Padi beras merah merupakan salah satu jenis padi di Indonesia yang mengandung gizi yang tinggi. Beberapa zat gizi umumnya ditemukan di beras merah termasuk vitamin E, thiamin, magnesium, vitamin B6, dan serat. Selain itu, ada sekitar selusin lebih banyak vitamin dan mineral yang ditemukan dalam beras merah. Beras merah atau beras putih sebenarnya adalah dalam satu varietas, namun secara kasat mata bisa dibedakan dari warna beras merah yang agak gelap kecoklatan. Secara harga, beras merah tentu lebih tinggi karena ia merupakan beras dari jenis padi yang tidak banyak dibudidayakan. Bagaimana soal gizi?Meskipun beras merah kurang nyaman dimakan maupun pada saat memasaknya. Beras merah membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memasaknya, serta kurang nyaman jika dimakan karena lebih keras/pera daripada beras putih. Hal itulah mungkin yang membuat beras merah kurang banyak diminati oleh masyarakat sebagai makanan sehari-hari. Secara gizi beras merah lebih unggul daripada beras putih, karena ia mengandung zat yang dikenal dengan sebutan antosianin. Senyawa yang terdapat pada lapisan warna merah pada jenis beras ini, dan bermanfaat sebagai zat antioksidan, antikanker, anti glisemik tinggi yang artinya baik untuk diabates, serta anti hipertensi.Namun di Indonesia padi beras merah kurang mendapat perhatian dibandingkan padi beras putih. Petani masih enggan menanam padi beras merah. Seperti halnya di wilayah binaan BPP kec Ngrambe, baru 3 kelompok tani yang membudidayakan beras merah. Oleh karena itu perlu diperluasnya budidaya padi beras merah demi kesejahteraan masyarakat bersama. Adapun cara untuk membudidayakan tanaman padi beras merah adalah sama dengan budidaya padi putih meliputi persiapan lahan, pembenihan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama dan gulma. Penyiapan Bibit Jemur benih padi selama ± 1 jam, rendam benih selama ± 12 jam dalam larutan Pupuk Organik Cair. 1 tutup PO Cair dilarutkan dalam 5 liter air untuk 3,5 kg benih. Buang benih padi yang terapung. Tiriskan benih padi, masukkan benih ke dalam karung yang telah dilapisi daun pisang tutup rapat, simpan di tempat lembab. Peram benih selama 2-3 hari sampai benih mulai berkecambah (gondok). Setelah berkecambah, benih siap ditebar. Benih ditanam pada lahan semai, dimana lahan semai ukuran 20 m² untuk lahan 1000 m2. Pupuk makro yang digunakan Urea 0,135 Kg setara ¾ gelas air mineral, NPK 0,34 Kg setara 13/4 gelas air mineral, Dolomit 0,1 Kg setara ½ gelas air mineral, Pupuk Organik Padat 0,025 kg setara 1 sendok teh. Pupuk urea, NPK, dolomit dan Pupuk Organik Padat dicampur kemudian ditebar merata ke lahan semai. Diamkan lahan ± 7 hari sebelum benih ditebar sambil kondisi air dijaga tetap macak-macak. Pemeliharaan bibit di lahan semai dengan penyemprotan Pupuk Organik Cair umur 7 HSS, 14 HSS, dosis 2 cc/liter dan diaplikasikan pagi jam 07.00-10.00, atau sore jam 14.00-16.30. Jaga kondisi lahan semaian macak-macak (ketinggian air ± 1 cm) untuk pesemaian basah. Bibit siap dipindah tanam pada umur 18 HSS. Pengolahan Lahan Pengolahan tanah dengan dosis pupuk dasar untuk luas lahan 1000 m² ada pada tabel. Luku garu I, kondisi air macak-macak (pintu keluar dan masuk air ditutup). Diamkan ± 1 minggu sebelum tanam, jaga kondisi air macak-macak. Luku garu II dilakukan 2 – 3 hari sebelum tanam dan lahan siap ditanami. Penanaman dan Pemeliharaan Bibit padi siap tanam di lahan ketika umur bibit 18 HSS. Per titik tanam 3 bibit dengan jarak tanam (20 x 25) cm atau jarak tanam (25 x 25) cm antar baris 3 titik tanam, dengan jarak dalam baris 12,5 cm, dan legowo 50 cm. Penyulaman dilakukan sampai tanaman umur 14 HST. Penyemprotan Pupuk Organik Cair umur 7, 17, 27, 37, 47, 57 HST, dengan dosis 30 cc/tangki (14 liter) dan aplikasi dilakukan pagi jam 07.00, atau sore jam 14.00-16.30. Penyiangan dilakukan sebelum pemupukan dengan melihat kondisi gulma dilapangan.Penyulaman dilakukan sampai tanaman umur 14 HST. Penyemprotan Pupuk Organik Cair umur 7, 17, 27, 37, 47, 57 HST, dengan dosis 30 cc/tangki (14 liter) dan aplikasi dilakukan pagi jam 07.00, atau sore jam 14.00-16.30. Pengendalian HPT menggunakan insektisida, fungisida, bakterisida. Dosis menyesuaikan kondisi lapangan / serangan hama dan penyakit terhadap tanaman. Aplikasi pagi jam 07.00-10.00, atau sore jam 14.00-16.30.Penyiangan dilakukan sebelum pemupukan dengan melihat kondisi gulma dilapangan. Pemupukan susulan I umur 21 HST, susulan II umur 35 HST dengan dosis pupuk untuk luas lahan 1000 m ² ada pada tabel 1. Pengairan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan tanaman. Pada saat pengisian malai kebutuhan air lebih banyak. Tabel 1. Dosis pemupukan padi (luas lahan 1000 m²)Jenis pupuk Dosis pupuk (kg) Total(kg) Dasar Susulan 1(21 HST) Susulan 2(35 HST) Soil treatmen 5 – – 5Urea 1 1,5 1,5 4NPK 7,5 11,25 11,25 30Dolomit 8,5 – – 8,5Pupuk Organik Padat 0,5 0,5 – 1Pupuk Organik CairAplikasi secara semprot dosis 2 cc/L pada umur 7,17,27,37,47,57 HST 0,5 LCatatan:Dalam budidaya, kondisi air dipertahankan tetap macak-macak.Tidak boleh ada air keluar dari lahan.Penyemprotan hama dan penyakit disesuaikan dengan kondisi lapangan.HST = hari setelah tanam.HSS = hari setelah semai.HPT = Hama Penyakit Tanaman. PanenPanen harus memperhatikan waktu yang tepat karena akan mempengaruhi kualitas padi dan beras. Syarat-syarat panen : 90 – 95 % gabah dari malai tampak kuning, Malai berumur 30 – 35 hari setelah berbunga merata., Kadar air gabah 22 – 26 % yang diukur dengan moisture tester. Jadi mudahkan untuk budidaya padi beras merah, mudah dan menguntungkan. Oleh : Pipiet Hardyansari, SPt. (THL TB PP)