dibersihkan. Seluruh tunggul (bekas akar pepohonan) dan batu-batu yang mengganggu dibuang atau dipinggirkan. 2. Pembajakan Lahan dibajak dua kali. Kemudian dicangkul halus dua kali pula. 3. Pembuatan bedengan. Pada lahan yang telah dibajak dan dicangkul halus, dibuat bedengan. Panjang bedengan 12-15 m dengan lebar 1,5-2 m atau 3-4 m. Apabila lebar bedengan 1,5-2 m, maka penanaman hanya dilakukan satu baris saja, di tengah atau di pinggir bedengan. Tanaman yang ditanam di tengah bedengan dapat dibiarkan tumbuh ke segala arah. Sedangkan tanaman yang ditanam di pinggir bedengan, sebaiknya diatur pertumbuhannya agar ke satu arah, yakni ke arah bedengan. Apabila lebar bedengan 3-4 m, maka penanaman dilakukan dua baris dengan jarak tanam 1,5-2 m. 4. Pembuatan lubang tanam Lubang tanam dibuat dengan ukuran 40 x 40 x 30 cm. Jarak lubang tanam atau jarak tanam di dalam baris 1,2-1,5 m. Lubang tanam ini diberi pupuk dasar yang terdiri dari 3-4 kg pupuk kandang, 28 g pupuk DS, 22 g pupuk ZK, dan 15 g pupuk ZA. Dosis atau jumlah pupuk dan cara pemberiannya akan diuraikan pada bab mengenai pemupukan. Sumber : Mochd Baga Kalie, Bertanam Semangka, 1993, Depok