Loading...

BUDIDAYA BAWANG PUTIH DI LAHAN DATARAN RENDAH: PELUANG DAN TANTAN

BUDIDAYA BAWANG PUTIH DI LAHAN DATARAN RENDAH: PELUANG DAN TANTAN

Indonesia menghadapi tantangan struktural dalam pemenuhan kebutuhan bawang putih domestik. Berdasarkan kajian Analisis Posisi dan Tingkat Ketergantungan Impor Bawang Putih (periode 2019–2023), rata-rata Import Dependency Ratio (IDR) Indonesia untuk bawang putih mencapai 90,64 %, yang menunjukkan bahwa mayoritas kebutuhan dalam negeri masih bergantung pada impor [1]. Sumber data serupa juga diungkapkan dalam publikasi Kementerian Pertanian yang menunjukkan sebagian besar suplai bawang putih nasional berasal dari impor [2].

Dalam praktiknya, pada tahun 2025 realisasi impor bawang putih telah mencapai 163.082 ton, atau sekitar 35,74 % dari alokasi Persetujuan Impor (PI) yang diterbitkan pemerintah untuk periode tersebut [3]. Dalam laporannya, Kemendag menyebut bahwa tantangan dalam proses impor juga berasal dari negosiasi harga dengan pemasok luar negeri serta hambatan distribusi logistik. [3].

Beberapa sumber media massa menyebut angka yang lebih ekstrem: bahwa hampir 95 % kebutuhan nasional dipenuhi dari impor, sedangkan produksi domestik hanya menyumbang sekitar 5 % [4]. Pernyataan ini menunjukkan persepsi publik yang kuat mengenai ketidakmampuan Indonesia memproduksi bawang putih dalam jumlah signifikan sendiri.

Program swasembada bawang putih, yang semula ditargetkan tercapai pada 2021, hingga kini belum terealisasi secara penuh [5]. Kendala klasik yang sering dikemukakan adalah persepsi bahwa bawang putih hanya cocok ditanam di dataran tinggi (umumnya > 800 meter di atas permukaan laut). Karena itu, peluang budidaya di dataran rendah—besar secara luas lahan potensial—relatif diabaikan.

Pandangan bahwa bawang putih “hanya bisa sukses di dataran tinggi” menjadi kendala psikologis dan teknis: banyak petani, penyuluh, dan perencana kebijakan masih memprioritaskan dataran tinggi sebagai satu-satunya lokasi viable. Hal ini membatasi perluasan areal, terutama di daerah dataran rendah yang secara geografis lebih luas dan lebih mudah diakses.

Mematahkan Mitos Tinggi > 800 mdpl sebagai Syarat Wajib

Dalam literatur budidaya bawang putih, anggapan bahwa tanaman ini memerlukan dataran tinggi tumbuh subur sering dikaitkan dengan kebutuhan suhu rendah untuk proses pembentukan umbi (differensiasi) dan vernalization (pendinginan). Namun, penelitian dan percobaan modern menunjukkan bahwa bawang putih dapat diadaptasikan ke dataran rendah, asalkan faktor lingkungan dan teknik budidaya disesuaikan.

Sebuah studi Garlic Production in Indonesian Tropical Lowland mengemukakan bahwa meskipun bawang putih secara tradisional lebih aman ditanam di dataran tinggi, teknologi dan varietas adaptif memungkinkan budidaya di dataran rendah dengan hasil optimal [7]. Studi ini menegaskan bahwa batasan suhu (optimal 15–25 °C untuk pertumbuhan) dapat diatasi melalui manajemen mikroiklim dan varietas yang tahan suhu tinggi.

Penelitian “Uji Adaptasi Beberapa Varietas Tanaman Bawang Putih (Allium sativum L.) di Dataran Rendah Muaro Jambi” oleh Windy Kurniaty et al. (2022) menunjukkan bahwa sejumlah varietas lokal mampu tumbuh dan berproduksi di Muaro Jambi (dataran rendah) [6]. Dalam penelitian tersebut, varietas lumbu putih disebut sebagai salah satu varietas yang toleran di dataran rendah, sedangkan varietas lain seperti lumbu hijau, lumbu kuning, tawang mangubaru, dan sanggasambalun lebih cocok di dataran tinggi [6].

Penelitian tentang genotipe bawang putih di dataran rendah yang dilakukan di kebun percobaan IPB melalui Uji Pertumbuhan dan Produksi Tujuh Genotipe Bawang Putih juga menunjukkan bahwa variasi genotipe sangat menentukan performa di dataran rendah [9]. Hasil ekperimental menunjukkan bahwa ada genotipe yang tetap membentuk umbi dengan baik meskipun berada di lingkungan termal lebih tinggi dibanding dataran tinggi.

Selain itu, dalam riset Pengaruh Pemulsaan pada Beberapa Varietas Bawang Putih, ditemukan bahwa varietas Lumbu Hijau menunjukkan pertumbuhan lebih baik pada dataran rendah dibanding varietas Lumbu Kuning dan varietas lainnya [10]. Hal ini membuka peluang seleksi varietas lokal yang memang lebih toleran terhadap kondisi dataran rendah.

Varietas Adaptif yang Disarankan

Berdasarkan hasil penelitian di atas, beberapa varietas yang relatif adaptif untuk lahan dataran rendah adalah:

  • Lumbu Putih — varietas lokal yang disebutkan toleran terhadap dataran rendah [6].
  • Lumbu Hijau — dalam pemulsaan menunjukkan performa yang lebih baik di dataran rendah dibanding varietas lain, sebagaimana temuan dalam riset pemulsaan varietas [10].

Untuk memperluas penggunaan varietas ini, diperlukan program seleksi dan adaptasi lokal di setiap wilayah dataran rendah, karena kelembapan, suhu maksimum harian, durasi panas, dan intensitas sinar matahari bervariasi.

Dengan pemilihan varietas dan pengelolaan lingkungan (perlindungan panas, naungan mikro, irigasi, pengaturan jarak tanam), dataran rendah dapat menjadi lahan yang menjanjikan untuk budidaya bawang putih, sekaligus mengurangi beban impor.

Teknik Pendinginan Benih (Vernalisasi): Pentingnya Pra-perlakuan Suhu Rendah

Apa itu Vernalisasi (Pendinginan Benih)?

Vernalisasi adalah perlakuan suhu rendah (cold treatment) pada benih bawang putih, terutama siung benih, sebelum penanaman. Tujuannya merangsang proses fisiologis pembentukan tunas, diferensiasi umbi, dan florogenesis dalam tanaman bawang putih. Tanpa vernalization yang memadai, tanaman bawang putih cenderung menghasilkan umbi yang kecil atau pertumbuhan vegetatif yang dominan dibanding pembentukan umbi utama.

Penelitian Temperature and Duration of Vernalization Effect on the Vegetative Growth of Garlic (Allium sativum L.) Clones in Indonesia meneliti efek suhu dan durasi vernalization terhadap pertumbuhan vegetatif varietas bawang putih di Indonesia. Mereka menemukan bahwa perlakuan pendinginan (sekitar 0–5 °C) selama durasi tertentu (beberapa minggu) sebelum tanam berpengaruh signifikan terhadap panjang akar, tinggi tanaman, dan potensi diferensiasi umbi [8].

Hasil penelitian tersebut memberikan rekomendasi suhu optimal dan lama perlakuan vernalisasi untuk klon bawang putih di Indonesia agar dapat menghasilkan pemula umbi yang lebih baik ketika ditanam di dataran rendah.

Relevansi Vernalisasi untuk Dataran Rendah

Pada dataran rendah, tantangan suhu tinggi (terutama suhu malam yang relatif hangat) dapat menghambat diferensiasi umbi atau menyebabkan tanaman justru berkembang sebagai tanaman berdaun tanpa membentuk umbi besar. Dengan melakukan vernalization pada benih (siung) sebelum tanam, tanaman dibantu “mengalami musim dingin buatan” sehingga dapat memulai siklus pembentukan umbi lebih cepat ketika ditanam di lingkungan yang relatif hangat.

Metode praktis yang bisa diterapkan petani meliputi:

  1. Menyimpan siung benih di ruang pendingin (cold chamber) pada suhu 0–4 °C selama 4–6 minggu (tergantung varietas).
  2. Mengatur kelembapan (70–80 %) agar benih tidak mengering selama penyimpanan.
  3. Menyisipkan periode adaptasi suhu (aklimatisasi) sebelum tanam agar benih tidak stres ketika dipindah ke luar.
  4. Memastikan bahwa benih tetap dalam kondisi sehat (bebas penyakit) selama perlakuan cold storage.

Dengan penggunaan vernalization, petani dataran rendah dapat meningkatkan peluang terbentuknya umbi optimal dan mengurangi kegagalan produksi akibat kegagalan diferensiasi.

 

Manajemen Air: Kebutuhan Spesifik dan Pentingnya Drainase untuk Mencegah Busuk Pangkal

Kebutuhan Air yang Presisi

Bawang putih mempunyai pola kebutuhan air yang tidak terlalu tinggi seperti padi, tetapi memerlukan kelembapan tanah yang cukup dan kestabilan suplai air, terutama pada fase pembentukan dan pematangan umbi. Kelembapan tanah yang ekstrem (baik kekeringan maupun kejenuhan) dapat memperburuk pertumbuhan dan produksi.

Dalam konteks dataran rendah, di mana curah hujan tinggi atau genangan dapat lebih mudah terjadi, pengaturan irigasi dan drainase menjadi aspek kritikal. Penelitian dan laporan budidaya menyebut bahwa drainase buruk di dataran rendah sering menjadi penyebab kegagalan utama—terutama penyakit busuk pangkal (basal rot) yang menyerang leher dan pangkal umbi.

Pentingnya Drainase dan Pencegahan Busuk Pangkal

Busuk pangkal atau basal rot dapat disebabkan oleh patogen seperti Fusarium spp. dan Pythium spp., yang berkembang pesat pada kondisi kelembapan tinggi dan air tergenang di sekitar pangkal tanaman. Kondisi lembab yang berkepanjangan mempermudah penetrasi patogen ke dalam jaringan akar dan bawang.

Untuk mencegah hal tersebut, langkah‐langkah manajemen drainase dan air yang disarankan:

  1. Bed raised / bed tinggi: membuat bed sedikit tinggi agar permukaan tanah tidak tergenang saat hujan deras atau irigasi.
  2. Saluran drainase horizontal dan vertikal: menyusun selokan penguras dan saluran pengalir air agar kelebihan air segera terbuang.
  3. Pengaturan irigasi terukur: menggunakan irigasi tetes atau irigasi mikro agar kelembapan relatif konstan tanpa genangan.
  4. Mulsa organik atau plastik: membantu menjaga kelembapan tanah merata dan mengurangi fluktuasi air permukaan.
  5. Pemilihan lahan dengan kemiringan ringan: untuk memudahkan gravitasi mengalirkan air ke saluran pembuangan.

Dengan manajemen air yang tepat, dataran rendah dapat dijadikan lahan optimal bagi budidaya bawang putih, asalkan risiko busuk dan kelebihan air dapat dikendalikan.

Budidaya bawang putih di lahan dataran rendah sebenarnya menyimpan potensi besar, asalkan mitos dan kendala teknis diatasi secara ilmiah. Ketergantungan impor bawang putih Indonesia yang tinggi menjadi masalah struktural yang mendesak untuk dihadapi melalui inovasi budidaya dan pemanfaatan lahan dataran rendah [1] [2] [5].

Dengan memperkenalkan varietas adaptif seperti lumbu putih, lumbu hijau, dan genotipe unggul lainnya, memanfaatkan teknik vernalization untuk benih, serta menerapkan manajemen air dan drainase yang baik, produksi bawang putih di dataran rendah dapat meningkat. Selanjutnya, upaya perluasan areal, transfer teknologi ke petani, dan dukungan kebijakan (insentif varietas dataran rendah, subsidi cold storage, insentif irigasi) menjadi elemen penting agar swasembada bawang putih dapat dicapai secara nyata.

Sumber :

1.       https://www.ejournalwiraraja.com/index.php/FP/article/view/3874

2.       https://satudata.pertanian.go.id/assets/docs/publikasi/Buku_Analisis_Ketersediaan_dan_Kebutuhan_Kom_Pertanian_2024.pdf

3.       https://www.antaranews.com/berita/4902285/kemendag-realisasi-impor-bawang-putih-capai-163-ribu-ton

4.       https://pks.id/content/pks-kebutuhan-bawang-putih-95-persen-penuhi-dari-impor-apa-berani-presiden-stop-impor-bawang-putih

5.       https://hortikultura.pertanian.go.id/swasembada-bawang-putih-melawan-opini-mafia-pangan-2/

6.       https://jagro.unbari.ac.id/index.php/agro/article/view/147

7.       https://api.fspublishers.org/viewPaper/Paper-3170159444-2024-12-25.pdf

8.       https://colab.ws/articles/10.1515%2Fopag-2022-0114