BERCOCOK TANAM BUNCIS (Fananö Buncis) I. Pendahuluan Aceh/Nias Livelihoods Recovery Program Round-II adalah proyek dengan kegiatan pokok melakukan rehabilitasi jaringan irigasi dan meningkatkan pemanfaatan lahan pertanian guna tercapainya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat petani di wilayah proyek. Lokasi proyek berada di Kabupaten Nias dan Nias Selatan Provinsi Sumatera Utara. Dalam pelaksanaannya Proyek Aceh/Nias Livelihoods Recovery Program Round-II disampaing pengingkatan/rehabilitasi jariringan irigasi dan peningkatan produksi tanaman pangan juga melaksakan pengembangan tanaman hortikultura, salah satunya pengembangan tanaman buncis melalui pembuatan demplot di lahan petani. Tanaman buncis mempunyai arti penting karena dapat sebagai sumber asupan serat dan gizi yang sangat diperlukan oleh keluarga karena mengandung vitamin dan mineral, terutama vitamin B, dan vitamin C. Tanaman kacang buncis akan berhasil dengan baik apabila ditanam di daerah pegunungan dengan ketinggian 1000 - 1500 meter di atas permukaan laut. Akan tetapi kacang buncis dapat juga diusahakan pada daerah dengan ketinggian 500 - 600 meter di atas permukaan laut atau pada dataran rendah. Tanaman ini memerlukan masa kering untuk pertumbuhan polongnya. Karena itu biji harus ditanam pada akhir musim hujan sehingga pada permulaan musim kemarau telah mulai terjadi pembentukan buah. II. CARA BERTANAM (Cara Mananö) 1. Penyiapan Lahan (Fama'anö Danö) Tanah yang sesuai adalah lempung ringan, atau gembur, mudah diolah (tidak padat) dan drainasenya baik. Tahapan dalam pengolahan tanah adalah sebagai berikut : a) Tanah diolah dengan cangkul atau bajak baik bajak hewan maupun traktor sebanyak 2 kali agar tanah menjadi gembur. b) Pemberian pupuk organik yang dibenamkan pada waktu membajak tanah sangat menguntungkan bagi pertum¬buhan tanaman, tetapi dapat juga diberikan pada tiap lubang sebanyak 1 kg/lubang setelah pembuatan bedeng. c) Pada waktu pengolahan tanah yang kedua sekaligus dibuat bedengan dengan ukuran lebar 2,4 m x 3.0 m atau panjangnya disesuaikan dengan keinginan dan kedalaman drainase lebih kurang 30 cm. (lihat gambar) d) Bedeng sebaiknya searah timur - barat e) Biarkan tanah yang telah siap bedeng selama lebih kurang seminggu, guna memudahkan pencabyutan rumput yang tumbuh setelah pembuatan bedeng 2. Penanaman(Fananö) a) Kacang buncis ditanam dengan bijinya secara langsung, langkah-langkah penanaman adalah sebagai berikut : b) Rendam benih + 12 jam sebelum ditanam agar perkecambahan menjadi mudah. c) Jarak tanam yang dipakai adalah 60 cm x 30 cm atau 70 cm x 25 cm d) Tiap lubang diisi dengan 2 - 3 biji. Untuk seluas 1 ha diperlukan + 80 - 100 kg biji. Kemudian lubang ditutup dengan tanah lebih baik dengan pupuk organi, jangan terlalu tebal karena akan susah perkecambahan e) Setelah seminggu, biji-biji kacang buncis telah berkecambah. Setelah 2 minggu dipilih sisakan hanya 2 batang yang baik pertumbuhannya, hal ini perlu untuk mendapatkan pertumbuhan yang lebih baik f) Setelah mencapai tinggi 15 cm perlu dipasang tiang ajir (turus) dari belahan bambu atau kayu kecil yang agak lurus. Ada beberapa macam jenis ajir tergantung pada keinginan kita, antara lain berbentuk piramid (kerucut), bentuk A atau bentuk segi 4 (empat). Ujung ajir tersebut diikat menjadi satu kemudian dibubungkan antara satu ajir dengan ajir yang lainnya dalam satu bendengan sehingga menjadi kuat dan tahan tiupan angin kencang serta rapi dan teratur. Selanjutnya tanaman buncis tersebut diatur supaya merambat pada turus. 3. Penyiangan (Fanese) Penyiangan sangat diperlukan untuk mencegah pertumbuhan rumput atau gulma pada areal pertanaman. Gulma atau rumput ini menjadi pesaing dalam pengam¬bilan hara dari dalam tanah. Penyiangan dilakukan bersama dengan pendangiran (penggemburan lahan) sambil pembetulan guludan (bedengan) yang rusak. III. PEMELIHARAAN TANAMAN (Fangehao Tanömö) Agar didapat hasil yang memuaskan kita harus memelihara tanaman sejak dari awal hingga masa panen. Hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan tanaman adalah: 1. Pemupukan(Famupu) Jumlah pupuk yang diberikan pada tiap-tiap macam tanah adala sebagai berikut : - Tanah berpasir, urea sebanyak 50 kg/ha, SP-36 100 kg/ha dan KCl 100 kg/ha. - Pada tanah yang lain, Urea 50 kg/ha, SP36 100 kg/ha dan KCl 50 kg/ha. Pupuk diberikan dalam lubang dengan cara menugal dengan jarak 5 - 10 dari batang tanam dan kedalaman 5 - 10 cm. Untuk tanah yang tandus dapat diberikan pupuk kandang sebanyak l0 ton/ha atau pupuk urea 100 kg/ha, TSP 300 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha. Pupuk urea diberikan setengah takaran pada saat tanam dan sisa diberikan setelah penyiangan pertama. 2. Pemberantasan hama-penyakit (Famunu Hama ba Fökhö) Hama penyakit berbahaya yang menyerang tanaman kacang buncis hampir sama dengan tanaman kacang panjang yakni : 1. Lalat (Ngalö-ngalö) Hama ini biasa menyerang pangkal batang hingga daun-daunnya menguning. Serangan terjadi pada awal pertumbuhan hingga tanaman berumur sekitar 3 minggu. Pencegahannya dengan penyemprotan Basudin atau Bayrusil 25% EC, konsentrasi 0,2 - 0,3% yang dilakukan seminggu sekali selama 3 kali berturut-turut. Atau pemberian Furadan 3 G pada waktu tanam. 2. Penggerek batang dan polong. Hama ini merusak polong. Polong lebih banyak menyerangan adalah larvanya. Pada polong muda bijinya dimakan danakan tampak lubang-lubang bundar kecil. Pada polong tua akan tampak bercak-bercak hitam dan di dalamnya terdapat ulat hijau beserta kotorannya. Pemberantasannya dengan penyemprotan Tamaron atau Bayrusil 0,2% pada saat bunga mekar. 3. Kepik polong Hama ini juga menyerang polong dan menghisap isinya. Apabila polong yang diserang telah berisi akan tampak bintik - ¬bintik hitam, dan jika polong tersebut dibuka akan tampak biji kehitam-hitaman, kosong, dan gepeng. Pemberantasan hama ini sama dengan penggerek polong, jadi bisa sekaligus dengan penggerek polong. 4. Nematoda Merupakan cacing yang amat kecil, hidup terutama dalam lapisan atas dan meletakkan telurnya pada permukaan akar kacang. Setelah telur-telurnya menetas, Nematoda ini masuk ke dalam akar dan jaringan jaringan tanaman lainnya kemudia jaringan tersebut dirusak dan membengkak. Nematoda sangat sukar sekalidiberantas, cara terbaik untuk mengatasi hama ini ialah dengan rotasi (giliran) tanaman. Pemberian Furadan 3 G bersamaan pemberian pupuk kandang pada saat sebelum tanam menjadi sangat efektif. b. Semut geni Pada umumnya kerusakan tanaman tidak disebabkan karena dimakan semut geni, tetapi karena keracunan yang ditim¬bulkan melalui ludahnya. Beberapa jenis semut membantu perkem¬bangan berbagai kutu yang menjadi hama tanaman. Semut ini biasanya memanfaatkan cairan gula/madu yang dikeluarkan oleh kutu-kutu tersebut. Pemberantasannya/pengendaliannya dapat disiram dengan insektisida Tamaron ke tanah di sekitar akar tanaman. c. Siput Biasa menyerang tanaman pada malam hari. Pemberantasan dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut: Umpan racun yang terdiri dari 50 gram metaldehyde dicampur dengan 1 kg dedak basah dan disebar merata atau ditaruh di tempat-tempat tertentu dengan jarak 50 cm, atau dengan menabur abu sekam atau abu dapur di sekitar tanaman untuk pencencegahan Pengendalian dapat juga dilakukan dengan meletakkan potongan-potongan tanaman yang disukai oleh siput seperti batang pepaya, siput akan datang memakannya sehingga mudah dipungut dan disingkirkan ketempat lain. 3. Pemberantasan Penyakit (Famunu Wökhö) Penyakit yang sering menyerang tanaman di antaranya: 1. Penyakit Layu (Fökhö wa'aleu). Penyakit ini disebabkan oleh cendawan atau jamur. Serangan akan timbul bila kelembaban tinggi dan pertanaman terlalu rapat. Gejala serangan telah tampak pada tanaman yang berumur 2-3 minggu, di mana tanaman yang terserang akan membusuk pada pangkal batang atau jaringan dalam batang dan kemudian mati. Pencegahannya dengan menyemprot fungisida Dithane M-45. pada tanaman yang terserang dan pada saat persiapan lahan atau mengolah tanah, pemberian mulsa untuk menaikkan suhu tanah, pemakaian kapur pertanian. Tanaman yang sudah terserang harus dibakar agar tidak tertular pada tanaman lain. Penyakit ini sangat mudah tertular melalui air dan udara. 2. Penyakit Antracnose) yang menyebabkan bercak buah hingga mutunya rendah. Penyakit ini disebabkan oleh jamur dan dapat dikendalikan dengan penyem¬protan larutan Benlate atau Dithane M-45 konsentrasi 0,2-0,3%. 3. Penyakit virus mosaik (belang atau keriting) sulit diatasi, namun dapat dicegah dengan memberantas serangga pembawa (vektor) yaitu kutu hitam yang sering berkerumun pada daun muda. Dengan menggunakan biji yang bebas dari penyakit akan memperkecil kemungkinan timbulnya penyakit virus tersebut. 4. Penyakit Sapu (Fökhö Gezoi). Penyakit sapu disebabkan oleh virus kutu. Penyakit ini timbul pada waktu tanaman masih muda sebelum tanaman berbunga. Tanaman yang terserang banyak tunas pada satu mata, pendek, bercabang-cabang seperti sapu, dan bunga menjadi daun-daun kecil. Hanya dapat diatasi dengan menanam varietas yang resisten. 5. Penyakit Antracnose, Penyakit Sapu dan Virus mosaik dapat dikendalikan dengan menanam tanaman perangkap yaitu dengan tanaman yang berwarna cerah seperti bunga matahari, tanaman ini dapat menarik/memikat viktor (penyebab) penyakit hinggap atau bersarang di tempat tersebut sehingga tidak menyerang tanaman. Dalam hal hama dan penyakit, lebih baik mencegah dari ada memberantas apabila telah terserang hama dan penyakit IV. PANEN (Famasi) Apabila suhu udara sangat tinggi akan menyebabkan gugur bunga atau buahnya menjadi pendek dan membengkok dengan sedikit berisi biji. Hal ini disebabkan karena terbentuknya tepung sari yang kurang sanggup mengadakan proses pembuahan bunga secara tepat. Jika keadaan cuaca selama pertumbuhan tanaman baik, maka kacang buncis dapat dipungut hasilnya lebih cepat. Biasanya pada umur 2 - 2,5 bulan tanaman tersebut sudah dapat dipungut hasilnya 4 - 5 kali dengan selang waktu panen 5 - 7 hari. Kacang buncis dipungut hasilnya selagi buahnya masih muda karena lebih baik untuk sayuran, sedangkan buah yang sudah tua menjadi keras dan berserat. (Aceh/Nias Livelihoods Ricovery Program Round - II / BKPPP Kab. Nias)