Bawang merah (Allium cepa L.) merupakan tanaman semusim yang banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan bawang merah semakin meningkat karena hampir semua masakan membutuhkan komoditas rempah ini. Budidaya bawang merah selama ini lebih banyak dibudidayakan di lahan sawah dan jarang ddibudidayakan pada lahan kering. Secara teknis, bawang merah mampu beradaptasi baik di lahan kering, seperti yang dilakukan oleh kelompok wanita tani Kriden Ina Kelurahan Ritaebang, Solor Barat, walaupun hanya dalam luasan 6 are. Persiapan Lahan Persemaian Pemebrsihan lahan dari sisa-sisa tanaman atau gulma, tanah dicangkul dan dibuatkan bedengan. Bedengan semai ditaburi dengan pupuk kompos, dan digembur agar tanah dan pupuk kompos dapat menyebar merata pada bedengan semai. Bedengan semai disiram dengan air, dan dibiarkan beberapa hari, selama itu bedengan tetap disiram pagi dan sore, sebelumnnya dilakukan penggemburan tanah agar kondisi tanah pada bedengan semai betul -betul dalam keadaan gembur Pembuatan alur pada bedengan semai dengan jarak antar alur 10 cm Benih ditabur pada alur tersebut dengan kedalaman 1 cm dan di tutup Penyiraman dilakukan dengan menggunakan alat penyiram, dengan ukuran lubangnya kecil/ halus, dan penyiraman dilakukan secara rutin setiap hari untuk menjaga kelembaban tanah Umur persemaian untuk siap pindah, 40 – 45 hari setelah semai Sebelum dipindahkan, bedengan semai dibasahi terlebih dahulu untuk memudahkan pengambilan atau pencabutan semaian Pencabutan dilakukan secara hati-hati, agar tidak merusak akar semaian Persiapan Lahan Pertanaman dan Penanaman Bedengan dibuat dengan ukuran 120 cm, tinggi 40 – 50 cm, jarak antar bedeng , dan panjang bedengan, disesuaikan dengan lahan Sebelum penanaman dilakukan penebaran pupuk bokshi, dan dilakukan pembalikan tanah pada bedengan agar bokashi tersebar merata dalam bedengan, kemudian disiram sampai basah, dibiarkan selama + 2 minggu Jarak lubang tanam 10 – 20 cm X 10 – 20 cm ( 175 – 700 ribu tanaman / ha Setiap lubang diisi 1 benih dan tanah disekitar tanaman di tekan agar akarnya menyatu dengan tanah. Pemeliharaan Penyulaman dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh atau mati Penyulaman dilakukan sesegera mungkin selambat-lambatnya 7 hari setelah tanam agar pertumbuhan tanamannya seragam Pemupukan dilakukan dua minggu sekali dengan menggunakan Pupuk Cair optima dengan dosis, 1 ltr air : 1 cc Optima dan dilakukan pada sore hari penyiraman dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore agar tanaman tidak layu atau stres Pengendalian gulma dilakukan 2 atau 3 kali seminggu jika ada gulma Hama utama bawang merah adalah: Ulat grayak, thrips, orong-orong dan penggerek daun, sedangkan penyakit utamanya adalah bercak ungu, Embung tepung, fusarium dan Antraknosa Upaya pengendaliannya sebaiknya ramah lingkungan, seperti sanitasi atau kebersihan sekitar lingkungan tanaman, pembuangan umbi terinveksi, penggunaan perangkap likat kuning atau penggunaan pestisida kimia secara selektif dan tepat. Panen dan pasca Panen Panen dapat dilakukan setelah 75 % daun bagian atas rebah, yaitu umur 60 – 80 hari setelah tanam Sebagian umbi telah tersembul keatas Dilakukan dengan cara mencabut secara hati-hati agar umbi tidak rusak dan tertinggal di dalam tanah Pelayuan dengan cara penjemuran daun untuk mendapatkan kulit umbi berwarna dan berkilau ( 2-3 hari) dibawah sinar matahari langsung, dan umbi dibersihkan dari kotoran tanah dan akar kemudian diikat dan dikeringkan Salah satu penyimpanan yang baik adalah dengan menggantung di tempat yang kering atau meletakknya di atas para-para penulis : Petronela Perada Keray,SST/PPL BPP NUSA CENDANA/SOLOR BARAT